POULTRYINDONESIA, Jakarta – Untuk mengupdate informasi terkini terkait industri broiler global, U.S. Soy Export Council (USSEC) menggelar acara Broiler Nutrition and Feed Technology Conference. Dalam acara yang terselenggara secara hibrid di Jakarta, Rabu – Kamis (11-12/5) ini, menghadirkan para pakar broiler dari berbagai negara dengan materi yang bervariasi dan melengkapi.
Suttisak Boonyoung, PhD, Nuttsionist COBB menyampaikan bahwa genetik broiler telah berkembang begitu pesat. Pada tahun 1959 untuk mencapai bobot badan 2 Kg diperlukan waktu 81 hari, dan pada tahun 2022 hanya membutuhkan waktu 30 hari. Dengan kondisi tersebut, maka kebutuhan akan zat gizi juga cenderung meningkat.
“Kebutuhan Lisin tercerna cenderung meningkat pada semua fase. Namun rasio protein ideal cenderung menurun, terutama pada threonin. Selain itu, kebutuhan energi dalam pakan pada setiap fase juga mengalami kecenderungan penurunan. Hal ini menunjukan bahwa broiler saat ini semakin mampu memanfaatkan energi dengan efisien,” jelasnya.
Baca Juga: Kondisi Industri Pakan di Berbagai Negara
Dalam kesempatan yang sama, Dr. Wilmer Pacheco, dari Auburn University menyampaikan materi terkait titik kritis pemberian pakan pada fase awal pemeliharaan broiler. Menurutnya untuk mencapai performa ayam yang optimum harus dimulai sejak dini, bahkan sebelum ayam tiba di kandang. Bahkan, dalam beberapa penelitian menjelaskan bahwa zat gizi mulai diberikan/disuntikkan saat ayam masih di dalam telur (in ovo feeding).
“Untuk mencapai nutrisi yang presisi di fase starter, sebaiknya pakan diberikan secara lebih banyak. Selain itu, nutrisi presisi merupakan pendekatan terintegrasi yang mencakup analisis bahan baku, proses pembuatan pakan, manajemen pemeliharaan hingga fasilitasnya,” tegasnya.
Sementara itu, Dr. Mubarak Ali, Senior Technical Service Manager, Animal Nutrition Evonik (SEA) Pte. Ltd melengkapi dengan materi terkait digitalisasi untuk optimasi produksi broiler. Dirinya menjelaskan bahwa dengan perkembangan nutrisi dan genetika yang baik, maka digitalisasi dinilai sebagai tahap lanjutan dalam upaya mengoptimalkan produksi broiler.
“Dalam bidang nutrisi, digitalisasi dapat membantu dalam analisis kualitas pakan secara akurat serta merekomendasikan pakan secara optimal. Kemudian, dalam kesehatan hewan dapat membantu melakukan upaya preventif dengan identifikasi kesehatan ayam. Dan untuk pemeliharaan, digitalisasi tentu dapat membantu dalam pengelolaan seluruh rantai nilai unggas secara efisien,” jelas Mubarak.
Prof. Budi Tangedjaja, selaku Technical Consultant USSEC SEA menegaskan bahwa biaya pakan merupakan biaya utama dalam usaha broiler, dimanapun tempatnya. Untuk itu, dengan dinamika harga global yang terjadi, teknik formulasi pakan yang tepat menjadi hal yang penting untuk menekan biaya yang dikeluarkan.
“Untuk mendapatkan formulasi yang tepat, maka diperlukan data nutrisi yang benar dari bahan pakan yang akan digunakan. Oleh karena itu, formulasi harus berdasarkan analisis nutrisi yang sebenarnya,” tegasnya.
Di hari pertama penyelenggaraan acara ini, turut hadir sebagai pembicara Timothy Loh, Regional Director USSEC SEA and Ocenia dan Iani Adrian Chihaia, President RO Feed Association. Dalam kesempatannya, kedua pembicara banyak menjelaskan terkait pertanian kedelai di Amerika, serta upaya menghasilkan nilai tambah pada produk kedelai.