Adanya pembatasan aktivitas diluar rumah, membuat peluang peminat ayam hias meningkat
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Ayam hias merupakan sebutan untuk ayam yang memiliki keunikan, keunggulan atau kelebihan, juga eksotisme tersendiri, baik jika dilihat dari fisik atau tampilan, perilaku, hingga suara yang dikeluarkan. Sebagian orang menyebut ayam hias ini dengan sebutan ayam hobi, ayam tangkas, atau juga ayam kontes. Di luar negeri sendiri ayam hias ini biasanya disebut dengan fancy chicken atau ornamental chicken.

Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke ini ternyata memiliki banyak sekali kekayaan, salah satunya berupa ayam hias yang memiliki sejuta keistimewaan.

Berdasarkan tampilan dan peruntukannya, ayam hias dapat dikategorikan dalam beberapa kategori. Pertama, ayam unik yang dinikmati suaranya seperti ayam bekisar, ayam ketawa, ayam pelung, dan ayam kokok balenggek. Jenis ayam ini merupakan ayam yang sering mengikuti berbagai kontes. Kedua adalah ayam yang memiliki keunikan dari segi bentuk dan tampilannya, seperti ayam kate, dan ayam ekor panjang. Ketiga adalah ayam yang memiliki keunikan dari segi eksotisnya warna bulu, contoh tipe ini adalah ayam cemani dan ayam pheasant. Keempat adalah ayam yang memiliki keunikan dari perilakunya, seperti ayam hutan.
Perkembangan ayam hias
Berbicara tentang perkembangan ayam hias, semua narasumber yang Poultry Indonesia wawancarai mengatakan bahwa ayam hias mengalami perkembangan yang baik dan cukup signifikan. Jika dilihat dari pertumbuhan, dari tahun ke tahun mengalami kenaikan, baik dari jumlah penghobinya, jumlah anggota di komunitas, sampai jumlah permintaan akan ayam hias yang terus bertambah.
Menurut salah satu penghobi ayam ketawa asal Bekasi yang juga anggota komunitas P3AKSI (Persatuan Penggemar dan Pelestari Ayam Ketawa Seluruh Indonesia), Asep Purnama mengatakan bahwa sejak kiprahnya beternak ayam ketawa dari tahun 2010, ayam ketawa perkembangannya sangat pesat.
Menurut Asep, ayam yang berasal dari Sidrap, Sulawesi Selatan ini banyak dipelihara karena keunikan suara kokoknya yang menyerupai orang ketawa. Suara yang dikeluarkan pun bervariasi ada yang seperti musik slow, seperti musik dangdut, seperti musik disko atau orang biasa menyebutnya suara ‘gretek’ atau ‘ngekek’, hingga seperti suara ‘lampir’ atau ‘kunti’.
Sementara itu untuk kontes sendiri secara umum kokok ayam ketawa dikatakan bagus atau berkualitas bila memenuhi unsur 7M. Istilah 7M tersebut adalah Malibbu (bulat), Malappa (senggang/lambat), Mattutu (berpenutup), Mappacing (bersih), Maloga (powerfull), Mattete (stabil), dan Makareso (pekerja keras/rajin).
Asep mengatakan untuk harga ayam ketawa sendiri bervariasi, tergantung dari umur hingga jenis suara. Umur 1-2 bulan harganya berkisar antara Rp150.000-300.000 per ekor untuk jenis gretek, dangdut dan ayam standar. Untuk jenis suara slow atau durasi, umur 1-2 bulan harga dikisaran Rp500.000-1.000.000 per ekor sesuai kualitas indukannya dan untuk usia remaja sampai dewasa sesuai kualitas suaranya, jenis gretek hanya berkisar antara Rp350.000-Rp500.000. Jenis dangdut berkisar antara Rp700.000-1.000.000 per ekor, dan suara slow berada di kisaran harga Rp1.500.000 – 2.500.000 per ekor.
Selain Asep, ada Adri Fadrian yakni seorang penghobi ayam bekisar yang Poultry Indonesia temui di kediamanannya di Cibubur, Sabtu (9/1). Adri mengatakan bahwa Indonesia mempunyai warisan leluhur yang harus terus dikembangkan, salah satunya adalah ayam bekisar. Berawal dari hobi ayahnya yang memang sudah lama sebagai penghobi ayam bekisar sejak tahun 1990, ia sudah senang dengan ayam bekisar. Bahkan ia sudah sering ikut kontes dan memenangkan berbagai penghargaan, salah satunya ia pernah memenangkan piala Gubernur DKI Tahun 2020 bersama ayam bekisar kesayangannya.
