Menjadi profesor di usia 37 tahun bukan targetnya sedari kecil. Cita-cita ini pun muncul tatkala ia baru menyelesaikan studi doktoralnya. Ia yang lulus program doktoral berumur 28 tahun lantas punya target untuk bisa menjadi profesor sepuluh tahun berikutnya. Nyatanya ia menyandang gelar Guru Besar di Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor ini setelah 9 tahun. Baginya dalam hidup harus selalu memberikan yang terbaik.

Tak bisa memilih untuk dilahirkan dari orang tua seperti apa, namun kita bisa memilih untuk masa depan kita, kita bisa memilih untuk besar seperti apa, untuk berjuang mendapatkan kehidupan yang lebih baik

Ia adalah Prof. Dr. sc. ETH. Anuraga Jayanegara, S.Pt., M.Sc, laki-laki kelahiran Bojonegoro 2 Juni 1983 ini memiliki cerita hidup yang seolah berkebalikan dengan keadaannya saat ini. Anuraga kecil tumbuh menjadi sosok anak kecil yang tergolong bandel, dimarahi guru sudah menjadi hal biasa baginya sewaktu SMP (Sekolah Menengah Pertama). Ia juga langganan rangking 41 dari 44 siswa. Ketika ia berumur satu tahun, ia dan keluarganya pindah ke Bandung, dan ia juga lahir dari orang tua yang tergolong biasa saja. Ibunya seorang ibu rumah tangga, dan ayahnya pegawai swasta. Bahkan dulu ia tak pernah terbayang untuk bisa melanjutkan sekolah yang lebih tinggi.
“Waktu itu ketika akan lulus SMP, jika mau lanjut sekolah mau tidak mau harus bisa masuk sekolah negeri, karena kalau sekolah swasta orang tua pasti tidak sanggup membiayai. Akhirnya waktu akan lulus jadi giat belajar, dan alhamdulillah SMA bisa masuk sekolah negeri di Bandung. Ternyata setelah masuk SMA, akademis saya juga masih biasa-biasa saja, hingga akhirnya di kelas 2 SMA seolah saya seperti mendapat hidayah,” kenang anak pertama dari empat bersaudara ini.

Baca juga : Eko Prasetio, Bermanfaat Bagi Sesama

Kala sekolah pun ia hanya memiliki uang saku pas-pasan, bahkan uang sakunya hanya cukup untuk naik angkutan umum dan sisanya hanya cukup untuk membeli air mineral. Setiap istirahat pun ia hanya bisa berdiam diri di dalam kelas, ia tak jajan atau bermain seperti temannya yang lainnya. Sampai suatu ketika ada salah satu temannya yang memperhatikan dan mengajaknya ke suatu tempat, yaitu ke mushola sekolah untuk sama-sama melakukan ibadah salat dhuha. Kebiasaan baik ini akhirnya menjadi rutinitas yang ia terus lakukan setiap istirahat.
“Akhirnya dari sini saya mulai refleksi, seolah saya mendapat hidayah. Saya menjadi rajin belajar, hingga akhirnya dari anak yang tidak pernah mendapatkan peringkat atas, di kelas dua catur wulan satu saya mendapat peringkat satu paralel di sekolah. Jadi inilah proses transformasi saya, dan dari situ sampai lulus SMA hingga kuliah, prestasi itu terus bisa dipertahankan. Itulah sekelumit cerita masa kecil saya, saya pernah berada di ekstrim kiri dalam arti pernah sampai hampir tidak naik kelas, sampai akhirnya bisa menjadi lebih baik,” terang ayah dari 6 anak ini.
Banyak hal baik yang ia terus ingat dari ajaran-ajaran orang tuanya, salah satu poin pentingnya adalah kejujuran, ini yang ia selalu terapkan sejak kecil, meskipun bandel baginya kejujuran harus terus ditegakkan. Pernah suatu ketika ia tidak mengerjakan tugas dari gurunya, ia kemudian mengambil satu kertas kosong dan hanya menuliskan namanya kemudian ia kumpulkan, meskipun ia akan tetap mendapat nilai nol, namun ia memilih untuk tidak berbohong, dan tidak menyontek. Memang terkadang kejujuran itu menyakitkan, namun ini yang selalu ia pegang teguh.
Awal mula kecintaannya mengajar mulai tumbuh kala ia mulai kuliah di tingkat pertama, ia yang berkuliah di Fakultas Peternakan IPB, jurusan Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak ini sering melakukan tutorial dengan teman-temannya untuk belajar bersama. “Mulai kuliah di tingkat satu saya mulai memberikan tutorial tambahan bagi teman-teman yang kurang paham, kami saling bantu saja. Kadang kami menyewa tempat untuk bisa belajar bersama dengan kurang lebih 20 orang. Lama-kelamaan saya menikmati kegiatan menjadi pengajar, akhirnya muncullah cita-cita bahwa saya ingin jadi dosen atau setidaknya guru SMA. Ternyata lulus sarjana, ketua jurusan saya menawari untuk jadi asisten disana, dan nanti jika ada pembukaan dosen saya bisa lanjut disana,” ucap Ketua Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan IPB ini.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2021 dengan judul “Profesor Muda yang Tak Pernah Lelah Belajar”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153