POULTRYINDONESIA, Kebumen – Produktivitas ternak yang masih rendah dapat ditingkatkan dengan memperbaiki mutu genetik. Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Hj. Datta Dewi Purwanti, M.S, selaku dosen Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, dalam webinar Competition Of Animal Science (COAS) 2022 yang diadakan oleh ISMAPETI Wilayah 3 via aplikasi Zoom Meeting, Rabu (3/8). Acara ini bertema “Optimalisasi Ternak Lokal untuk Kesejahteraan Peternak Rakyat”.
Menurut Ditta peningkatan mutu genetik itu dapat dilakukan dengan menerapkan manajemen pemulian ternak, yakni seleksi, sistem perkawinan, dan aplikasi bioteknologi. Menurutnya, seleksi dalam pemuliaan ternak adalah keputusan yang diambil oleh pemulia pada tiap generasi untuk menentukan ternak mana yang akan dipilih sebagai tetua pada generasi berikutnya dan mana yang akan disisihkan sehingga tidak memberikan keturunan.
Baca Juga: Peluang dan Tantangan Dunia Perunggasan
Lebih lanjut, menurut Ditta, yang perlu dihindari pada sistem perkawinan antar individu dalam satu kelompok populasi adalah terjadinya peningkatan koefisien silang dalam (inbreeding) yang cepat, khususnya jika terdapat kecurigaan terhadap peluang timbulnya sifat-sifat negatif tertentu yang merugikan.
“Namun, sejauh ini, proses pemuliaan ternak unggas tidak perlu terlalu khawatir terhadap pengaruh negatif silang dalam (inbreeding). Bahkan, silang dalam sering dimanfaatkan untuk membentuk galur tertentu yang unggul dan sangat seragam dalam waktu yang relatif singkat,” tegasnya.
Aplikasi bioteknologi dengan Single Nucleotide Polymorphism (SNP) dapat digunakan sebagai penanda genetik yang dapat membedakan karakteristik genetik yang dimiliki oleh ternak lokal di Indonesia yang kemudian dapat dijadikan sebagai strategi pengembangan dan alat bantu seleksi untuk konservasi, pembibitan, dan pegembangbiakan ternak lokal Indonesia.
Single Nucleotide Polymorphism (SNP) adalah variasi basa atau polimorfisme yang dihasilkan akibat adanya proses replikasi yang dapat membedakan satu individu dengan lainnya dan digunakan untuk identifikasi polimorfisme berdasarkan sekuens nukleotidanya menggunakan produk PCR,” pungkasnya.