Kolaborasi antara perguruan tinggi dengan Dunia telah membangun kandang modern di Kampus IPB Dramaga. Usaha dan Dunia Industri (DUDI) menjadi penting, karena tuntuan perkembangan zaman yang terus berinovasi. Inovasi merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dengan dunia pendidikan. Dengan adanya inovasi  diharapkan pendidikan, terutama perguruan tinggi semakin maju dan dapat melahirkan sumber daya manusia (SDM) unggul. Sehingga, setiap lulusan bisa mendapat kesempatan bekerja yang layak semakin besar karena sudah selaras dengan kebutuhan DUDI.

Teaching Factory (TEFA) Modern Closed House

Kerjasama IPB University dengan PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) memang sudah terjalin lama. Sejak 2006, CPI telah membangun kandang modern di kampus IPB Darmaga. Salah satu kolaborasi yang patut diacungkan jempol dan karena tuntutan perkembangan zaman yang terus telah dilakukan oleh Sekolah Vokasi IPB University dengan CPI sebagai industri, yakni mengembangkan Teaching Factory (TEFA) Modern Closed House, di kampus IPB Sukabumi, Jawa Barat. Sebuah kandang modern dengan sistem tertutup dengan disematkan teknologi di dalamnya.

Setelah melalui proses pemeliharaan ayam pedaging selama 35 hari, Wikan Sakarinto selaku Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) berkesempatan hadir pada Panen Raya 44.000 ekor ayam di TEFA Modern Closed House di Kampus Sekolah Vokasi IPB University, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (9/6).

Salah satu kolaborasi yang patut diacungkan jempol dan karena tuntutan perkembangan zaman yang terus telah dilakukan oleh Sekolah Vokasi IPB University dengan berinovasi. Inovasi merupakan bagian yang tidak bisa CPI sebagai industri, yakni mengembangkan Teaching Factory

“Kandang modern (TEFA Modern Closed House) merupakan salah satu Teaching Factory dari Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menjadi implementasi kebijakan Kampus Merdeka Vokasi,” jelas Wikan.
Teaching factory/teaching industry ini merupakan bagian dari target besar Indonesia untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berdaya saing global, unggul serta produk yang berkualitas. “Kemendikbud Ristek sangat mengapresiasi sekali implementasi teaching factory dan Merdeka Belajar Kampus Merdeka dalam bentuk closed house. Setelah lulus nanti mahasiswa bisa jadi pengusaha peternakan yang dekat dengan pasar. Model ini diharapkan dapat diimplementasikan ke sekolah vokasi agar terdapat link and match dengan industri sejak mulai kurikulum awal hingga distribusi,” tutur Wikan.
Berdasarkan keterangan dari Rektor IPB University Prof Arif Satria pada kesempatan yang sama, ia berharap kerja sama ini dapat terus berjalan dengan baik dan menginspirasi bagi seluruh sekolah vokasi di Indonesia. “ Kampus Vokasi IPB Sukabumi diharapkan akan menjadi pusat dari lima kegiatan yaitu pendidikan, pelatihan, pengabdian, pengembangan inovasi dan pusat perkembangan pertanian 4.0,” harap Arif.

Lebih lanjut menurut Arif, TEFA Modern Closed House ini menjadi contoh yang sangat
baik bagi mahasiswa dan masyarakat umum untuk belajar peternakan modern yang dikelola secara profesional dan menguntungkan. “Pengembangan peternakan ini dimaksudkan untuk menciptakan suasana industri di dalam kampus karena akan semakin mengakrabkan mahasiswa dengan industri. Upaya ini mendorong peningkatan kompetensi mahasiswa agar siap memasuki dunia industri,” kata Arif.

Arif berharap teaching factory Sekolah Vokasi IPB University dapat menjadi role model sekolah vokasi seluruh Indonesia sekaligus dapat membantu mahasiswa vokasi untuk mengenal lebih dalam dunia industri. Selain itu, Sekolah Vokasi IPB University kedepannya akan segera menyelesaikan TEFA berupa green house yang diperuntukkan hortikultura, dan membangun fasilitas akuakultur dengan teknologi e-fisheries.

Keunggulan TEFA
Jemmy Wijaya selaku Direktur PT Charoen Pokphand Indonesia pada panen perdana TEFA Sekolah Vokasi IPB University – Kampus Sukabumi beberapa waktu silam mengatakan bahwa industri dan institusi pendidikan sangat penting untuk berjalan bersama menciptakan tenaga kerja yang mumpuni. “Kami berterima kasih karena telah diberikan kesempatan untuk berdampingan dengan perguruan tinggi dalam pengembangan SDM Unggul untuk perunggasan nasional. Mudah-mudahan apa yang sudah kita laksanakan bersama ini bisa terus seperti kokohnya kandang modern ini. Kandang ini diperkirakan bisa bertahan lebih dari 20 tahun. Semoga sepanjang itu juga kita bisa memberi manfaat yang lebih banyak,” harap Jemmy.
TEFA Modern Closed House ini dilengkapi dengan Digital Mobile Surveillance System (DMSS). Dengan adanya DMSS, kandang dapat dikelola dan dimonitor dari rumah melalui ponsel pintar (smartphone). Nantinya kandang juga akan dilengkapi dengan berbagai sensor canggih seperti untuk mengukur kadar amoniak, pertumbuhan berat badan, dan lain sebagainya.
Dr Arief Daryanto selaku Dekan Sekolah Vokasi IPB University menyebutkan bahwa jika dibandingkan dengan sistem terbuka atau open house, teknologi closed house dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas ternak, dan sistem closed house ini dikenal sangat efisien dalam kegiatan budi daya. “Jika di kandang terbuka angka feed convertion ratio (FCR) bisa sampai 1,6 sampai 1,8, sedangkan di closed house hanya sekitar 1,3 sampai 1,4. Untuk Indeks produksi (IP) ternaknya juga bisa mencapai 400,” tutur Arief Daryanto.
Fasilitas TEFA Modern Closed House di Sekolah Vokasi IPB Sukabumi, telah menerapkan teknologi 4.0, internet of things (IoT) dan teknologi tata udara. Selain itu, waktu panen bisa lebih cepat, yang biasanya 40 hari dengan Closed House ini hanya 35 hari sudah dapat dipanen dengan bobot yang sama. Selain itu, kelebihan lainnya selain ayam tidak mudah sakit, juga kebersihan kandang juga lebih baik. Oleh karena itu, kandang Closed House di IPB ini dapat menjadi percontohan bagi pendidikan vokasi di kampus lainnya. Adv