Perlunya pengembangan herbal dalam penganan penyakit pada unggas (sumber: www.i1.wp.com.png)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Corporate Communications & Marketing Distribution Director PT Medion, Peter Yan, menegaskan bahwa sebagai salah pelaku di industri obat hewan, pihaknya kerap melakukan pelatihan dan pendidikan untuk membantu memberikan edukasi agar masyarakat siap menghadapi tantangan zaman. Menurutnya, cara-cara seperti memberikan penyuluhan kepada peternak di daerah-daerah dengan bahasa yang mudah dimengerti termasuk bagaimana biosekuriti, tata laksana kandang yang baik, sampai dengan bagaimana memberi vitamin merupakan bagian dari usaha agar peternakan di Indonesia menjadi lebih baik lagi ke depannya.
Selain itu, usaha lain yang dilakukan dalam menghadapi era non AGP yakni melakukan pengembangan obat herbal. Menurut Peter, Indonesia merupakan negara yang kaya akan bahan-bahan herbal, sehingga kekayaan yang Indonesia miliki ini bisa bermanfaat dan digunakan untuk membantu para peternak.
Peter berharap dengan pemerintahan yang baru ini, ada semacam gerakan menggaungkan pemakaian produk dalam negeri, sehingga industri dalam negeri bisa berkembang. Baginya, dukungan dari pemerintah sangat penting dan menurutnya dukungan itu juga tidak selalu berbentuk uang. Dukungan regulasi yang baik juga akan sangat membantu industri obat hewan dalam negeri untuk terus berkembang.
Sejalan dengan Peter, drh. Budi Purwanto, Senior Manager Technical Education & Consultation PT Medion di lokasi yang sama menjelaskan ada banyak jenis produk herbal, salah satunya adalah produk herbal sebagai suplemen dan suplemen ini ada yang imunomodulator. Suplemen juga ada yang sebagai hematoprotektor yang bisa memperbaiki fungsi hati. Medion juga mengembangkan vitobiotik yakni semacam antibiotik dari tumbuhan. Menurutnya fitobiotik ini lebih aman dan tidak ada hambatan dalam withdrawal time.
Baca Juga : Menyiasati Pelarangan AGP dengan Bahan Alami
Berbicara efisiensi dan daya saing, drh. Akhmad Harris Priyadi, General Manager Feed PT Menjangan Sakti, mengatakan ketika mengefisienkan sesuatu, terkadang orang mengorbankan kesehatan, di mana dalam kesehatan sumbernya adalah medikasi, preventif, dan promosi. Menurut Harris, peternak sudah harus berpikir jauh ke depan. Zaman sekarang ini mau tidak mau peternak harus sudah berorentasi ke pasar modern, serta memikirkan strategi pemasaran agar mampu bersaing dengan produk dari luar. Salah satu yang bisa dilakukan untuk melindungi pangan dalam negeri misalnya peternak Blitar bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Blitar dengan memberi merek untuk telur yang berasal dari Blitar.
Harris juga berharap adanya kolaborasi antara pemerintah, perusahaan dan peternak, bahkan kalau perlu melibatkan institusi lain seperti bank. Menurutnya, tahap pertama dalam menjalani aktivitas budi daya ayam justru dilihat dari modalnya, jika modalnya sudah sehat, maka selanjutnya akan memikirkan kesehatan ayamnya. “Kondisi bisnis perunggasan harus kondusif terlebih dahulu, kalau ini sudah bisa ditata, maka peternak juga akan bisa melanjutkan usahanya,” harapnya.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2019 dengan judul “Putar Strategi untuk Antisipasi”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153