Desianto Budi Utomo
Oleh : drh. Desianto B Utomo., Ph.D.
Industri perunggasan di Indonesia secara serentak sedang mengalami kenaikan dari sisi harga pakan walaupun secara nilai kenaikannya berbeda di berbagai negara. Kenaikan paling terasa di negara berkembang atau negara less developed country yaitu negara agak maju sedikit diatas negara berkembang. Penulis melihat bahwa ada korelasi positif dengan tingkat pendapatan dari sebuah negara.  Bagi negara dengan pendapatan dibawah 5.000 Dolar AS, peningkatan pendapatan akan diiringi dengan kenaikan konsumsi ayam termasuk daging dan telur per kapita/tahunnya.

Industri perunggasan akan terus berkembang walaupun dominasi pertumbuhan industri perunggasan secara signifikan masih bertumpu pada negara-negara berkembang.

Jika di negara maju, peningkatan pendapatan tidak diikuti dengan kenaikan konsumsi produk unggas per kapita/tahun. Sehingga kebutuhan produksi untuk populasi unggas di negara maju tidak begitu fluktuatif setiap tahunnya. Berbeda halnya dengan di negara maju, ada kesadaran untuk meninggalkan konsumsi red meat (sapi, domba, kambing) ke white meat atau daging unggas.
Kesadaran ini sedang gencar terjadi di seluruh negara – negara maju, baik di Amerika Serikat, Eropa, Maupun Australia. Dengan demikian, industri perunggasan akan terus berkembang walaupun dominasi pertumbuhan industri perunggasan secara signifikan masih bertumpu pada negara-negara berkembang.
Berdasarkan Buku yang berjudul Peternakan Dalam Angka yang dipublikasikan Oleh Badan Pusat Statistik pada bulan Juni 2022, Sebelum terjadinya pandemi Covid-19, perekonomian nasional tercatat masih tumbuh 4,96 persen. Namun, dampak dari terjadinya pandemi Covid-19 menyebabkan perekonomian nasional terkontraksi menjadi 2,17 persen pada tahun 2020 dan mulai bangkit kembali pada tahun 2021 menjadi sebesar 5,02 persen.
Dampak yang sama juga dialami lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan. Dampak pandemi Covid-19 menyebabkan penurunan yang bervariasi terhadap hampir semua subsektor di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan pada tahun 2020 dan 2021. Subsektor peternakan mengalami kontraksi yang cukup dalam dari 7,78 persen pada tahun 2019 menjadi minus 0,35 persen pada tahun 2020. Berbagai program dan kebijakan pembangunan di subsektor peternakan mampu membangkitkan kembali pertumbuhan subsektor peternakan menjadi 0,34 persen.
Dengan semakin majunya teknologi dan seleksi yang dikembangkan di Industri perunggasan, dimana lingkungan berupa makro maupun mikroiklim di tempat ternak berada, sangat menentukan performa dari ayam tersebut. Maka mau tidak mau, seleksi genetik yang telah dilakukan melalui serangkaian proses yang panjang, memerlukan penanganan dan manajemen khusus agar ternak bisa mengeluarkan ekspresi genetik terbaiknya.
Jika kita melihat kembali pada waktu 50 tahun yang lalu, dibutuhkan waktu 85 hari untuk ayam mencapai bobot 1,8 kilogram, namun saat ini untuk ayam mencapai satu kilogram bisa dicapai dalam umur 28 hari. Demikian juga dengan Feed Conversion Ratio (FCR) pada masa itu berada di kisaran 3,2 saat ini bisa mencapai 1,4 untuk mencapai bobot badan yang sama.
Artinya, dari segi teknologi genetik dan seleksi telah demikian maju untuk menghasilkan ayam dengan potensi genetik yang sangat efisien dalam berproduksi. Namun, potensi genetik yang telah dikembangkan oleh perusahaan genetik tersebut harus didukung oleh lingkungan yang mendukung. Itulah mengapa, saat ini pola pemeliharaan atau budi daya di perunggasan mengarah ke smart farming sebagai sebuah keniscayaan.
