POULTRYINDONESIA, Jakarta – Terjadinya surplus telur yang berdampak pada menurunnya harga jual telur merupakan sebuah isu klasik yang sering terjadi di Indonesia. Hingga saat ini, peluang surplus telur tersebut masih belum dimanfaatkan secara maksimal oleh pemerintah maupun swasta.. Menanggapi isu tersebut, Pataka menggelar Webinar Pataka ke-64 yang mengangkat tema “Mengupas Peluang Industri Pengolahan Telur di Indonesia” secara daring melalui aplikasi Zoom, Rabu (10/11).
Baca juga : Mendorong Terwujudnya Pabrik Tepung Telur
Dalam acara tersebut, Supriadi selaku Direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengatakan bahwa untuk menjawab isu surplus telur harus membangun pabrik pengolahan telur. Pengolahan telur dilakukan untuk memperpanjang umur simpan, mempermudah penggunaan serta efisiensi penyimpanan. Selanjutnya hasil olahan telur tersebut menjadi bahan baku bagi berbagai industri makanan seperti industri roti, kue, biskuit, dan lain-lain.
“Produksi telur nasional mengalami surplus setiap bulannya yang membuat harga jual telur terus mengalami penurunan di tingkat peternak. Sepanjang tahun 2021 produksi telur ayam ras nasional diperkirakan mencapai 5,15 juta ton sementara kebutuhan nasional diperkirakan hanya mencapai 4,95 juta ton,” ucap Supriadi.
Peluang pembangunan pabrik pengolahan telur di Indonesia sangat menjanjikan karena sebagian besar produk olahan telur diimpor dari luar negeri. Saat ini, produk olahan telur paling banyak diimpor yakni tepung telur yang didominasi dari Negara India dan Ukraina.
Senada dengan Supriadi, Budi Angkasa selaku Koordinator Pengolahan, Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Ternak mengatakan bahwa solusi untuk menangani surplus telur ialah dengan mengolah pascapanen telur. Pengolahan yang dapat dilakukan yaitu berupa telur cair dan tepung telur. Hasil olahan telur dapat meningkatkan nilai jual dan sebagai penyangga saat harga jual telur jatuh.
“Dilihat dari sisi pasar, industri tepung telur bisa menggantikan impor tepung telur sebanyak 2.133 ton. Adapun tantangan yang harus dihadapi oleh pemerintah dan pelaku usaha swasta adalah harga telur untuk bahan baku telur cair beku sekitar Rp 13.000-14.000 per kilogram sementara HPP telur dalam negeri Rp 19.000 per kilogram,” ucap Budi.
Selanjutnya Eddy Sukianto selaku General Manager PT Intan Kenkomayo Indonesia menjelaskan bahwa distribusi penggunaan telur yang ada di Indonesia yakni konsumsi rumah tangga dan konsumsi usaha pangan. Sedangkan untuk industri dipenuhi oleh produk-produk impor.
“Saat ini di Indonesia kurang lebih menyerap 2.000 ton tepung telur dan 600 ton telur cair beku yang coba diserap oleh industri di Indonesia. Sementara itu, di Indonesia baru mulai melakukan pengolahan telur cair pasteurisasi dan ini masih bisa diolah untuk produk lanjutan seperti saus dressing atau mayones,” kata Eddy
Pada kesempatan yang sama, Drs. Setyo Wasisto, S.H. selaku Komisaris PT Widodo Makmur Perkasa mengatakan bahwa kondisi yang diharapkan dari pengembangan industri pengolahan telur dapat menghentikan impor, menekan data stunting nasional, dan harga telur on-farm sampai ke tangan konsumen relatif stabil. Namun untuk terealisasinya pengembangan industri pengolahan telur, dibutuhkan korelasi yang baik antara peran pemerintah sebagai pembentuk kebijakan dengan peran swasta.