Poultry Indonesia Forum terselenggara secara online
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Ditengah ketidakpastian selama awal tahun 2021, menjelang akhir tahun terlihat secercah harapan dimana angka kasus harian dan tingkat kematian akibat Covid-19 mulai terkendali. Kegiatan masyarakat mulai kembali pulih namun tetap diiringi dengan kewaspadaan terhadap gelombang selanjutnya dari Covid-19. Sedikit banyaknya, industri perunggasan juga ikut terdampak dari setiap kebijakan untuk penanganan Covid-19. Berangkat dari hal tersebut, Poultry Indonesia menyelenggarakan Poultry Indonesia Forum seri ke-22 dengan tema “Arah Masa Depan Industri Perunggasan” yang dilaksanakan secara daring via aplikasi Zoom, Sabtu (11/12).
Baca juga : BEM FP UNS Menggelar Kampanye Gizi Daging dan Telur Ayam
Rofi selaku Sub Koordinator Produksi Unggas Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, membeberkan bahwa pemerintah masih terus berupaya menjaga stabilisasi supply demand ayam ras serta mengatur pengendalian produksi.
“Upaya yang dilakukan Ditjen PKH Kementan untuk menjaga keseimbangan supply demand adalah dengan melalui afkir dini parent stock dan cutting telur tetas (HE) fertil umur 19 hari.  Dampak dari pengendalian produksi DOC final stock berkorelasi positif terhadap pergerakan harga livebird membaik di tingkat peternak,” beber Rofi.
 Sementara itu, Ir. Achmad Dawami selaku Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), memberikan keterangan mengenai kondisi perunggasan di tahun 2021. Dawami menerangkan bahwa di tahun 2021 mengalami surplus supply. Selanjutnya, terbit SE pemerintah untuk mengendalikan supply dan demand dalam menyeimbangkan harga livebird.
“Tingginya populasi FS (Final Stock) akibat jumlah impor GPS (Grand Parent Stock). Potensi awal kelebihan supply DOC tahun 2021 yaitu sebesar 758 juta ekor setara dengan 835.872 ton karkas. Adapun dengan adanya SE pemerintah, dilakukannya cutting HE sebanyak 700 juta butir lebih dan penyerapan livebird sebanyak 75 juta ekor lebih,” terang Dawami.
Lebih lanjut, Hudian Pramudyasunu selaku Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), mengatakan bahwa tantangan industri pakan adalah keterbatasan lahan untuk pertanian dan peternakan. Kemudian, tingginya biaya pengangkutan bahan baku ke pabrik pakan juga menjadi masalah bagi industri pakan Indonesia. Oleh karena itu, bahan pakan yang diproduksi di dalam negeri, harus diproduksi berdekatan dengan pabrik pakan untuk memudahkan transportasi dan dapat menekan biaya.
“Ketersediaan pakan di Indonesia lebih dari cukup, namun tantangan terbesar di tahun yang akan mendatang adalah lahan yang tersedia akan menurun sebesar 60%, sementara kebutuhan protein senantiasa terus meningkat dari tahun ke tahun,” kata Hudian.
 Masih dalam acara yang sama, drh. Andi Wijanarko selaku Wakil Ketua 2 Asosiasi Obat Hewan Indonesia, menjelaskan bahwa ASOHI berperan aktif dalam mengawal, memberi masukan, dan monitor pelaksanaan kebijakan pemerintah. Dalam pemaparannya, Andi mengatakan bahwa pertumbuhan obat hewan di tahun 2022 cenderung stabil.
“Pertumbuhan obat hewan secara umum diprediksikan akan mengalami stagnasi. Khususnya di segmen perunggasan akan mengikuti kondisi di sektor DOC & pakan unggas,” jelas Andi