POULTRYINDONESIA, Malang – Dinamika harga telur memang sungguh luar biasa, tidak ada harga paten untuk telur yang menyebabkan fluktuasi harga seringkali terjadi. Kondisi harga telur yang sering turun akhir – akhir ini melatarbelakangi Fakultas Peternakan (Fapet), Universitas Brawijaya, Malang untuk mengadakan pelatihan secara online dengan tema ‘Pembuatan Tepung Telur’, (6/11) via Zoom Meeting, webinar ini juga merupakan rangkaian acara Dies Natalis Fapet UB yang ke – 60.
Baca juga : Konsumsi Ayam dan Telur untuk Peningkatan Perekonomian saat Pandemi
Berdasarkan pemaparan Prof. Dr. Ir. Lilik Eka Radiati., MS., IPU, selaku Dosen Fapet UB, Departemen Teknologi Hasil Ternak, mengungkapkan bahwa keuntungan telur yang sudah diolah menjadi bubuk yaitu produk bisa disimpan lebih lama, menghemat tempat dan mudah dalam transportasi.
“Telur bubuk bisa digunakan untuk permen, kue, roti serta produk lain yang memerlukannya,” tegasnya.
Masih menurut Lilik, telur mempunyai kandungan gizi yang tinggi, sehingga tak mengherankan jika kemudian banyak mikroorganisme patogen yang juga ingin memanfaatkan gizi yang ada pada telur, diantaranya adalah Pseudomonas Sp, Proteus, alcaligenes, Flavobacterium, Coliform dan Salmonella, dimana bakteri – bakteri ini seringkali berperan sebagai perusak kualitas telur. Lilik juga menjelaskan ada empat metode dalam proses pengeringan telur, yakni spray drying ( semprot ), pan drying ( lapis tipis ), freeze drying (suhu beku), dan foam drying (busa).
“Metode semprot merupakan metode pengeringan yang banyak digunakan untuk memproduksi telur bubuk, prinsipnya adalah dengan menyemprotkan cairan telur kedalam aliran udara panas, penyemprotan itu akan menghasilkan partikel – partikel kecil, yang menyebabkan permukaan cairan telur meluas, sehingga proses pengeringan telur berlangsung lebih cepat,” ucap Lilik.
Masih dalam presentasi dari Lilik, Pengeringan dengan metode semprot ini digunakan untuk membuat telur bubuk dari telur utuh atau bisa digunakan juga telur bubuk dari kuningnya saja.
“Namun, metode ini tidak bisa digunakan untuk putih telur, karena akan menyumbat nosel peralatan,” terangnya.
Lilik menambahkan bahwa metode pengeringan lapis tipis adalah metode yang digunakan dalam skala rumah tangga. Metode ini bisa digunakan untuk telur utuh maupun kuning telur. Alat yang digunakan adalah oven dan nampan, dengan tebal lapisan nampan sekitar 6 mm dengan lama pengeringan selama 6 jam. Metode ini menghasilkan telur bubuk dengan kadar air sekitar 5%. Sedangkan untuk metode pengeringan beku, merupakan proses sublimasi yang berlangsung dalam keadaan vakum, kelebihannya adalah telur bubuk yang dihasilkan memiliki sifat fisikokimia yang sangat baik, sedang kelemahannya adalah biaya proses yang sangat besar.
“Metode terakhir adalah metode busa, metode ini dapat digunakan untuk membuat bubuk dari putih telur, putih telur dapat dijadikan busa, sehingga memiliki permukaan yang lebih luas, dan proses pengeringan ini akan lebih cepat, “pungkasnya.