Telur puyuh yang diproduksi dalam suatu peternakan puyuh
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Potensi bisnis peternakan puyuh petelur masih memiliki prospek yang menjanjikan untuk dikembangkan di Indonesia. Hal tersebut karena permintaan telur puyuh masih sangat tinggi khususnya di Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta, sedangkan suplainya masih sangat jauh dari permintaan yang ada.
“Dari 16,5 juta butir telur puyuh yang diminta per minggunya, saat ini baru bisa menyuplai sebanyak 3,5 juta butir,” ujar Slamet Wuryadi yang merupakan Ketua Asosiasi Peternak Puyuh Indonesia dalam acara Livestock Virtual Forum Series 1 yang diselenggarakan oleh PT Napindo Media Ashatama dan Yayasan Pengembangan Peternakan Indonesia (YAPPI) melalui aplikasi Zoom, Senin (31/8).
Dalam webinar yang bertemakan “Indo Livestock Awrad Winner Experiences dan Pandemi COVID-19 sebagai Momentum Perbaikan Usaha Peternakan di Indonesia” tersebut, Slamet mengutarakan bahwa bisnis peternakan puyuh di Indonesia juga menyumbang nilai ekonomi yang besar karena dari 14,8 juta ekor puyuh yang ada saat ini, rata-rata per hari mampu menghasilkan telur sebanyak 10 juta butir.
Baca Juga: Mengenal Puyuh Unggas Kecil Berpotensi Besar
“Kalau kita kalkulasi, dari 10 juta butir per hari itu mampu menghasilkan 3 miliar rupiah per harinya, dari angka tersebut, 2,1 miliarnya dibelanjakan untuk pakan puyuh, sisanya 900 juta adalah penghasilan para peternak se -Indonesia,” pungkasnya.
Masih menurut Slamet Wuryadi, sebagai informasi bahwa untuk saat ini ada 1.300 peternak puyuh petelur yang tersebar di seluruh Indonesia. Oleh karenanya, rata-rata peternak puyuh di Indonesia mendapatkan penghasilan harian sebesar 400-500 ribu rupiah.
“Selama 1,5 tahun, puyuh akan terus berproduksi sehingga beternak puyuh mampu menjadi solusi mengentaskan kemiskinan karena mampu memeberikan penghasilan harian,” ujar pemilik CV Slamet Quail Farm dan penerima Indo Livestock Award Tahun 2014 ini.