Harga sapronak yang cenderung tinggi menjadikan biaya produksi semakin meningkat (sumber gambar: mipoultry.com)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Akhir-akhir ini, dunia perunggasan di hebohkan dengan harga sapronak, khususnya Day Old Chick (DOC) dan pakan yang melambung tinggi. Harga input produksi yang tinggi ini, sayangnya tidak diikuti oleh kenaikan harga jual live bird atau bahkan di bawah HPP, sehingga tidak sedikit peternak yang merugi maupun gulung tikar. Fenomena ini tentu perlu penyelesaian yang tepat agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Oke Nurwan selaku Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang menjadi keynote speaker Webinar Nasional PATAKA ke 59, mengamini bahwa Industri perunggasan saat ini sedang mengalami kendala akibat peningkatan harga produksi akibat meningkatnya harga DOC dan pakan serta penurunan harga live bird di tingkat farm gate.
“Pakan ini sedang mengalami super cycle, atau harga sedang tinggi. Harga DOC FS broiler di minggu ke 3 Juli 2021 turun 20% dibandingkan harga bulan lalu, namun masih berada 4,5% di atas batas bawah penjualan di tingkat peternak berdasarkan peraturan menteri perdagangan no 7 tahun 2020,” ujar Oke dalam webinar nasional bertajuk “Kemandirian Bibit Broiler dan Pengadaan Jagung Berkualitas dengan Harga Terjangkau”, via Zoom, Kamis (22/7).
Kenaikan harga pakan dan DOC ini jelas berdampak pada HPP di tingkat peternak. Oke mengatakan bahwa berdasarkan perhitungan HPP pada struktur di permendag, HPP broiler saat ini 18.890/kg atau 4% di atas HPP ayam diatas normal, yaitu Rp 18.125/kg. Oke menambahkan bahwa apabila kondisi ini tidak segera ditangani, dikhawatirkan industri perunggasan, khususnya pada skala peternak rakyat atau UMKM akan terancam. Dampak lainnya juga akan berdampak pada industri perunggasan dalam jangka panjang.
Baca Juga: Input Produksi Tinggi Daya Saing Perunggasan dalam Negeri Cenderung Rendah
Selanjutnya Oke menyatakan bahwa pemerintah sebenarnya dapat menugaskan BUMN dalam hal ini dapat melakukan intervensi pada pasar agar harga dapat stabil, namun penugasan dari BUMN ini masih memerlukan perbaikan.
Hary Warganegara selaku Direktur Utama PT. Berdikari (Persero) melihat bahwa para stakeholder perunggasan memang menaruh harapan besar pada PT Berdikari. Akan tetapi, Hary menyebut Berdikari masih tergolong sangat baru pada dunia perunggasan sehingga memiliki kendala maupun keterbatasan.
PT Berdikari melakukan upaya untuk mendukung sektor perunggasan berupa membuka kemitraan dengan peternak rakyat, dalam bentuk koperasi untuk budi daya ayam PS dan FS sejak tahun lalu. Hasil dari live bird peternak mitra tersebut juga sudah diserap oleh PT Berdikari. Selanjutnya, upaya yang dilakukan PT berdikari untuk menjaga stabilitas harga yaitu dengan menerapkan satu harga.
“Bagaimana dengan penyerapan live bird dari peternak yang belum menjadi mitra? Ini nanti yang akan kita jawab dengan skema kerjasama antara kementerian BUMN, Kementan, dan Kemendag,” ucap Hary.