Oleh : Dr. Muhsin Al Anas
Bahan pangan sumber protein hewani apa yang sering Anda temukan? Anda tentu akan sepakat apabila daging dan telur ayam menjadi jawaban. Memang kenyataannya industri perunggasan memiliki peran strategis dalam menyediakan kebutuhan pangan sumber protein hewani. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dan Badan Pusat Statistik (2021), jumlah konsumsi daging ayam ras mencapai 10,10 kg/kapita/tahun (2020) dan untuk telur ayam ras sebanyak 18,35 kg/kapita/tahun (2020).

Perguruan tinggi memiliki andil besar dalam menyiapkan SDM unggul untuk mengembangkan industri perunggasan menjadi lebih baik dan berdaya saing global.

Industri perunggasan berkontribusi besar dalam pembangunan ekonomi nasional. Laporan Center for Indonesian Policy Studies (2018) menunjukkan bahwa industri perunggasan menyerap 12 juta tenaga kerja atau 10% dari total pekerja Indonesia. Lebih dari itu, nilai ekonomi dari industri perunggasan mencapai Rp500-600 triliun atau 24% dari total nilai ekonomi sektor pertanian. Angka tersebut cukup besar mengingat sektor pertanian menyumbang 14% dari total Gross Domestic Bruto (GDP) nasional.
Secara global, produksi daging unggas terbesar adalah Amerika yakni sebesar 22,9 juta ton atau 17,39% dari total produksi dunia, diikuti oleh China dan Brasil sebesar 20,4 dan 14,1 juta ton. Sementara produksi daging unggas Indonesia 3,3 juta ton, sedangkan kebutuhan dalam negeri 2,2 juta ton (Kementan dan BPS, 2020). Meskipun Amerika menjadi negara dengan jumlah produksi daging terbesar, akan tetapi Brasil menjadi negara yang mampu melakukan ekspor daging terbesar dengan jumlah mencapai 3,9 juta ton. Saat kondisi pandemi COVID-19, Brasil mampu mengekspor 348.400 ton daging ayam untuk 180 negara. Jumlah tersebut meningkat 10% dari tahun sebelumnya (2019), bahkan ekspor daging ayam ke China mengalami pertumbuhan mencapai 59%.
Mengapa industri perunggasan Brasil begitu besar? Hasil penelitian Pereira et al. (2012) yang dimuat dalam jurnal Agriculture and Food Security dengan judul The development of Brazilian agriculture: future technological challenges and opportunities menyebutkan kunci produktivitas industri pertanian dan peternakan Brasil adalah sumber daya manusia (SDM), pengembangan inovasi dan teknologi yang didiseminasikan, serta pemanfaatan sumber daya alam yang optimal. Selain itu didukung keberadaan industri dan regulasi usaha dari pemerintah. Lalu bagaimana industri perunggasan Indonesia?
Tantangan industri perunggasan
Melihat neraca produksi dan konsumsi daging ayam, sebenarnya Indonesia mengalami surplus mencapai 1 juta ton, sehingga sangat berpeluang untuk melakukan ekspor. Akan tetapi, jumlah ekspor daging ayam Indonesia berdasarkan laporan BPS per Oktober 2019 masih rendah yakni 144,9 ton. Sedangkan estimasi Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2020 nilai ekspor mencapai 2.000 ton. Faktor utama yang menyebabkan nilai ekspor daging ayam Indonesia masih rendah adalah lemahnya penetrasi pasar global akibat industri perunggasan yang belum efisien.
Berdasarkan analisis Center for Indonesian Policy Studies (2018), breakdown biaya produksi daging ayam hingga konsumen adalah 11,6% Day Old Chick (DOC), 55,1% pakan, 11,7% manajemen pemeliharaan, dan 21,6% pemasaran. Harga pokok produksi (HPP) broiler dapat mencapai Rp17.000-19.000 per kilogram dan sangat ditentukan oleh harga DOC dan pakan.
Bahan baku utama pembuatan pakan unggas beberapa bulan terakhir juga terus mengalami peningkatan. Harga jagung bahkan mencapai Rp6.000 per kilogram, jauh diatas harga acuan dalam Permendag No. 07 Tahun 2020 sebesar Rp4.500 per kilogram. Sementara harga bungkil kedelai mencapai Rp8.000-9.000 per kilogram. Padahal penggunaan jagung dapat mencapai 40-55%, sedangkan bungkil kedelai 30-35%. Kondisi tersebut tentu akan membuat harga pakan semakin mahal. Belum lagi, permasalahan manajemen pemeliharaan yang masih lemah akibat penggunaan kandang closed house belum banyak diaplikasikan. Akibatnya, produktivitas broiler belum dicapai dengan optimal.
Baca Juga: Gubernur Jatim Apresiasi Langkah CPI dan UB Ciptakan SDM Unggul
Tantangan industri perunggasan Indonesia semakin kompleks dengan keberhasilan Brasil yang memenangkan gugatan di World Trade Organization (WTO). Hal tersebut membuat Indonesia harus membuka keran impor daging ayam dari Brasil, meskipun kita sudah sangat surplus daging ayam. Biaya produksi yang lebih efisien tentu bisa membuat daging ayam Brasil akan lebih murah.
Peningkatan efisiensi menjadi syarat wajib supaya industri perunggasan nasional dapat berdaya bersaing, termasuk dengan produk Brasil. Untuk mencapai hal tersebut, investasi dalam pembangunan SDM menjadi starting point yang harus dilakukan. *Dosen Fakultas Peternakan UGM
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2021 ini dilanjutkan pada judul “Pembangunan SDM Menjadi Kunci”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153