Suasana Broiler Nutrition and Feed Technology Conference hari kedua
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Berbagai materi seputar broiler tersaji dalam acara Broiler Nutrition  Feed Technology Conference. Acara yang diselenggarakan secara hibrid di Jakarta oleh U.S. Soy Export Council (USSEC) ini, berhasil mendatangkan para pakar broiler dari berbagai belahan negara. pada pelaksanaan hari kedua, Kamis (12/5) terdapat 6 materi yang tersaji di dalam 2 sesi waktu.
Baca juga : Perkembangan Teknologi Pakan dan Kebutuhan Nutrisi Broiler
Dr. Wilmer Pacheco, Auburn Univesity, USA menjelaskan bahwa diameter pellet pakan broiler sangatlah bervariasi. Seperti di Amerika sekitar 4-4,4 mm,sedangkan di Amerika latin ukuran 2 mm untuk fase pre starter / starter, 3 mm untuk grower dan 4 mm untuk finisher. Dirinya melanjutkan bahwa luas permukaan pada pakan dapat berpengaruh terhadap kecernaan dan efisiensi pakan.
“Ukuran partikel dapat memengaruhi tingkat FCR pada ayam. Rekomendasi ukuran partikel untuk starter adalah 0,9-1,0 mm, sedangkan grower dan finisher sebesar 1,2 mm,” jelasnya.
Dalam materi keduanya yang berjudul “Hygiene in Feed Production”, Wilmer banyak menyinggung terkait bahaya Salmonella dan mikroba patogen lain dalam pakan. Menurutnya, Salmonella adalah bakteri patogen nomer satu penyebab terjadinya kematian bagi unggas. Kebanyakan jenis Salmonella yang terdapat dalam pakan unggas adalah Salmonella pullorum, Salmonella gallinarum atau Salmonella enteritidis. Selain itu, kontaminasi lain juga dapat berasal dari Clostridium sp, E-coli, Campylobacter dan Mycotoxins.
“Kebersihan produksi pakan untuk mengontrol mikroba sangatlah diperlukan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara design feedmill yang baik, kontrol kualitas bahan pakan, kontrol burung hewan pengerat dan hama lain, kontrol kepadatan, sanitasi peralatan serta penyimpanan yang baik,” tegas Wilmer.
Sementara itu, Dr. Ruben Kriseldi, Aviagen, USA dalam kesempatan yang sama membawakan materi tentang pengaruh interaksi asam amino bercabang terhadap performa produksi broiler. Menurutnya asam amino bercabang mempunyai peran penting dalam sintesis protein tubuh, pertumbuhan bulu dan tulang, transportasi glukosa serta metabolisme lemak. Dari beberapa penelitian, asam amino bercabang dalam rasio terhadap lisin menghasilkan data yang cukup bervariasi. Beberapa rekomendasi terakhir yang bisa diambil adalah rasio isoleusin/lisin tercerna sebesar 64-68, leusin/lisin tercerna 107-110 dan valin /lisin tercerna 73-77.
“Biasanya susunan ransum komersial yang berbasis jagung atau gandum, memiliki rasio valin dan isoleusin terhadap lisin yang optimum. Namun, rasio leusin tercerna terhadap lisin tercerna melebihi batas maksimum yaitu antara 120-140, bahkan dapat mencapai 140-170. Untuk itu, penggunaan bahan pakan seperti bungkil inti sawit dan bungkil kacang tanah dapat mengurangi kadar leusin di dalam pakan, sehingga rasio leusin tercerna terhadap lisin tercerna dapat diperkecil,” ucap Ruben.
Pada kesempatan yang sama, Iani Adrian Chihaia, President RO Feed Association banyak menyampaikan terkait cara penyusunan ransum unggas yang ekonomis dan ramah lingkungan. Dirinya menjelaskan bahwa terdapat 3 hal yang harus dipertimbangkan dalam proses ransum unggas, yaitu least coast (biaya terendah), formula pakan dan pengaruh terhadap lingkungan. Untuk mendapatkan biaya terendah dalam penyusunan ransum unggas, dapat digunakan linear programming yang melibatkan kebutuhan nutrien ayam, demi mencapai performa produksi yang tinggi dan menguntungkan secara ekonomi.
“Kemudian hal berikutnya yang harus dipertimbangkan adalah formulasi pakan dan pengaruhnya ke lingkungan. Formulasi pakan merupakan nilai dari setiap bahan pakan beserta bahan tambahan pakan yang akan digunakan. Formulasi pakan yang dibuat harus berkelanjutan dan mempunyai pengaruh minimal terhadap lingkungan,” ujar Iani.
Lebih lanjut, Richard Lim, Senior Techinical Manager, Animal Nutrition, PT Evonik Indonesia membawakan materi seputar upaya meningkatkan dan menjaga kesehatan saluran cerna ayam di masa pelarangan penggunaan AGP. Menurutnya, penyakit pada saluran cerna biasa disebabkan oleh ketidakseimbangan jumlah mikroba baik dan jahat dalam usus. Tantangan kian terasa kala adanya pelarangan penggunaan AGP di perunggasan.
“Untuk mencapai kesehatan saluran cerna yang baik tanpa AGP, memerlukan pendekatan yang holistik. Hal ini dapat diupayakan dengan menggabungkan konsep nutrisi modern dengan penggunaan tambahan pakan (feed additive) yang sudah terbukti secara ilmiah. Salah satu feed additive yang dapat digunakan oleh peternak adalah probiotik,” paparnya.
Materi terakhir di hari kedua, dibawakan oleh Dr. Richard Han selaku Technical Director- Animal Utilization, USSEC, Greater China. Dalam kesempatannya, Han mengulas terkait dinamika produksi broiler di Negara China.