Ulil Albab, Mahasiswa Fakultas Peternakan, Unsoed
Oleh : Ulil Albab*
Sebulan terakhir, penjualan telur peternak layer khususnya di Pulau Jawa masih mengalami penurunan. Kondisi tersebut diperparah lagi dengan kenaikan harga pakan, khususnya harga jagung sebagai bahan utama pakan yang naik cukup signifikan. Berbagai kondisi itulah yang membuat peternak mencoba untuk berdamai dengan keadaan dan berjibaku untuk tetap mempertahankan dan melanjutkan usahanya.

Menjadi peternak layer bukan merupakan suatu hal yang mudah untuk dilakukan.
Banyak sekali keadaan-keadaan yang tidak terduga menunggu di depan mata. Peternak
perlu melakukan adaptasi dengan setiap kejadian yang diterimanya

Penulis melihat saat diterapkannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dinilai menjadi salah satu sebab dari penurunan harga jual telur. Pembatasan jam operasional rumah makan, toko roti, dan semacamnya mengakibatkan penyerapan telur menurun serta konsumsi telur di masyarakat juga masih rendah. Penambahan jumlah peternak layer yang baru merintis usahanya, berdampak pada penambahan ketersediaan telur di tingkat peternak. Maka dari itu, ketersediaan telur cukup banyak sedangkan permintaannya terbatas.
Pemerintah seyogyanya dapat bertindak cepat dalam merespon penanganan anjloknya harga telur, mengingat yang paling berdampak ialah kalangan peternak, khususnya peternak rakyat. Pengadaan bantuan sembako mungkin perlu dilakukan kembali, karena serapan telurnya cukup banyak.
Pemerintah juga perlu meninjau kembali acuan harga yang telah ditetapkan di Permendag No. 7/2020. Hal ini dimaksudkan agar telur yang dibeli pemerintah untuk pengadaan bantuan juga bermanfaat bagi peternak karena harganya masih berada di ambang harga acuan penjualan.

Baca juga : kontribusi Mahasiswa Peternakan pada Dunia Perunggasan

Kondisi peternak layer memang tidak bisa diprediksi. Pada saat awal masa pandemi Covid-19, harga telur masih tergolong stabil. Kondisi tersebut menjadi angin segar, sehingga banyak peternak layer baru bermunculan. Lambat laun kondisinya cenderung fluktuatif, dan dampaknya sangat terasa unutk peternak. Seperti halnya fenomena belakangan ini yang terjadi di Blitar, kala seorang peternak layer “curhat” melalui posternya yang ditujukan kepada Presiden.
Banyak aspek yang memengaruhi tingkat produksi ternak seperti pakan, kesehatan, perkandangan, bibit, dan sebagainya. Dengan pola manajemen yang baik, maka produksi yang dihasilkan pun akan berjalan dengan baik. Pakan menjadi salah satu komponen utama dalam manajemen pemeliharaan layer. Biaya untuk pembelian pakan memiliki presentase yang paling tinggi dalam biaya operasional usaha. Maka dari itu, Harga Pokok Produksi (HPP) sangat dipengaruhi oleh harga pakan. Jika harga pakan tinggi, otomatis HPP seharusnya naik.
Kondisi saat ini malah justru sebaliknya, yang membuat banyak peternak kelimpungan. Selain itu, manajemen kesehatan perlu diterapkan dengan baik supaya ternak yang dipelihara sehat dan produktif. Layer yang umumnya menggunakan kandang baterai, dimana ayam tersebut menghabiskan sebagian besar hidupnya di dalam kandang dengan ruang yang terbatas tentunya memiliki tingkat stres yang cukup tinggi. Kondisi kebersihan kandang juga harus dijaga supaya ayam tetap merasa nyaman dan meminimalisir kontaminasi penyakit.
Kandang baterai beberapa tahun ke belakang sempat menjadi polemik dan kontroversial. Animal Friends Jogja (AFJ) sempat mengecam pola pemeliharaan layer dengan sistem kandang baterai. Hal tersebut dikarenakan ayam yang dikandangkan dengan ruang yang sempit akan sulit bergerak dan melakukan kebiasaan alaminya. Selain itu, kondisi kesehatan dan tingkat stres pada ayam dianggap dapat menurun apabila ayam dilepaskan dari kandang. Beberapa perusahaan internasional seperti Nestle, Unilever, dan Burger King pun turut serta dalam kampanye pelarangan penggunaan kandang baterai. Namun memang perlu dilihat lagi kesiapan pasar Indonesia yang harus dikaji lebih dalam.
Menjadi peternak layer bukan merupakan suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Banyak sekali keadaan yang tidak terduga menunggu di depan mata. Peternak perlu melakukan adaptasi dengan setiap kejadian yang diterimanya. Sinergitas pun perlu dilakukan dari berbagai pihak, baik di kalangan pemerintah, peternak, pedagang, sampai ke konsumen akhir. Di tengah ketidakpastian soal kondisi harga telur saat ini, harapannya harga jual telur dapat kembali stabil supaya peternak dapat bernafas lega barang sejenak serta mendapat apresiasi atas hasil kerja kerasnya. *Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman