Oleh  Dr. Jojo, S.Pt, MM*
Pangan merupakan kebutuhan primer dan esensial setiap warga negara. Kebutuhan akan pangan  ini tidak bisa ditunda saat pandemi, pasca pandemi ataupun normal. Ahli gizi  menganjurkan  saat pandemi  untuk menyantap makanan bergizi, guna  mendongkrak imunitas tubuh. Ini merupakan benteng melawan Covid-19 dan varians nya yang entah  kapan berakhir. 
Alhasil, ‘jihad’  melawan  massif nya Covid-19 dan turunan nya, bukan hanya tugas  mulia dokter, perawat, dan tenaga kesehatan yang berada di garis terdepan, akan tetapi termasuk juga petani / peternak sebagai penyedia pangan, bersama  menjadi ujung tombak bangsa guna menjamin ketersediaan pangan untuk kelangsungan hidup.
Baca juga : Inayat Perunggasan Masa Depan
Daging dan telur merupakan pangan yang dihasilkan peternakan unggas. Sumber protein hewani ini masih menjadi tumpuan harapan masyarakat untuk memenuhi gizi hewani. Dengan demikian, akses terhadap produk, keterjangkaun harga tentu merupakan dambaan rakyat. Hal tersebut seyogyanya menjadi bahan pemikiran semua pihak terkait.
Konsumsi protein (terutama hewani) masih menyisakan  persoalan bagi kita. Konsumsi hewani baru 26,6 % dari total protein yang dikonsumsi. Hingga kini, konsumsi protein masyarkat Indonesia yang masih di bawah kebutuhan minimal (80% angka kecukupan gizi/AKG ) masih cukup besar.
Adapun urutan tingkat partisipasi konsumsi dan besaran konsumsi bahan makanan sumber protein hewani adalah telur ayam ras, daging ayam ras (broiler), daging ayam kampung, sapi, menyusul domba / kambing.
Besaran konsumsi bahan pangan tersebut erat kaitnnya dengan pendapatan masyarakat. Harga pangan berasal dari unggas (telur dan daging) relatif lebih terjangkau masyarakat bila disandingkan dengan harga daging sapi ataupun domba/kambing. Pada kelompok masyarakat ekonomi lemah, konsumsi telur ayam ras per tahun hanya 4,2 kg/orang, dan daging ayam ras 1,5 kg/orang. Adapun konsumsi kelompok  ekonomi pendapatan tinggi pertahun bisa mencapai angka 8,7 kg/orang untuk telur dan 7,1 kg/orang untuk daging ayam ras. Angka tersebut menunjukan tingkat konsumsi protein hewani (daging ayam dan telur) kita masih rendah di kawasan ASEAN, di bawah Thailand dan Malaysia.
Dengan demikian, membaiknya  pendapatan masyarakat biasanya dibarengi dengan peningkatan  kesadaran aspek gizi dan kesehatan. Hal tersebut  perlu diimbangi dengan ketersediaan bahan pangan hewani, terutama yang bersumber dari unggas. Alhasil  ketersedian bahan pangan  tersebut semakin penting dan perlu perhatian serius pemerintah.
Daya Saing
Sejumlah pihak menilai efisiensi pada industri peternakan unggas menjadi kunci supaya dapat bersaing dengan ayam asing.  
Daya saing unggas Indonesia, ayam ras misalnya, masih jauh di bawah Brasil sebagai produsen utama ayam ras pedaging dunia. Konteks Indonesia, untuk memproduksi 1 kg daging ayam ras pedaging diperlukan biaya Rp.15.000- 17.000.  jika kita bandingkan dengan Brasil, 1 kg daging ayam ras di sana memerlukan biaya kisaran hanya Rp.9.000-10.000. Melihat dari indikator efisiensi pakan saja kita jauh tertinggal.
Adapun keunggulan komparartif peternakan ayam ras pedaging Indonesia diangka 0,85 hingga 0,92. Pengertian ekonominya,  yakni guna memperoleh pendapatan 1 dolar AS,  peternak unggas harus mengeluarkan biaya antara 85 hingga 92 sen disaat tak disubsidi pemerintah. Oleh karenanya, usaha ayam ras pedaging lebih baik diproduksi sendiri ketimbang mendatangkan impor.
Pengertian angka biaya sumberdaya domestik mendekati angka 1, berarti jika terjadi kenaikan biaya sedikit saja biaya produksi, maka ayam ras pedaging tidak lagi memiliki keunggulan komparatif di dalam negeri.
Biaya pakan merupakan komponen biaya tertinggi dari produksi unggas, sekitar 70 %. Ini bermakna, apabila bisa menekan biaya pakan, maka biaya produksi sejatinya akan menurun. Biaya produksi pun jadi hemat, efisiensi meningkat. *Pemerhati Perunggasan, Staf Pengajar STIESA Subang
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2022 ini dilanjutkan pada judul “Potret Bahan Pakan Lokal”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153