Kenaikan harga pakan, membuat HPP peternak layer naik
Oleh : M. Domi Sattyananda, S.Pt*
Budi daya ayam ras petelur memang menjadi salah satu unggulan dalam pemenuhan konsumsi protein hewani masyarakat. Hal tersebut terlihat dari grafik penjualan harga di tingkat peternak yang cukup stabil walaupun sempat diterjang pandemi global COVID-19. Bahkan, konsumsi telur mengalami kenaikan di tengah pandemi, karena telur merupakan salah satu bahan pangan yang sangat mudah didapatkan, bisa tahan disimpan dalam waktu yang cukup lama, mudah diolah menjadi berbagai macam makanan, dan juga memiliki harga yang relatif terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat. Di samping potensi konsumsi yang tinggi, para peternak jelas akan berhadapan dengan banyak sekali tantangan lapangan dalam mendapatkan keuntungan. Salah satu di antaranya adalah bagaimana peternak dapat memaksimalkan pakan yang digunakan dalam kegiatan budi daya.

Biaya pakan merupakan salah satu biaya yang sangat menentukan seberapa besar pendapatan yang akan didapat oleh peternak. Maka, perlu adanya usaha peningkatan utilitas dari bahan pakan, sekaligus menghitung kembali biaya yang terkandung dalam bahan pakan tersebut.

Dalam kegiatan budi daya ayam petelur, banyak sekali faktor yang dapat memengaruhi penampilan produksi ternak. Apalagi ayam petelur merupakan ternak yang termasuk ke dalam kategori budi daya dengan risiko tinggi jika dibandingkan dengan broiler. Hal itu karena dipelihara dalam waktu yang panjang, ditempatkan dalam satu flock yang sama, bahkan semasa hidupnya hanya berdiam di kandang baterai sehingga pergerakan tubuhnya sangat terbatas. Oleh karena itu, untuk memastikan ternak tersebut dapat memberikan performa yang optimal, pemberian input produksi berupa pakan, air minum, dan obat-obatan kepada ternak harus sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan.
Nutrisionis saat ini harus berpikir bagaimana menemukan racikan yang tepat antara nutrien dengan harga dari bahan pakan yang digunakan. Jika ingin melihat secara holistik berapa keuntungan yang dimiliki oleh suatu peternakan ayam ras petelur, maka biasanya rumus yang digunakan adalah pendapatan dikurangi biaya produksi. Oleh karenanya, pendapatan dari suatu peternakan ayam ras petelur itu bergantung pada berapa banyak telur yang dihasilkan per ekor ayam (hen house production). Pendapatan dari kegiatan budi daya ayam petelur juga dipengaruhi oleh tingkat mortalitas. Semakin banyak angka mortalitas, maka semakin sedikit pula telur yang diproduksi. Pendapatan usaha budi daya ayam ras petelur juga bergantung pada kualitas dari telur yang dihasilkan. Ketika telur yang dihasilkan itu memiliki kualitas yang kurang baik seperti telur yang pecah, retak, double yolk, dan sebagainya, maka otomatis akan mengurangi pendapatan.
Biaya produksi yang dikeluarkan oleh usaha peternakan ayam ras petelur sangat bergantung dari biaya pakan yang dikeluarkan oleh peternak. Hal ini disampaikan oleh Prof. Budi Tangendjadja saat menjadi panelis dalam webinar yang diselenggarakan oleh United States Soybean Export Council dengan judul ‘Precision Animal Nutrition & Feed Formulation Webinar’ melalui aplikasi Zoom, Kamis (25/3).
“Biaya pakan adalah berapa biaya formula yang disusun oleh formulator pakan dikalikan dengan konsumsi pakan (feed intake). Karena konsumsi pakan sangat dipengaruhi oleh lokasi, maka kandang yang berbeda lokasi antara satu dengan lainnya biasanya memiliki perbedaan dalam jumlah konsumsi pakan. Oleh karena itu, penting bagi para pelaku usaha budi daya untuk menghitung berapa konsumsi harian dari ternak,” jelas Budi Tangendjaja.
Biaya pakan juga bergantung pada biaya bahan pakan yang disusun dalam satu formulasi ransum. Jadi bahan pakan yang digunakan akan sangat memengaruhi biaya dari kegiatan budi daya ayam ras petelur terutama jika kegiatan budi daya tersebut menggunakan metode self mixing. Untuk memaksimalkan biaya pakan, caranya yaitu dengan mempersiapkan pullet yang baik dalam kegiatan budi daya jika memang menggunakan metode membeli pullet. Akan tetapi, jika ayam yang digunakan dari budi daya tersebut menggunakan bibit ayam yang dipelihara dari DOC, tentu bisa dijaga sedemikian rupa agar ayam tersebut dapat menghasilkan produksi yang maksimal.
Saat ini harga bahan pakan yang biasa digunakan dalam formulasi ransum sedang dalam fase stabil tinggi. Menurut Budi, bahan pakan yang dominan digunakan dalam formulasi ransum adalah jagung dan bungkil kedelai, sedangkan harga bahan pakan tersebut sedang mengalami kenaikan di berbagai negara produsen.
Baca Juga: Meningkatkan Efisien Layer Melalui Formulasi Pakan
“Untuk menanggulangi harga bahan pakan yang amat fluktuatif, nutrisionis perlu menghitung biaya nutrien yang terkandung dalam bahan pakan sehingga jika dikaitkan dengan bahan pakan seperti jagung yang merupakan sumber energi dan bungkil kedelai sebagai sumber protein, harus menghitung sampai ke kandungan energi dari jagung dan protein dari bungkil kedelai,” katanya.
Saat ini para nutrisionis cenderung tidak terlalu mempertimbangkan harga dari kandungan protein yang terkandung dalam pakan, tetapi lebih fokus pada biaya asam amino yang terkandung dalam pakan. Sehingga menurut Budi, semakin hari semakin banyak perusahaan yang mulai meningkatkan utilisasi dari asam amino karena harga dari bungkil kedelai dunia yang melambung sangat tinggi.
Bahan pakan yang digunakan dalam formulasi ransum dengan biaya yang tinggi saat ini adalah sumber energi. Menurut Budi hal tersebut dikarenakan saat ini harga jagung dunia berada di angka yang cukup tinggi, juga dalam waktu yang bersamaan harga minyak untuk pakan juga cukup tinggi. Biaya bahan pakan yang tinggi selanjutnya diikuti oleh digestable amino acid. “Maka ada dua pilihan, apakah akan mengambil intake protein dari kandungan bahan pakan tersebut, atau menggunakan crystalline amino acid dalam ransum pakan ayam ras petelur,” ucapnya.
Berdasarkan hasil pantauan lapangan yang dipaparkan oleh Budi Tangendjadja, protein yang tidak terlalu tinggi ternyata dapat diaplikasikan ke dalam formulasi ransum dari ayam petelur. Penggunaan protein dalam ransum ayam ras petelur biasanya berada di angka 18%, namun ternyata dalam aplikasi lapangan yang sudah teruji, Budi menegaskan penggunaan protein dalam pakan bisa diturunkan hingga 14%.
“Tidak ada perbedaan yang signifikan antara penggunaan kadar protein tinggi, maupun rendah. Hanya saja dalam uji lapang perbedaan yang terlihat yaitu ukuran telur antara protein tinggi dan protein rendah. Pakan dengan penggunaan protein yang rendah cenderung lebih kecil 1-2 gram dibanding dengan pakan dengan penggunaan protein yang tinggi,” jelas Budi.
Perbedaan penggunaan kandungan protein tidak memengaruhi massa telur, feed intake dan FCR. Sehingga sangat mungkin jika formulasi pakan tersebut menekan penggunaan tingkat protein hingga 14-16%. Namun harus tetap menambahkan asam amino sintetik dalam formulasi ransum untuk menambah nutrisi dalam ransum.
Keuntungan lain dalam penggunaan ransum rendah protein yaitu rendahnya non digestible protein yang keluar dalam bentuk feses. Protein yang tidak tercerna akan keluar bersama dengan feses berupa nitrogen dalam asam urat. Data yang ditunjukkan oleh Budi memang terlihat penurunan asam urat dalam feses ketika menggunakan pakan yang rendah protein. Dampaknya, tentu akan mengurangi tingkat amonia yang terkandung dalam kandang.
Tabel 1. Tabel rekomendasi nutrisi untuk layer fase growing
Nutrient
 Units  
 
