POULTRYINDONESIA, Jakarta – Bahan baku memang menjadi salah satu faktor utama yang harus diperhatikan untuk menciptakan pakan yang berkualitas untuk ternak. Berangkat dari hal tersebut USSEC Southeast Asia menggelar seminar daring yang bertemakan “Raw Materi and Feed Biosecurity” pada, Sabtu (30/07). Dalam seminar yang digelar melalui aplikasi Zoom Meeting ini menghadirkan berbagai narasumber yang memang sudah ahli di bidangnya.
Dr Carlos Campabadal, yang merupakan Outreach Specialist, International Grains Program Institute, Kansas State University yang merupakan salah satu narasumber dalam seminar tersebut mengatakan bahwa kita perlu memiliki praktik penyimpanan yang baik. Hal itu bertujuan diantaranya untuk menjaga kualitas bahan baku dan kualitas pakan jadi. Kedua untuk mengurangi pertumbuhan jamur dan mikotoksin (aflatoksin dan okratoksin) dan juga mengurangi risiko pemadatan bahan baku dan pakan dalam silo, hopper dan flat storage. Selain itu dengan penyimpanan yang baik dapat mengurangi susut karena serangan serangga atau hilangnya kelembaban, serta hindari kontaminasi silang mikroorganisme dan patogen.
“Yang menjadi perhatian sekarang, kenapa penting memperhatikan bahan baku selama penyimpanan di daerah tropis? Hal tersebut karena memang biji-bijian dan bahan pakan dari sumber apapun biasanya sangat rentan terhadap pembusukan oleh jamur ketika disimpan di iklim semi-tropis dan tropis. Di mana kondisi tropis ini biasanya di atas 280C dan 65% RH yang mana kondisi ini sangat ideal untuk pertumbuhan jamur,” ungkap Carlos saat membawakan presentasi berjudul Raw Material Challenges at Storage in Tropical Environment : How to Solve Them.
Baca Juga: Dukungan Pemkab Blitar untuk Perunggasan
Lebih jauh Carlos mengatakan hal yang perlu diperhatikan untuk mengawetkan bahan baku dan pakan di daerah tropis bisa dilakukan dengan cara membersihkan biji-bijian untuk menghindari akumulasi kontaminasi. Kemudian dilakukan pengukuran suhu biji-bijian dan penerapan aerasi bila memungkinkan. Dan menggunakan penghambat jamur, pengikat mikotoksin, serta fumigasi bila diperlukan.
Hal ini juga diperkuat oleh statement dari Dr Budi Tangendjaja, selaku Technical Consultant, USSEC Indonesia, yang juga hadir menjadi narasumber dalam seminar tersebut. Budi yang membawakan presentasi tentang How is Variability of Raw Material Nutrient Content Affect Feed Quality, mengatakan bahwa tantangan di Feedmill saat ini diantaranya tentang variabilitas.
“Permasalahan terbesar di Feedmill adalah tidak bisa mengontrol variabilitas. Kemudian permasalah kedua adalah bisakah mereka memproduksi dengan kualitas yang sama di setiap waktunya, setiap bulannya, setiap minggu, setiap hari, bahkan di setiap shift, dan setiap batch? Sementara bahan baku yang diterima bervariasi dari setiap pengiriman. Kalau kita berbicara kualitas itu kita bukan berbicara tentang uang, karena yang namanya kualitas adalah karakteristik produk yang dapat dipertahankan untuk memuaskan konsumen dalam batasan harga dan waktu,” ujar Budi.
Selanjutnya Budi mengatakan beberapa kesalahan yang mungkin terjadi di Feedmill yang mempengaruhi kualitas diantaranya meliputi bahan baku, formulasi, pengolahan, dan pengiriman serta penyimpanan di farm. Ia juga menegaskan bahwa Ketika berbicara kualitas pakan, bahkan dengan penggilingan dan proses terbaik pun, tidak bisa lebih baik dari kualitas bahan yang digunakan. Sehingga begitu pentingnya memperhatikan kualitas bahan pakan yang akan kita gunakan.
“Ketika berbicara ‘Presisi Nutrisi dan Tepat Produksi’ hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengelola variabilitas di Feedmill dan memerlukan manual Quality Assurance. Kemudian bagaimana penerimaan bahan baku untuk menjaga kualitas ransum. Selain itu pengukuran kualitas harus didasarkan pada tiga hal, yaitu fisik, kimia, dan biologi. Untuk fisik meliputi, warna, bau, ukuran partikel, dan berat jenis. Kimia meliputi proksimat, asam amino, kecernaan kecukupan pengolahan NIR, asam lemak, mineral, racun, mikotoksin, dan stabilitas lemak. Sedangkan biologi meliputi, in-vitro yaitu enzim pencernaan dan mikroba, dan in-vivo yang meliputi kecernaan, uji coba pertumbuhan, dan uji coba produksi. Dan yang perlu diingat lagi bahwa kualitas bahan baku dan pakan ini dapat berubah selama penyimpanan”, terang Budi.