Poultry Supply Shop di Filipina
Oleh : drh. Dedy Kusmanagandi*
Filipina adalah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki letak geografis strategis dan menjadi negara terdepan dalam rantai logistik di negara-negara Asia Pasifik. Walaupun negara ini memiliki lebih dari 7.000 pulau, tetapi hanya 13 pulau yang memiliki kegiatan ekonomi cukup besar, sedangkan wilayah utamanya terbagi menjadi tiga yaitu : Wilayah Luzon (Region I sampai V), Bisaya (Region VI sampai VIII), dan wilayah Mindanao (Region IX sampai XIII ).  Filipina memiliki luas daratan sekitar 343 km persegi dan garis pantai sepanjang 36.289 km (22.549 mil) yang menjadikannya negara dengan garis pantai terpanjang kelima di dunia. Dengan kekayaan alam yang dimiliki dan jumlah penduduk sekitar 113 juta orang Filipina saat ini memiliki keunggulan di sektor pertanian dan perikanan.
Selain padi dan jagung, Filipina saat ini sedang mengembangkan subsektor peternakannya. Otoritas Statistik Negara Filipina melaporkan bahwa total populasi ayam dalam negeri per tanggal 1 Oktober 2021 diperkirakan mencapai 190,74 juta ekor, dan mengalami kenaikan sebesar 2.4% dari tahun 2020 (186 juta ekor). Dari total jumlah, varian ayam lokal adalah sebesar 42.9%, ayam broiler 34%, dan ayam petelur sebanyak 23.1%. Broiler dan Layer tumbuh masing-masing 5.5 persen dan 6.3 persen, sementara ayam lokal turun -1.9 persen.
Di wilayah Luzon Tengah, dilaporkan jumlah total populasi dari ayam adalah 29.77 juta ekor, di wilayah Mindano Utara, jumlahnya mencapai 27.25 juta ekor, dan di wilayah Calabarzon jumlahnya 23,41 juta ekor. Ketiga wilayah ini menyumbang sebesar 42.2 persen dari total keseluruhan populasi ayam yang ada di dalam negeri.
Wilayah Visayas Barat adalah wilayah dengan jumlah ayam lokal dan ayam silangan tertinggi yaitu sebanyak 12.39 juta ekor. Untuk ayam broiler, jumlah tertingginya ada di wilayah Luzon Tengah dengan 14.97 juta ekor, sementara di Calabarzon adalah wilayah dengan jumlah ayam petelur tertinggi dengan jumlah 15.21 juta ekor
Menurut Philippine Statistics Authority (PSA), dari tahun 2009 hingga 2018, terdapat peningkatan sebesar 40% pada permintaan ketersediaan ayam dari 1 juta ton sampai 1.4 juta ton. PSA juga menyatakan bahwa ada 4% peningkatan di sektor produksi telur pada tahun 2020 dibandingkan dengan tahun sebelumnya – dari 583,234 MT hingga 605,78 MT. Populasi ayam petelur dalam negri juga meningkat sebanyak 4.19% dari 41.202 juta ekor menjadi 42.928 juta, pada pertengahan tahun 2021 populasi ayam petelur mencapai 61 juta ekor. Inovasi yang tengah dilakukan adalah peningkatan kualitas telur, telur segar dalam kemasan, prosesing telur menjadi berbagai produk dari telur, frozen eggs, tepung telur, dan telur organik yang dihasilkan backyard farm yang menerapkan prinsip animal welfare. Dengan semakin populernya ternak unggas beberapa peternak babi yang terkena dampak dari wabah penyakit African Swine Fever (ASF) juga mulai beralih ke produksi ternak unggas.
Di subsektor peternakan ini ada yang masih menjadi perdebatan dan menuai keberatan dari kalangan peternak, yaitu masuknya daging ayam impor dari beberapa negara yang cukup memukul budidaya lokal. Menurut statistik, pada Januari 2021, Kurang lebih sebanyak 350.000 ton daging ayam telah diimpor oleh Filipina. Total konsumsi daging ayam domestik dalam negri mencapai kurang lebih 1.71 juta ton pada tahun yang sama. Impor daging ayam tengah diupayakan hanya berupa produk yang tidak diproduksi di dalam negeri, seperti mechanically deboned meat (MDM) sehingga tidak menurunkan harga daging ayam produksi lokal. *Ketua Komite Manajemen Strategis ADHPI
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi April 2022 dengan judul “Menelaah Bisnis Obat Hewan di Filipina”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153