Oleh: Prof. Ir. Arnold Parlindungan Sinurat, Ph.D.*
Peran unggas sebagai sumber pendapatan dan sumber pangan bermutu tinggi yang dibutuhkan masyarakat Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Di mana sektor ini mempunyai peran yang strategi dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani yang terjangkau bagi masyarakat, serta berkontribusi terhadap pendapatan negara dan banyak membuka lapangan pekerjaan. Untuk itu, peternakan unggas mulai dari skala rumah tangga hingga skala industri harus terus didukung keberlangsungan dan pengembangannya oleh semua pihak.

Sejatinya persoalan perunggasan tidak bisa diselesaikan sendirian. MIPI hadir sebagai wadah yang menjembatani seluruh pemangku kepentingan perunggasan. MIPI harus berperan aktif dalam memecahkan masalah-masalah perunggasan nasional sehingga semua insan perunggasan Indonesia boleh merasa berbahagia hidup di negeri ini

Kendati demikian, dibalik kontribusinya yang besar, sektor ini masih sering dihadapkan pada berbagai persoalan. Penulis melihat dan mengamati bahwa saat ini masih seringkali terjadi gejolak di sektor perunggasan nasional. Salah satu penyebab terjadinya gejolak ini adalah adanya ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi. Selain itu apabila dilihat dari sisi peternak, ketidakseimbangan terjadi antara harga jual output dibandingkan dengan biaya produksi yang dikeluarkan, sehingga kerugian usaha pun tak bisa dielakan.
Oleh karena itu, penulis melihat bahwa penting untuk mengetahui dan mengantisipasi secara tepat jumlah permintaan dan produksi perunggasan di Indonesia. Apabila melihat sisi produksi, perunggasan nasional secara kuantitas sudah tidak diragukan lagi. Di mana sektor ini telah mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, bahkan melakukan ekspor produk ke beberapa negara. Teknologi budi daya yang diterapkan sudah menghasilkan performa unggas yang sama seperti di negara maju.
Namun, kondisi berbeda terjadi pada sisi konsumsi. Di mana tingkat konsumsi masyarakat Indonesia akan produk perunggasan masih terbilang rendah apabila dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Berdasarkan data yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa konsumsi daging ayam nasional mencapai 12,79 kilogram per kapita per tahun dan telur 130.000 butir telur per kapita per tahun. Sementara konsumsi daging ayam Malaysia telah mencapai 30-40 kilogram per kapita per tahun dan telur 460.000 butir telur per kapita per tahun.

Baca juga : Berbagi Lahan Perunggasan

Sudah umum diketahui bahwa ada korelasi yang kuat antara asupan gizi yang bermutu (seperti protein hewani) dengan tingkat kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia perlu ditingkatkan agar masyarakat kita mempunyai tingkat kesehatan yang setara dengan masyarakat negara maju. Untuk itu diperlukan upaya bersama dalam peningkatan konsumsi produk perunggasan, sehingga produk perunggasan bisa lebih banyak terserap dan tingkat konsumsi masyakat bisa meningkat yang membuat kecukupan gizinya juga meningkat. Salah satu langkah yang bisa diambil adalah dengan edukasi dan kampanye yang dilaksanakan ke sekolah-sekolah dengan dana sosial yang dianggarkan diberbagai lembaga baik desa, kota maupun nasional.
Selain intervensi seperti itu, peningkatan konsumsi produk perunggasan juga dapat dilakukan dengan cara memberikan bantuan sosial kepada masyarakat, seperti korban bencana atau pandemi seperti saat ini. Penulis melihat bahwa saat ini sedikit sekali lembaga atau instansi yang memberikan produk perunggasan sebagai bantuan sosial, dengan berbagai alasan seperti mudah rusak, dan tidak praktis. Namun, sejatinya dengan teknologi pengolahan yang telah ditemukan, alasan-alasan tersebut dapat dipatahkan.
Lebih lanjut, penulis melihat bahwa peningkatan SDM perunggasan di Indonesia juga perlu ditingkatkan. Salah satu contohnya adalah bagaimana SDM ini mampu membuat formula yang efisien dengan bahan pakan lokal yang bisa dijangkau. Pasalnya potensi bahan pakan lokal nasional sangat besar, namun saat ini belum dapat dioptimalkan dengan baik. Terlebih apabila mengaca pada persaingan global, maka kualitas SDM juga menjadi salah satu faktor penentu yang dapat mempengaruhi daya saing perunggasan nasional.
Dengan berbagai persoalan dan dinamika tersebut, Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia (MIPI) sebagai sebuah wadah yang menghimpun insan pecinta perunggasan yang bertugas untuk menjembatani kebutuhan industri perunggasan dengan lembaga pemerintah, pendidikan dan penelitian serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang perunggasan. Hasil-hasil penelitian yang diperoleh dari berbagai pihak, kemudian akan dikolaborasikan dengan akademisi dan pengusaha agar menjadi solusi atas persoalan perunggasan yang selama ini membelenggu.
Kemudian, sebagai Ketua Umum MIPI, penulis berpesan kepada anggota, untuk tetap semangat berkiprah di dalam perunggasan sesuai bidangnya masing-masing, terlepas dari keterbatasan dan hambatan yang ada. MIPI harus dapat berperan aktif dalam memecahkan masalah-masalah perunggasan nasional sehingga semua insan perunggasan Indonesia boleh merasa berbahagia hidup di negeri ini.
Untuk mencapai tujuan ini MIPI harus melakukan interaksi secara intensif diantara sesama anggota dan dengan lingkungan, serta membuka diri melakukan kerja sama dengan semua pihak. Semoga kehadiran MIPI boleh dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Indonesia, dengan pertolongan Tuhan. *Ketua Umum Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia (MIPI)