Untuk bisa mendapatkan manfaat yang maksimal dari proses pemeliharaan lewat smart farming, diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang terampil dan memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh industri. Contohnya adalah aplikasi dalam hal manajemen budi daya dengan closed house. Bahkan saat ini, sistem pemeliharaan dengan closed house sudah terintegrasi secara penuh (fully integrated) dan bisa dilakukan secara otomatis (fully automated) lewat sistem yang dihubungkan dengan komputer atau bahkan smartphone asalkan memiliki akses internet.
Baca Juga: Ayam Kukuak Balenggek, Sang Maskot dari Kabupaten Solok yang Semakin Jarang Terdengar
Kemajuan teknologi ini akan bisa aplikatif jika dikelola oleh SDM yang memiliki kapasitas dan mengenal karakteristik dari teknologi, sekaligus bisa mengadopsi dan mengadaptasi apapun jenis teknologi yang diterapkan di kandangnya. Mau tidak mau SDM di bidang perunggasan, harus bisa menyesuaikan dengan keadaan dan zaman untuk mengadopsi teknologi agar bisa menghasilkan produk yang berkualitas dan efisien.
Gambaran perkembangan teknologi tersebut mau tidak mau harus melibatkan para staff manajerial untuk meningkatkan keterampilan dalam berbudidaya ayam. Bukan hanya closed house nya saja tetapi termasuk ke seluruh aspek budi daya semisal penimbangan badan melalui alat yang hasilnya bisa keluar secara digital, yang membantu mengurangi human error dalam penulisan data.
Saat ini industri perunggasan membutuhkan SDM yang mampu dan bisa menggunakan aplikasi teknologi yang sempurna. Selain itu juga industri membutuhkan SDM yang memiliki soft skill dengan parameter managerial skill, leadership, dan karakter jujur, mau bekerja serta tetap belajar untuk berkembang agar bisa terus mengikuti perkembangan teknologi terkini.
Skill manajerial dan leadership dibutuhkan dalam mengelola kandang sekaligus bisnisnya secara bersamaan. Jadi, SDM yang bekerja tidak hanya sebatas menjaga performa ternak, tetapi juga mengetahui kondisi pasar agar bisa lebih menjawab kebutuhan masyarakat. Tujuannya agar SDM tersebut bisa mengarahkan produknya agar masyarakat mengetahui apa pentingnya dari mengonsumsi daging ayam maupun telur, tentunya hal tersebut bisa dicapai melalui analisa yang tajam terhadap pemahaman model bisnis yang dijalani.
Peningkatan SDM perunggasan bukan saja tuntutan dari industri lokal semata, melainkan tuntutan persaingan global dari industri perunggasan. SDM yang unggul dan mumpuni sangat dibutuhkan untuk meningkatkan efisiensi agar industri perunggasan di Indonesia bisa dijalankan dengan efisien. Apalagi saat ini di Indonesia sedang berada di bawah ancaman importasi produk karkas asal Brasil, yang mana hanya bisa ditangkal dengan persaingan head to head, performance wise, dan business wise harus bisa menyatu
Produksi unggas dalam negeri harus bisa dijalankan seefisien mungkin seperti yang dilakukan di negara produsen, supaya produk Indonesia bisa seefisien mereka dan tidak perlu lagi ada wacana impor produk karkas asal Brasil.
Penulis ingin menganalogikan bagaimana sebetulnya kebutuhan SDM dari sisi Industri dalam sebuah rumus.  Dimana P adalah fenotip, G adalah genetik, E adalah lingkungan, N adalah nutrisi, dan M adalah manajemen. Dalam manajemen budi daya atau mengelola bisnis, sebesar 75% sangat bergantung dari SDM, bukan bergantung pada teknologinya, tetapi sejauh mana SDM yang dimiliki bisa mengeluarkan potensi terbesar dari teknologi yang dimilikinya untuk mendatangkan efisiensi dan dikonversi menjadi sebuah keuntungan. Maka dari itu, kompetensi yang dibutuhkan adalah kompetensi pemahaman, bukan hanya budi daya untuk menekan kerugian.
