Studium generale FKH UB
POULTRYINDONESIA, Malang – Ada sejumlah pendekatan agar mencegah terjadinya resistensi antibiotik, salah satunya adalah dengan menjaga kesehatan saluran pencernaan. Hal ini seperti disampaikan oleh Prof.Dr.drh.  I Wayan Teguh Wibawan, MS dalam studium generale yang diadakan secara daring via zoom yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Brawijaya (UB) dengan tema “Resistensi Antimikroba dan Implementasi One Health pada Pendidikan Kedokteran Hewan” yang berlangsung pada Sabtu, (5/2).
Baca juga : Perlunya Sensus Ayam Petelur
Menurut Wayan menjaga kesehatan saluran pencernaan bisa dilakukan dengan pemberian prebiotik, probiotik atau bahkan postbiotik, dimana pemberian ini akan membantu untuk menguatkan sistem imun, yang berfungsi untuk menyeimbangkan populasi mikroba dalam saluran pencernaan.
“Pendekatan ini bisa dipahami. Sebab, organ imun terbesar adalah pada saluran pencernaan, yang terdiri dari tiga organ utama yaitu epitel saluran pencernaan, mikroba dan sistem imun atau biasa dikenal dengan gut associated lymphoid tissue (GALT),” terangnya.
Wayan juga mengungkapkan bahwa, dalam sebuah penelitian tentang resistensi antibiotik didapatkan bahwa prosentase tertinggi yang resisten terhadap antibiotik adalah pada peternakan ayam broiler dengan 97%, disusul oleh breeder layer dengan 94 % kemudian breeder broiler 87%,peternakan ayam petelur 66 %,peternakan babi 41%,peternakan sapi perah 17%,peternakan sapi 9 % dan nol persen pada kerbau.
“Hal ini menunjukkan bahwa resistensi antibiotik berhubungan erat dengan frekuensi penggunaan antibiotik. Penggunaan antibiotik pada kerbau terbilang jarang, bertolak belakang dengan frekuensi penggunaan antibiotik pada industri unggas dan babi,” pungkasnya.