Oleh: Sulaxono Hadi*
Kekerdilan pada ayam merupakan kondisi pertumbuhan yang jauh berada di bawah rataan kecepatan pertumbuhan normal yang diharapkan. Ayam tampak lebih kecil dibandingkan kawan-kawannya sekandang atau satu indukan. Keadaan yang bisa terlihat jelas oleh peternak pada broiler atau layer saat masa brooding.

Ayam kerdil biasanya diberi label “bibitnya jelek” oleh para peternak maupun pekerja kandang. Bagaimana tidak, kondisi ini sangat merugikan karena feed convertion rate (FCR) membesar akibat penggunaan pakan yang membengkak tanpa diiringi dengan pencapaian bobot badan yang normal.

Peternak atau pekerja kandang akan memberi label “bibitnya jelek”. Anak ayam akan banyak di-culling pada masa brooding, karena peternak mengerti bahwa hal ini akan memengaruhi FCR dan tentu pada masa panen ayam akan mengakibatkan muncul ayam yang terlihat cebol, kecil, dan jauh tertinggal dari pertumbuhan kawanannya.
Runting Stunting Syndrome (RSS) didefinisikan sebagai sindrom yang terjadi pada ayam yang ditandai dengan kekerdilan akibat dari pertumbuhan yang terhambat (Zavale dan Sellers, 2005). Sindrom pada ayam ini pertama kali ditemukan di negeri kincir angin, Belanda, oleh Kouwenhoven et al. (1978), menyusul kemudian kejadian di Inggris pada tahun 1981 yang dilaporkan oleh Boucewell dan Wyeth (1981).
RSS menjadi ancaman dalam budi daya perunggasan, karena dapat berdampak pada penurunan bobot badan ayam, peningkatan indeks FCR, hingga memicu terjadinya berbagai infeksi pada ayam (Zavale dan Barbosa, 2006). Kondisi klinis dapat mulai teramati saat ayam berumur 3 hari. Pada umumnya, kondisi klinis mudah teramati pada ayam berumur 6-12 hari hingga ayam berumur 3 minggu lebih.
Secara klinis, selain terlihat lebih kecil dibandingkan kawanannya, kotoran atau tinja ayam juga tampak lembek seperti diare, bulu cenderung kotor, basah, serta perut yang buncit akibat timbunan gas (Rosenberger, 2012). Kondisi ini akan menyebabkan penurunan bobot badan, perubahan kulit menjadi pucat, pertumbuhan bulu yang jelek dan tidak rapi dimana ada sebagian bulu yang terbalik (Muhammad et al, 2013).
Munculnya Runting Stunting Syndrome (RSS) dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti complex disease berupa infeksi akibat reovirus, rotavirus, enterovirus, parvovirus, calicivirus, dan faktor lainnya (Goodwin et al., 1993; Nili et al., 2007). Walaupun kejadian ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, kebanyakan kejadian sindrom ini di lapangan diakibatkan oleh infeksi reovirus yang menyebabkan berbagai tingkatan enteritis dan pertumbuhan yang terhambat pada ayam (Rosenberger et al., 1989).
Pada broiler akan sangat peka terhadap infeksi saat baru menetas. Disinilah peran vaksinasi pada indukan dibutuhkan dalam memberikan maternal antibodi melalui embrio serta memberikan proteksi dari infeksi viral pada usia dini. Vaksinasi pada breeder juga dapat memperbaiki bobot hidup, memperbaiki FCR ayam, memperbaiki indeks efisiensi performa broiler, dan indeks efisiensi protein.
Li et al., (2020), menemukan bahwa sifat kerdil atau cebol pada ayam melekat juga sebagai salah satu sifat genetis yang diturunkan dan melekat pada jenis kelamin ayam atau sex linked, yang ditandai dengan rendah dan lambatnya pertumbuhan pada ayam. Kekerdilan akibat faktor bawaan atau genetis bisa mencapai angka sekitar 5-20% dari jumlah ayam yang dipelihara.
Patologi anatomi
Ayam yang tidak tervaksinasi cenderung menunjukkan lesio ke arah infeksi reovirus. Perjalanan infeksi Runting Stunting Syndrome (RSS) oleh reovirus pada broiler yang tidak tervaksinasi berawal dari infeksi gastrointestinal pada broiler muda yang kemudian menyebabkan terjadinya infeksi gastroenteritis, malabsorbsi nutrisi pakan di usus, dan pertumbuhan broiler yang terhambat hingga terjadinya stunting (Giambrana et al., 2007).
Reovirus merupakan virus patogen penting yang mengakibatkan pertumbuhan yang buruk dan silent loss pada industri perunggasan. Dampak dari infeksi reovirus adalah malabsorbsi pakan pada usus, infeksi respirasi, dan bersifat menurunkan daya tahan tubuh atau imunosupresif.
Selain itu, infeksi reovirus pada RSS juga dapat menyebabkan degenerasi hati, perdarahan pada jaringan hati, distensi usus halus dengan penumpukan gas, enteritis pada usus, dan indigesti pakan pada usus. Pakan yang tidak tercerna dapat terlihat jelas pada tinja ayam sebagai hasil dari indigesti pakan pada usus (Awandkar et al., 2006). Perut ayam terlihat membesar bukan karena gemuk tetapi karena terjadinya penumpukan gas pada usus ayam.
Usus halus, secara kasat mata, tampak dipenuhi gas. Pada saat dibedah, tampak terjadi enteritis ringan pada permukaan usus, hemoragi pada mukosa usus, dan ditemukannya tinja lembek serta beberapa bahan pakan yang tidak tercerna pada lumen usus. Kondisi ini menyebabkan pakan tidak terserap dan FCR meningkat, sehingga penggunaan pakan tidak sesuai dengan penambahan bobot badan harian ayam. Sedangkan pada RSS akibat infeksi dari chicken anemia virus (CAV) yang ditumpangi oleh infectious bronchitis (IB), mortalitas pada ayam bisa meningkat hingga 97,7% (Hosokawa et al., 2017).
Khaing et al., (2014), dalam peneltiannya terhadap broiler yang dipelihara dengan sistem closed house dan skala pemeliharaan 10.000-130.000 di Kelantan, Malaysia, menemukan bahwa pada ayam broiler yang mengalami Runting Stunting Syndrome (RSS), ditemukan perubahan gross patologi yang terjadi.
Beberapa perubahannya berupa kerusakan pada mukosa usus (83,3%) dengan pakan dalam usus yang tidak tercerna sempurna, atrofi pankreas (70,0%), atrofi hati (66,7%), atrofi timus (33,3%), dilatasi proventrikulus (50,3%), dan pembesaran gallbladder (43,3%). Peternak melaporkan kejadian sindrom kekerdilan ini pada broiler umur 17-25 hari. *Medik Veteriner Ahli Madya Balai Veteriner Banjarbaru
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada Majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, sila mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153