Baca Juga: Farmsco Gelar Webinar Ayam Lokal Indonesia
Menurutnya, bekisar merupakan warisan bangsa yang hanya dimiliki oleh Indonesia, dan di negara lain tidak ada. Malah terdapat isu bahwa negara tetangga Malaysia mau mengklaim ayam bekisar sebagai ayam asli negaranya. Hal ini yang ia sayangkan jika benar terjadi. Selain itu Adri mengatakan perbedaan ayam bekisar dengan ayam hias dan ayam lokal lainnya, yaitu ayam bekisar hanya mempunya satu pial. Terlebih ayam bekisar ini memiliki warna yang berbeda-beda, antara yang satu dengan lainnya tidak ada yang persis sama.
Adri juga melihat bahwa perkembangan ayam bekisar dari tahun ke tahun memiliki tren yang terus meningkat. Ayam yang dulunya hanya berharga ratusan ribu sekarang sudah bisa mencapai Rp40-50 juta per ekor. Untuk peminatnya pun Adri mengatakan bahwa semakin banyak terlebih para pengusaha besar. Para penghobi terbesarnya berada di daerah Jawa Timur seperti Surabaya, Trenggalek, Bangkalan, Sumenep, dan Pamekasan. Selain di daerah tersebut penghobinya juga tersebar di berbagai wilayah, terutama Jabodetabek.
Di tempat berbeda, Khoirul Fadli selaku pemilik Peternakan Ayam Hias di Klaten, Jawa Tengah ketika ditemui Poultry Indonesia, Selasa (12/01), menjelaskan awal mula ketertarikannya dengan komoditas ayam hias karena memang sejak awal ia fokus sebagai penghobi dan mengaku senang lantaran dengan hobi tersebut ternyata dapat dibawanya ke ranah bisnis.
Khoirul Fadli memiliki berbagai macam ayam hias, baik ayam hias asli Indonesia dan juga ayam hias impor, dengan jumlah sekitar 50 ekor indukan. Ia mengakui bahwa perkembangan ayam hias dari tahun ke tahun justru semakin meningkat. Dari segi ekonomi misalnya, ia menjelaskan bahwa dari tahun ke tahun seiring dengan bertambahnya penghobi, harga ayam hias tersebut semakin naik dan menguntungkan. Ia juga menjelaskan bahwa dengan bisnisnya ini, ia bisa mengirimkan ayam hiasnya ke seluruh Indonesia. Peminat ayam hias berasal dari Jakarta, Surabaya, dan DIY, selebihnya di luar Pulau Jawa seperti Sumatra.
Berdasarkan pengalamannya, harga ayam hias cenderung disesuaikan dengan masing-masing jenis ayam. Mengenai persoalan bibit, ia mengaku lebih mudah karena selain sekarang melakukan pembibitan sendiri, ia juga tidak kesulitan mendapatkan bibit karena sudah banyak yang kenal dan mengikuti berbagai komunitas. Ia mengaku pernah menjadi kontestan dan pernah menjadi juara kontes ayam hias se-DIY.
Senada dengan Khoirul, Muhamad Rofiq, peternak ayam hias asal Sidoarjo, Jawa Timur ketika ditemui wartawan Poultry Indonesia, Selasa (19/1), mengungkapkan peternakan ayam hias menjadi peternakan yang prospektif karena dari harga jual yang bagus serta tidak membutuhkan ruang pemeliharaan yang luas. Ia sendiri menggeluti peternakan ayam hias sekitar lima tahun terakhir, yang didasari hobi beternak sejak kecil.
Muhamad Rofiq mengaku dalam pemeliharaannya seringkali ditemukan keunikan tersendiri dalam setiap jenis ayam yang ia pelihara. Keunikan itulah yang menjadikannya semakin merasa senang memelihara ayam hias, keunikan itu pula yang menjadikan tata cara pemeliharaan setiap jenis berbeda-beda. Menurutnya ada ayam yang tidak tahan udara dingin sehingga ia perlu menciptakan suasana yang hangat, ada ayam yang sifat liarnya masih melekat dan perlu penanganan khusus.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2021 dengan judul “Lebih Dekat dengan Ayam Hias”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153