Dalam menghadapi digitalisasi di dalam dunia perunggasan, dan memasuki tuntutan era smrat farming yang lebih lanjut, maka dibutuhkan pemeliharaan yang sangat efisien untuk meningkatkan daya saing. Institusi pendidikan dalam hal ini bisa membantu dengan mencetak SDM yang unggul dan sangat peka dengan digitalisasi maupun smart farming, piawai dalam mengoperasikan aplikasi, dan mampu menyesuaikan dirinya dengan tuntutan zaman.
Kita semua harus sadar bahwa ancaman importasi dari negara produsen ayam dunia seperti Brasil dan negara lain sudah di depan mata, buntut dari kemenangan mereka di WTO. Cepat atau lambat produk mereka akan masuk ke Indonesia, sehingga kita semua harus mempersiapkan diri sebaik – baiknya untuk menghadapi hal tersebut.
Dunia pendidikan dapat berperan secara sentral dalam hal ini untuk meningkatkan semangat dalam hal memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk belajar sesuai dengan keinginan dan sesuai dengan konsep Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan, saat ini kondisinya memang sudah mendekati ideal ketika untuk program magang di industri untuk beberapa institusi pendidikan dilakukan selama satu bahkan dua semester.
Kesempatan ini sangat mendukung industri perunggasan untuk berkembang. Adanya sekolah – sekolah vokasi baik di tingkat SMK, D3, D4, dan S1 yang memang mengutamakan pengalaman lapangan dan keterampilan teknis dan muatannya 70-80% memang sangat kompatibel dengan kebutuhan industri perunggasan di Indonesia.
Kesempatan magang yang diberikan oleh industri juga bisa dimanfaat seluas-luasnya mulai dari pabrik pakan, hatchery, maupun budi daya di komersial maupun breeding farm agar para siswa bisa memahami bagaimana sebetulnya karakteristik lapangan dari industri perunggasan itu sendiri. Sehingga, ketika para siswa tersebut lulus dari insitusi pendidikan, bisa langsung dengan cepat beradaptasi dengan alur kerja di industri.
Penulis juga ingin mengibaratkan jika teknologi merupakan sebuah alat atau senjata, kesuksesan yang diraih bukan dari seberapa canggihnya alat atau senjata yang digunakan, melainkan siapa yang menggunakan senjata atau alat tersebut. Teknologi bukan tujuan, melainkan sebuah alat untuk bisa meningkatkan daya saing di industri perunggasan. Sedangkan teknologi tersebut hanya bisa dimanfaatkan oleh SDM yang memahami dan familiar dengan penggunaan serta penguasaan teknologi. Daya saing hanya bisa di dapatkan salah satunya dengan peningkatan efisiensi, baik dalam aspek budi daya, logistik, maupun harga di konsumen akhir.
Dengan adanya program Merdeka Belajar Kampus Merdeka, industri merasa telah terfasilitasi dan sangat cocok dengan semangat untuk menghasilkan SDM perunggasan yang unggul. Dimana untuk para siswa bisa mendapatkan banyak pengalaman dari lapangan baik dari aspek budi daya, bisnis, maupun dalam hal menganalisis market, sangat kompatibel dengan industri perunggasan. Nantinya SDM inilah yang menjadi tumpuan harapan bagi industri perunggasan, terutama generasi milenial dan generasi Z.
Dalam hal ini juga SDM perunggasan diharapkan untuk bisa lebih menguasai aspek formulasi dalam pakan agar dapat mengurangi impor bahan pakan dimana 80-85% struktur biaya pembentuknya ditentukan dari biaya bahan pakan. Maka SDM yang mampu mengelola sumber daya bahan pakan lokal inilah yang sangat dibutuhkan bagi industri perunggasan, yang dampaknya bisa mengurangi biaya produksi di dalam bisnis perunggasan ini. *Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT)