POULTRYINDONESIA, Jakarta – Dewasa ini, global climate change semakin memaksa peternak harus menerapkan sistem kandang closed house untuk produksinya. Dalam proses produksinya, sistem kandang closed house membutuhkan tenaga listrik yang menyumbang biaya operasional cukup besar. Berangkat dari hal tersebut, SUN Energy bekerjasama dengan Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) menggelar Webinar Talkshow dengan tajuk “Inovasi Teknologi pada Industri Perunggasan Melalui Pemasangan Sistem Tenaga Surya”. Acara ini dilaksanakan secara daring menggunakan aplikasi Zoom Meetings pada Kamis (28/7).
Dalam sambutannya, Chief Commercial Officer of SUN Energy, Dionpius Jefferson mengatakan bahwa energi surya sangat berpotensi untuk bertumbuh di Indonesia. Hal itu dikarenakan Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang memiliki pancaran sinar matahari sepanjang tahun.
“Indonesia mempunyai potensi sangat besar dalam pemanfaatan tenaga surya, karena matahari sangat baik menyinari Indonesia baik di musim hujan maupun kemarau. Total produksi SUN Energy sudah 280 megawatt peak (MWp) terdiri dari 150 MWp di luar negeri seperti Thailand, Taiwan, dan Australia, sedangkan kalau di Indonesia terdapat 130 MWp. Khusus untuk industri perunggasan, kita dari SUN Energy menawarkan solusi yang sangat baik terkait pemanfaatan teknologi tenaga surya dengan sistem zero investment, sehingga SUN Energy yang spending pembelian barang dan pemasangan awal kemudian pelanggan hanya membayar biaya listriknya saja,” kata Dionpius.
Ketua Umum GPPU, Achmad Dawami dalam materinya banyak menjelaskan terkait pertumbuhan bisnis melalui inovasi teknologi pada industri perunggasan. Dirinya mengatakan bahwa perkembangan teknologi sudah berjalan, dimana energinya digunakan untuk menggerakkan pemanas, fan, feeding system, dan poultry equipment lainnya.
Baca Juga: Dekan Fapet Unsoed Dikukuhkan sebagai Guru Besar
“Berdasarkan penelitian, brooder solar thermal di Lebanon mampu save konsumsi energi sebesar 74%. Dari hasil survei saya, penggunaan listrik dan gas untuk breeding farm broiler di Indonesia saja membutuhkan biaya Rp 2,2 triliun setiap tahun. Pun dari commercial farm-nya memerlukan Rp 4 triliun setiap tahun, itu berarti total ada Rp 6 triliun. Di Lebanon mampu menghemat sebesar 74%, kalau kita ambil 50% saja maka Indonesia sudah menghemat sebesar Rp 3 triliun,” papar Dawami.
Kemudian dalam kesempatan yang sama, Vice CEO Langgeng Makmur Perkasa, Widodo Makmur Perkasa Group, Yuyu Kasim memaparkan materi terkait penciptaan proses produksi berkelanjutan yang efisien pada PT Widodo Makmur Perkasa. Yuyu mengatakan, Widodo Makmur Perkasa memiliki lima lini bisnis terintegrasi yang membutuhkan energi dari produksi biomass processing dan terdapat tambahan dari renewable energy project solar panel yang sudah diimplementasikan.
“Ada beberapa program energi terbarukan di lingkungan aktivitas Widodo Makmur Perkasa yaitu pengembangan fasilitas Bio-CNG dan pupuk untuk mengkonversi limbah sapi dan limbah ayam yang menjadi energi. Selanjutnya yang kedua ada pembangkit listrik tenaga matahari dengan target mencapai 158 MWp pada tahun 2026 yang banyak dibantu oleh SUN Energy dalam panduan pemasangannya. Kemudian, yang ketiga pembangkit listrik hybrid yang menggunakan turbin dan energi lainnya,” ungkap Yuyu.
Sementara itu, Donny Syafrudin sebagai Head of Sales SUN Energy menjelaskan bahwa energi surya merupakan energi terbarukan paling efisien dan terjangkau di Indonesia. Selain dapat mengurangi emisi karbon, energi surya sekaligus dapat menghemat tarif listrik hingga 30%. Dengan begitu, energi surya dapat menaikkan nilai ekonomi perusahaan secara ramah lingkungan.
“SUN Energy memiliki 2 jenis sistem energi surya yang dapat diterapkan. Sistem pertama dinamakan sistem On-Grid yang mana panel surya mengubah energi dari matahari menjadi arus listrik. Selanjutnya inverter mengubah listrik yang dihasilkan oleh panel surya dari arus searah menjadi arus bolak-balik. Sistem yang kedua dinamakan sistem Off-Grid yang cocok diaplikasikan di pedesaan dimana jaringan listrik masih membutuhkan biaya yang besar. Sistem ini mengandalkan baterai sebagai penyimpan energinya,” jelas Donny.