(sumber gambar: agsolarsolutions.com)
Oleh : Dr. Muhsin Al Anas
Indonesia berada pada posisi 50 dari 141 negara menurut laporan The Global Competitiveness Report (GCR, indeks daya saing global) yang dikeluarkan oleh World Economic Forum pada tahun 2019. Peringkat tersebut mengalami penurunan dari posisi ke-45 pada tahun sebelumnya. Indonesia masih di bawah Malaysia dan Thailand dengan peringkat ke-27 dan 40. Terlebih Singapura yang menempati nomor pertama di dunia. Indeks daya saing global Indonesia sangat lemah pada aspek pembangunan SDM. Tingkat inovasi, adaptasi teknologi, dan keterampilan masih sangat rendah. Pendidikan menjadi penyebab utama kondisi tersebut. Tingkat inovasi SDM yang masih rendah dilaporkan oleh Global Innovation Index yang menempatkan Indonesia berada pada peringkat ke-85, di bawah Singapura, Thailand, dan Malaysia.
Proyeksi International Labour Organization (ILO) pada tahun 2020, Indonesia menyediakan tenaga kerja mencapai 123 juta orang pada semua sektor industri. Akan tetapi, dari angka tersebut hanya 13 juta orang (10,7%) yang termasuk tenaga ahli yang terampil. Jumlah tersebut tentu masih sangat rendah dibandingkan negara ASEAN lain seperti Myanmar 22,8%, Malaysia 26,8%, Filipina 25,8%, terlebih Singapura yang mencapai 56%. Laporan Global Talent Crunch menunjukkan bahwa Indonesia akan kekurangan 18 juta tenaga ahli di semua sektor industri pada tahun 2030. Kondisi ini berdampak terhadap kerugian ekonomi yang diprediksi mencapai US$442,6 miliar.
Bagaimana kondisi tenaga kerja atau SDM di bidang peternakan, terutama industri perunggasan? Hal ini tentu harus menjadi perhatian mengingat kualitas SDM berhubungan dengan daya saing dan efisiensi industri. Data Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS, 2018) menunjukkan bahwa tenaga kerja sektor peternakan didominasi oleh lulusan SMP atau tingkat pendidikan di bawahnya yang mencapai 88 persen, sedangkan sarjana hanya 1 persen dari total 4,8 juta tenaga kerja. Belum terdapat data secara detail tentang pendidikan SDM di industri perunggasan. Akan tetapi data tersebut dapat menjadi pertimbangan bahwa SDM industri perunggasan kita juga masih lemah. Oleh karena itu, untuk menjadikan industri perunggasan memiliki daya saing, pembangunan SDM menjadi kunci yang tidak dapat ditawar.
Perguruan tinggi memiliki andil besar dalam menyiapkan SDM unggul untuk mengembangkan industri perunggasan menjadi lebih baik dan berdaya saing global. Terlebih dengan adanya program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) yang wajib diterapkan oleh perguruan tinggi. Program MBKM memberikan akses kepada mahasiswa untuk belajar lintas disiplin, melakukan proyek mandiri, dan magang di industri hingga 3 semester. Untuk menyikapi program tersebut, perlu adanya Triple Helix Collaboration antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah.
Perguruan tinggi dan universitas dapat duduk bersama dalam membuat kurikulum dan standar kompetensi yang harus dimiliki peserta atau mahasiswa setelah mengikuti program magang industri. Fakultas Peternakan UGM membuat program Work Based Academy (WBA) untuk menerjemahkan kebijakan MBKM. Program WBA bekerja sama dengan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk untuk memberikan kesempatan magang selama enam bulan tentang Management Closed House.
Baca Juga: Closed House Mini Banyak Diminati
Berdasarkan pengalaman penulis yang menjadi penanggung jawab program WBA, program ini sangat membantu peserta untuk mendapatkan insight secara mendalam tentang industri perunggasan yang belum pernah didapatkan selama di kampus. Selain itu, peserta juga memahami tentang business process dan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengelola peternakan unggas secara modern dengan teknologi closed house. Program WBA juga meningkatkan motivasi mahasiswa untuk bekerja di industri perunggasan. Bahkan program magang tersebut membantu perusahan dalam mencari tenaga kerja untuk menempati posisi yang dibutuhkan perusahaan. Tidak menutup kemungkinan mahasiswa yang melakukan program magang akan mendapatkan tawaran pekerjaan sebelum lulus dari industri tempat magang.
Selain itu, terdapat mini-project yang harus dikerjakan oleh peserta. Mini project merupakan tugas kepada peserta untuk menemukan dan menganalisis permasalahan di industri serta mencari alternatif penyelesaian sebagai kontribusi untuk meningkatkan efisiensi usaha. Kegiatan ini mampu meningkatkan keterampilan Complex Problem Solving peserta, serta melatih creativity dan critical thinking. Complex Problem Solving menjadi keterampilan utama yang harus dimiliki oleh setiap orang supaya mudah beradaptasi terhadap tantangan di era industri 4.0. Lebih dari itu, peserta mampu menghasilkan inovasi dan teknologi yang dapat diterapkan. Dosen dan mentor yang berasal dari industri memiliki tanggung jawab dalam memastikan mahasiswa yang mengikuti program magang benar-benar memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalankan industri perunggasan.
Sebagai bentuk follow up, pemerintah melalui kementerian terkait dapat menyediakan pendanaan dan akses lahan untuk membangun peternakan unggas menggunakan teknologi closed house. Bantuan ini dapat diberikan kepada peserta magang yang sudah memiliki kompetensi standar dalam menjalankan peternakan unggas secara modern. Industri menjadi mitra atau off-taker sehingga usaha dapat dijalankan secara berkelanjutan dan efisien.
Tahun 2030, Indonesia akan memiliki keuntungan bonus demografi dengan 64 persen penduduk berada dalam usia produktif. Kondisi ini menjadi kesempatan emas untuk meningkatkan daya saing industri perunggasan dan Growth Domestic Product (GDP) nasional, terlebih dengan tren konsumsi protein hewani asal unggas yang terus meningkat. Akan tetapi, sudah sejauh mana bonus tersebut dimanfaatkan dan disiapkan? *Dosen Fakultas Peternakan UGM
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2021 dengan judul “Membangun SDM Unggul Industri Perunggasan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153