Konsumsi ayam dan telur untuk perangi stunting (sumber gambar: www.eatthis.com)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Permasalahan stunting di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Hasil dari Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) menunjukkan bahwa terjadi penurunan angka stunting berada pada 27,67 persen pada tahun 2019. Walaupun angka stunting ini menurun, namun angka tersebut masih dinilai tinggi, mengingat WHO menargetkan angka stunting tidak boleh lebih dari 20 persen.
Merespon hal tersebut, Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Tim Penggerak PKK Provinsi Nusa Tenggara Timur menggelar webinar bertema “Gizi Seimbang Protein Hewani dan Nabati untuk Mengurangi Kasus Stunting di Indonesia” melalui aplikasi zoom, Kamis (22/7).
Berdasarkan paparan Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS, Ketua Divisi Gizi Terapan IPB University yang hadir sebagai salah satu narasumber pada acara tersebut memulai dengan menjelaskan terkait permasalah stunting yang di tinjauan dari aspek tumbuh kembang anak dan implementasi gizi seimbang. Menurutnya untuk memutus mata rantai stunting diperlukan intervensi gizi yang diprioritaskan pada keluarga yang mempunyai anak stunting, juga pada keluarga miskin. Dalam penelitian yang pernah dilakukan oleh Khomsan pada tahun 2012, menunjukan bahwa keluarga miskin memiliki balita stunting 40 persen, sedangkan keluarga tidak miskin jumlah balita stuntingnya hanya 14,3 persen.
“Tiga hal yang dapat dilakukan adalah subsidi pangan (program pangan murah), perbaikan sanitasi serta pengentasan kemiskinan,” jelasnya.
Masih dalam kesempatan yang sama, Khomsan melanjutkan bahwa dalam penelitian yang dilakukan oleh Ianotti, dkk pada 2017 menunjukan bahwa pemberian telur tiap hari sebagai makanan tambahan dapat mengentaskan stunting pada anak hingga 47 persen dan kasus anak kurus turun 74 persen.
Baca Juga: Perlu Sinergi Antar Lembaga untuk Cegah Stunting
“Hanya dengan memberikan tambahan 1 butir telur kepada anak dapat menurunkan angka stunting secara signifikan. Selain itu, hal ini juga menurunkan konsumsi makanan manis di kalangan anak,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sebenarnya upaya memerangi stunting juga telah terkandung dalam pesan gerakan masyarakat hidup sehat (GERMAS), yaitu peningkatan aktivitas fisik, penguatan edukasi dan perilaku hidup sehat, penyediaan pangan sehat dan perbaikan gizi, peningkatan pencegahan dan deteksi dini penyakit serta peningkatan kualitas lingkungan.
Selanjutnya menurut, Dr. dr. M. Yani, M. Kes., PKK, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, BKKBN Provinsi Aceh menyampaikan bahwa asupan gizi yang diterima seseorang itu kurang disebabkan oleh praktek pengasuhan yang salah.
“Beberapa hal yang mendorong stunting seperti kurang pengetahuan tentang kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, kurang mendapat asi eksklusif serta kualitas dan jumlah makanan pengganti ASI (MP-ASI),” ucapnya.
Yani menambahkan bahwa sulitnya akses makanan bergizi, hygiene dan sanitasi yang jelek serta layanan kesehatan yang terbatas juga menjadi penyebab terjadinya stunting. Ia menegaskan bahwa apabila dilihat dari faktor penyebabnya baik yang secara langsung maupun tidak langsung, maka penanganan stunting harus dilakukan oleh semua sektor atau stakeholder, tidak bisa dilihat dari sisi kesehatan semata.
Turut hadir, dalam acara ini Drg. Agus Suprapto, M.Kes, Deputi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan, Kemenko PMK, Ny. Julie Sutrisno Laiskodat, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTT serta Yohana Lisapaly Kepala Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur.