
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pergantian musim yang cukup ekstrem menyebabkan cuaca menjadi tidak menentu, sehingga menjadikannya sebagai musuh alami para peternak unggas. Pasalnya, unggas merupakan ternak yang memiliki kepekaan cukup tinggi terhadap masalah lingkungan. Hal itu dibuktikan dengan kerentanannya ketika terjadi infeksi penyakit.
Mengenai permasalahan tersebut, Sehat Cerah Indonesia (SCI) mengajak berdiskusi dalam acara webinar yang bertajuk “Update Penyakit Unggas Terkini : Peranan Laboratorium dalam Mendukung Produktivitas dan Kualitas Produk” pada hari Rabu (22/06) secara daring melalui platform ZOOM.
Prof. Dr. Drh. I Wayan T. Wibawan, MS., selaku Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan, IPB University menjelaskan bahwa penyakit unggas di Indonesia terbilang cukup berkembang. Ia juga menjelaskan bahwa perkembangan penyakit unggas tersebut didukung dengan adanya data sekunder tahun 2022, yang menyatakan bahwa terdapat 4 (empat) jenis penyakit utama pada tahun 2022, yaitu Newcastle Desease (ND), Infectious Bronchitis (IB), Infectious Bursal Desease (IBD), dan Inclusion Body Hepatitis (IBH).
“Umumnya penyakit unggas di lapangan terdapat 4 jenis, yaitu tetelo atau ND, IB, IBD, dan IBH,” tuturnya.
Ia mengatakan bahwa adanya penyakit-penyakit ini tentu dibutuhkan penanganan khusus yang tidak hanya menganalisis secara histologis, tetapi juga secara patologis. Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan program pemerintah yang berencana untuk mencanangkan program clean salmonella. Ia menambahkan bahwa adanya program tersebut tentu dibutuhkan pernanan laboratorium untuk pemeriksaan dan analisis secara mendalam.
Baca Juga: Penguasaan Hulu hingga Hilir adalah Kunci Bertahan Ternak Ayam KUB









