POULTRYINDONESIA, Jakarta – Sebagai sektor yang sangat berkembang pesat dan menghasilkan sumber protein terbesar bagi masyarakat Indonesia, sektor perunggasan memerlukan dukungan, salah satunya dari riset yang berkelanjutan. Riset pada dunia perunggasan tersebut dapat mencakup berbagai bidang, diantaranya dari segi genetika, nutrisi dan pakan, manajemen pemeliharaan, maupun kesehatan. Menanggapi kebutuhan tersebut, Poultry Indonesia Forum series ke 17 yang mengangkat tema mengenai Riset Berkelanjutan untuk Perunggasan via Zoom, Sabtu (10/7).
Dari segi genetik, Suryo Suryanta, SPt selaku country manager Hubbard Indonesia menyatakan bahwa dilihat dari tren konsumsi unggas dalam hal ini ayam, terutama di Asia, cenderung terus meningkat. Peningkatan tersebut perlu meningkatkan efisiensi dari produksi ayam tersebut.
“Riset pengembangan genetik ayam ras ini dilakukan secara berkelanjutan untuk mencapai performa yang selalu meningkat seiring dengan kebutuhan pasar,” ujar Suryo.
Suryo menambahkan bahwa perbaikan genetik ini dilakukan dari beberapa sudut pandang, mulai dari tingkah laku (kesejahteraan hewan, antibiotic free era, dan ketahanan), kualitas daging, dan performa breeder. Dari segi performa, perbaikan genetik ini dapat meningkatkan pertumbuhan sampai 40 gr setiap tahunnya serta FCRnya -1,7.
Selanjutnya dari segi pakan, Prof. Dr. Ir. Nahrowi, MSc selaku Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University memaparkan bahwa kedepannya Indonesia dapat memiliki formula pakan lokal Sawit, Dedak, dan Grain/Gaplek dan turunannya (SDG-Maggot). Maggot dijadikan sumber protein pada formulasi pakan tersebut. Menurut Nahrowi, SDG-Maggot ini nantinya dapat menghasilkan bahan pakan fungsional berkualitas tinggi dan dapat menjadi pengganti basis corn-soya.
“Kalau kita ingin lebih efisien dalam penggunaan bahan pakan, tentunya standar kebutuhannya disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Kalau kita masih import, menurut saya masih belum efisien. Kita harus bisa modifikasi dan punya standar kebutuhan sendiri,” jelas Nahrowi.
Dr. Ir. Cahya Setya Utama, SPt, MSi, IPM selaku Dosen Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro menyebutkan bahwa penelitian yang telah dilakukannya, salah satunya penggunaan jamu ternak atau fitobiotik sudah pernah diimplementasikan di lapangan dan dapat menurunkan angka kematian unggas.
“Penggunaan fitobiotik sudah pernah dicobakan di kandang terbuka kapasitas 1000 ekor dan dapat menurunkan kematian hingga 2%,” ungkap Cahya.