Memilih bahan pakan yang berkualitas itu relatif lebih mudah daripada menjaga kualitas bahan pakan di tempat penyimpanan atau gudang pakan (Sumber: budidayaternak.id)
Oleh : Domi Sattyananda, S.Pt*
Pakan memiliki peran yang erat kaitannya dengan keberhasilan dari suatu kegiatan budi daya unggas, baik pemeliharaan ayam pedaging maupun petelur. Pakan juga memiliki persentase yang cukup besar dalam biaya produksi di suatu peternakan. Oleh karenanya, pakan harus memiliki kualitas yang baik agar produksi hasil budi daya menjadi optimal. Sebelum diolah menjadi pakan, bahan pakan yang digunakan harus menjamin kesehatan dan ketentraman masyarakat sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang telah ditetapkan.

Pakan yang baik tentunya berawal dari bahan pakan yang berkualitas. Ada banyak sekali faktor yang perlu diperhatikan oleh pabrikan dalam menjaga kualitas bahan pakan.

Memilih pakan yang berkualitas bisa dilakukan dengan menguji bahan pakan tersebut dari sisi fisik dan nutrisinya. Pengujian fisik dan nutrisi tersebut harus dibandingan dengan standar mutu tertentu. Memilih bahan pakan yang berkualitas itu relatif lebih mudah daripada menjaga kualitas bahan pakan di tempat penyimpanan atau gudang pakan. Pakan merupakan media yang sangat disukai oleh mikroorganisme patogen, sehingga semakin lama bahan pakan itu disimpan, maka kemungkinan penurunan kualitas akan semakin besar. Baik dalam bentuk bahan pakan maupun dalam bentuk pakan jadi, sudah sepantasnya diberikan penanganan khusus agar pakan tetap dalam kondisi baik ketika diberikan ke ternak.
Lingkungan tempat penyimpanan pakan sangat menentukan daya simpan dari pakan itu sendiri. Beberapa kerusakan seringkali terjadi akibat kesalahan penanganan serta saat proses penyimpanan. Kerusakan tersebut antara lain dapat disebabkan oleh faktor mikrobiologis, biologis, dan kerusakan secara fisik maupun kimia. Kerusakan tersebut dapat menyebabkan kerugian materi yang cukup besar.
Baca Juga: Jurnal Farmsco Menjaga Kualitas Bahan Pakan
Mikroorganisme penyebab kerusakan pakan meliputi jamur dan bakteri. Jamur dan bakteri tersebut menyerap nutrien yang terkandung di dalam bahan pakan. Selain itu, jika pakan terkontaminasi oleh jamur, akan menghasilkan racun yang disebut dengan mikotoksin yang tentu menurunkan nutrisi dan menyebabkan berbagai macam penyakit jika dikonsumsi oleh ternak. Selain itu, kerusakan pakan juga dapat disebabkan oleh serangga, tikus, burung dan lainnya. Sebagai contoh, apabila bungkil kedelai terserang kutu, maka nilai nutrisi kedelai tersebut berkurang karena sudah dimakan oleh hama kutu tersebut. Selain itu, binatang seperti tikus yang mencemari pakan, dapat juga membawa penyakit seperti salmonellosis. Binatang lain seperti burung juga dapat membawa penyakit seperti flu burung atau avian influenza.
Indonesia sebagai negara beriklim tropis memiliki kelembapan udara yang tinggi. Oleh karenanya beragam jenis mikroorganisme patogen dapat tumbuh berkembang dengan subur di Indonesia. Tidak hanya tumbuhan, mikroorganisme lainnya juga dapat berkembang biak dengan baik pada iklim tropis ini, seperti jamur yang seringkali menjadi musuh bagi para peternak karena bahan pakan yang didapatkan dapat terkontaminasi mikotoksin yang diproduksi oleh satu atau beberapa spesies jamur yang menyebabkan multi-kontaminasi dan dapat memberikan masalah zooteknik dengan atau tanpa efek klinis.
Selain kerusakan mikrobiologis, ada juga kerusakan fisik yang diakibatkan oleh perlakuan saat transportasi atau saat penanganan oleh mesin mekanik. Kerusakan ini menyebabkan penampilan bahan pakan menjadi tidak menarik. Contohnya apabila jagung menjadi patah (broken kernel) akibat tergilas ketika proses penanganan. Sedangkan kerusakan kimia, seperti misalnya untuk pakan imbuhan (feed additive) yang berubah susunan kimia aktifnya akibat kesalahan penyimpanan (tidak sesuai dengan rekomendasi). Misalnya, zat aditif seperti asam organik yang disimpan tidak sesuai dengan rekomendasi, menyebabkan caking atau mengeras (akibat dari reaksi hidrolisis). Apabila asam organik sudah terjadi proses caking, biasanya sangat rentan menguap karena sifat asam organik yang volatile. Proses pembuatan pakan di pabrik juga dapat menurunkan kualitas pakan. Kualitas bahan pakan seperti kadar protein bisa berkurang selama proses pembuatan pakan, karena mesin yang digunakan juga menghasilkan zat mikotoksin yang mengancam produktivitas ayam. *Wartawan Poultry Indonesia
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2020 ini dilanjutkan pada judul “Langkah yang Dapat Dilakukan untuk Menjaga Kualitas Pakan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153