POULTRYINDONESIA, Jakarta – Bertempat di JCC, Senayan, Jakarta Selatan, PDHI menggelar Konferensi Ilmiah Veteriner Nasional (KIVNAS) ke-17 dengan tema “Satu Kesehatan untuk Kesejahteraan Manusia, Hewan, dan Lingkungan” pada Rabu (6/7).
Ketua Panitia KIVNAS ke-17, Dr. drh. Hj. Agustin Indrawati, M. Biomed, mengatakan bahwa dirinya sangat mengapresiasi rekan sejawat yang hadir pada pengelenggaraan KIVNAS ke-17 kali ini. Acara dua tahunan ini dihadiri oleh setidaknya 110 peserta secara langsung dan tidak kurang dari 100 peserta secara virtual melalui aplikasi Zoom Meeting.
“Semoga materi yang disajikan dan disampaikan oleh narasumber bermanfaat bagi kita semua sehingga akan terjadi keseimbangan antara kesejahteraan manusia hewan dan lingkungan tercapai,” ucapnya.
Baca Juga: Pertama Setelah Pandemi, Indo Livestock 2022 Resmi Dibuka
Mewakili Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), drh. Bonafasius Suli Teruli, selaku Sekretaris Jenderal PB PDHI, mengatakan bahwa keterikatan manusia dan hewan dengan alam sangatlah erat, sehingga tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, ia berharap dengan materi yang dipaparkan pada acara hari ini dapat menggugah peserta dalam menjaga dan menjamin kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan untuk mencapai kesejahteraan.
Senada dengan Bonafisius, dalam paparannya mengenai pentingnya pendekatan satu kesehatan dalam ketahanan kesehatan global dan tujuan pembangunan berkelanjutan, drh. Tri Satya Putri Naipospos, M.Phil, Ph.D mengatakan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sangat terkait erat dan saling bergantung. Konsep One Health atau Satu Kesehatan bertujuan untuk meningkatkan manajemen penyakit dengan menyatukan para ilmuwan medis, veteriner, dan lingkungan serta spesialis kebijakan.
“Konsep One Health ketika diterapkan, telah menunjukkan nilai tambah dalam menyelamatkan kehidupan manusia dan hewan, serta memberikan manfaat ekonomi dibandingkan dengan pendekatan sektoral,” terangnya.
Tata mengungkapkan bahwa penyakit seperti Avian Influenza H5N1, Ebola, dan Zika merupakan contoh patogen yang menyebabkan wabah besar yang memiliki dampak luar biasapada kesehatan manusia, hewan, dan ekonomi di seluruh dunia. Ancaman masa depan mungkin akan muncul karena populasi global yang terus tumbuh dan permintaan akan pangan menjadi lebih besar serta mikroba semakin resisten terhadap pengobatan, seperti antibiotik.
Selain itu, Tata juga menyampaikan bahwa kesehatan hewan dapat mempengaruhi ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi, sehingga memperkuat kapasitas ‘Satu Kesehatan’ dapat mencegah, mendeteksi, dan merespons penyakit sebelum menjadi risiko kesehatan masyarakat.
Masih dalam kesempatan yang sama, drh. Harimurti Nuradji, P.hD, memaparkan mengenai penyakit yang baru muncul (emerging diseases) dan penyakit yang muncul kembali (re-emerging diseases) secara global saat ini. Meski berbagai faktor dianggap terkait dengan peningkatan penyakit menular yang muncul maupun penyakit menular yang muncul kembali, faktor penyebabnya dapat diringkas sebagai tiga perubahan besar di tingkat global, yakni perubahan perilaku manusia, perubahan lingkungan/ekosistem, dan perubahan mikroorganisme.
“Perubahan tersebut dinilai sinergis meningkatkan risiko munculnya patogen, penularan patogen, dan peluang infeksi (susceptible host). Oleh karena itu, diperlukan perhatian yang serius mengenai pendekatan One Health dalam pengendalian penyakit,” pungkasnya.