Webinar Swasembada
POULTRYINDONESIA, Jakarta – PT. Swasembada Agri Solusi atau yang akrab dikenal dengan nama Swasembada Enterprise kembali menyelenggarakan webinar nasional dengan tema “Outlook Industri Perunggasan: Peluang dan Tantangan” melalui aplikasi Zoom, Sabtu (18/12).
Baca juga : Refleksi Penyakit Unggas 2021
Acara ini dihadiri oleh Ir. Ali Mas’adi, S.Pt, MM., IPM selaku CEO PT. Widodo Makmur Unggas. Menurut Ali, daging ayam dan telur menjadi hal yang penting untuk meningkatkan imunitas dan hal ini menjadi peluang untuk mengembangkan industri perunggasan. “Dengan populasi yang diproyeksikan akan terus bertambah pada tahun 2025, permintaan akan protein hewani dan makanan kaya karbohidrat diperkirakan akan tumbuh dan menjadi bahan makanan penting di masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ali menyampaikan bahwa pada tahun 2025, populasi masyarakat berusia di bawah 50 tahun diperkirakan akan mencapai lebih dari 75% dari total populasi negara. Hal ini tentu saja akan mendukung penyerapan protein dan karbohidrat secara keseluruhan dalam makanan konsumen. Sehingga, industri seperti perunggasan yang kebutuhan pakannya ditopang oleh petani perlu diberikan pendampingan untuk pengembangan teknologi.
“Ini merupakan peluang yang luar biasa. Kami sebagai perusahaan juga ahrus ikut berperan aktif, sehingga dapat mendukung ketersediaan pangan bangsa kita. Kolaborasi juga harus ditingkatkan dan mindset kita harus diubah agar tidak takut ketika produk luar masuk ke dalam negeri,” imbuhnya.
Mahardika Agil Bimasono, S.Pt yang merupakan CEO Swasembada Enterprise mengungkapkan bahwa selama 2 tahun belakangan, kondisi perunggasan di Indonesia cenderung naik-turun, sehingga dibutuhkan beberapa perbaikan pada tahun 2022. Pria yang akrab disapa Bima ini mengatakan bahwa baik pada industri broiler maupun layer di Indonesia, harganya tidak stabil, pola konsumsinya masih tergantung musim (seasonal), dan rentan terhadap isu.
“Peran anak muda sangat dibutuhkan, terutama terhadap produksi, mesin, teknologi, market dan sektor global. Generasi muda dapat menjadi intermediary actor untuk mendukung usaha industri perunggasan dengan menerjemahkan perkembangan ternak, pasar, teknologi, genetika, kesehatan, dan ekonomi,” ujar Bima,
Bima mengungkapkan bahwa penentuan skema usaha biasanya berlaku harian dan ini bisa menjadi peluang yang sangat luar biasa bagi generasi muda untuk memecahkan masalah dan membuat suatu narasi atau skema baru, contohnya seperti digitalisasi, untuk menyelesaikan masalah kenaikan harga produksi yang kurang masuk akal.