Starter
0 – 6 wks
Grower
6 – 12 wks
Developer
12 – 15 wks
Pre-Layer
15 wks – Prod.
Protein
 %
Min
20.0
17.50
15.50
16.50
Metabolisable Energy
 Mj/Kg
 
11.5-12.4
11.5-12.6
11.3-12.4
11.4-12.4
Metabolisable Energy
 Kcal/Kg
 
  2750-2970
  2750-3025
  2700-2970
2725-2980
 Kcal/Lb
 
1250-1350
1250-1370
1225-1350
1235-1350
Lysine
 %
Min
1.10
0.90
0.66
0.80
Methionine
 %
Min
0.48
0.41
0.32
0.38
Methionine + Cystine
 %
Min
0.82
0.71
0.58
0.65
Tryptophan
 %
Min
0.20
0.19
0.18
0.19
Threonine
 %
Min
0.73
0.55
0.52
0.55
Calcium
 %
Min
1.00
1.00
1.00
2.75*
Av Phosphorus
 %
Min
0.45
0.43
0.42
0.40
Sodium
 %
Min
0.18
0.18
0.18
0.18
Chloride
 %
Min
0.18
0.18
0.18
0.18
Sumber : www.poultryhub.org
Tabel 2. Tabel rekomendasi nutrisi untuk layer berbagai umur
Nutrients
Units
1-32 wks
32-44 wks
44-55 wks
> 55 wks
Metabolisable Energy
MJ/kg
11.60-11.97
11.41-11.97
11.20-11.97
10.68-11.83
kcal/kg
2770-2860
2725-2860
2675-2860
2550-2825
Crude protein
 %
19.80
17.50
17.00
16.00
Lysine
 %
1.02
0.93
0.89
0.83
Methionine
 %
0.51
0.46
0.41
0.38
Linoleic acid
 %
1.10
1.60
1.60
1.60
Calcium
 %
4.40
4.25
4.50
4.75
Av.phosphorous
 %
0.48
0.40
0.36
0.35
Sumber : www.poultryhub.org
Dalam Tabel 1 dan 2 dapat terlihat rekomendasi nutrisi untuk pakan layer dan memang terlihat penggunaan protein berada pada kisaran 16-19%. Untuk periode growing, penggunaan protein yang tinggi akan membantu meningkatkan kualitas dari berbagai macam parameter target dari ayam grower. Namun jika melihat harga bungkil kedelai dunia yang terlalu tinggi memang sepertinya mau tidak mau harus menyesuaikan dengan kemampuan dari setiap peternak. Namun yang paling bisa ditekan penggunaan kedelai dalam pakan adalah pada fase produksi, karena seperti yang sudah dijelaksan bahwa pemberian pakan dengan kadar protein rendah tidak berpengaruh banyak terhadap output berupa telur dari peternak. *Wartawan Poultry Indoenesia