POULTRYINDONESIA, Jakarta – Tak bisa dipungkiri bahwa era digital dengan berbagai kemajuan teknologi yang ada, juga berpengaruh secara langsung terhadap industri peternakan. Hal ini mengemuka dalam International Integrated Forum, Indo Livestock 2022 yang mengangkat subtema “Smart Farming”. Dalam acara yang terselenggara di Jakarta Convention Center pada Jumat (8/7) dihadiri oleh pemangku kepentingan dari berbagai latar belakang.
Materi disampaikan oleh Prof Yandra Arkeman, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian, IPB University yang membawakan materi berjudul “Smart Technology for Livestock Industries Development”. Dalam presentasinya, Yandra banyak menjelaskan terkait Artificial Intelliengence (AI), Internet of Things (IoT) dan blockchain yang dapat diaplikasikan dalam dunia peternakan.
“Sudah banyak pengaplikasian teknologi di dunia peternakan. Seperti halnya penerapan teknologi smart livestock farming untuk keberlanjutan lingkungan dengan penggunaan blockchain di Denmark dan Rumania. Kemudian di Eropa telah digunakan IoT untuk melakukan pengawasan ternak dan mengefisienkan biaya produksi. Untuk di Indonesia sendiri, saya dan tim juga mengembangkan blockchain halal, meat chain, hingga IoT dalam transportasi DOC, ” jelasnya.
Baca Juga: Indo Livestock 2022 Bahas Persoalan Pakan Perunggasan
Dalam kesempatan yang sama, Prof Arief Daryanto, Dekan Sekolah Vokasi, IPB University banyak menjelaskan kebutuhan teknologi digital terkhusus dalam industri perunggasan. Menurutnya masih banyak tantangan perunggasan yang diharapkan dapat diselesaikan oleh teknologi. Lebih lanjut, Arief memaparkan beberapa tantangan dalam industri perunggasan, seperti biaya pakan, skala produksi, ketidakmampuan untuk mengekspor hingga persoalan asymmetric information.
“Untuk itu, melihat dari beberapa negara yang telah berhasil mengekspor produk unggasnya, kita dapat belajar bahwa industri perunggasan nasional kedepan harus dibangun dengan integrasi vertikal yang dihubungkan oleh contract farming dengan penggunaan teknologi digital dalam prosesnya. Disini adanya perusahaan besar dengan manajemen yang baik, peralatan yang inovatif dan berbasis pasar dapat mendorong keberhasilan perunggasan kedepan,” terangnya.
Sementara itu, Nugroho Dwi Sansoko, Marketing Manager PT Charoen Pokphand Indonesia, Divisi Poultry Equipment dalam pemaparan banyak membahas terkait peralatan yang dibutuhkan untuk closed house broiler modern. Menurutnya secara perlahan saat ini pihaknya telah menggunakan teknologi digital yang berbasis sensor, sehingga dapat dikontrol dimana saja dan kapan saja.
“Bagaimanapun juga kedepan pergantian operasi analog ke teknologi digital sangat penting dan perlu dilakukan. Saat ini memang belum semua peternak kita beralih ke teknologi digital, dengan alasan biaya investasi yang cukup besar. Namun kami yakin bahwa kedepan secara perlahan teknologi ini bisa dilakukan. Kami pun juga siap bekerjasama dan membantu dalam pelaksanaan usaha budi daya broiler ini,” ungkap Nugroho.