Suasana rembuk perunggasan nasional yang diselenggarakan di Sentul
POULTRYINDONESIA, Bogor – Tercatat sejak November 2018, harga ayam hidup ini menjadi permasalahan yang tak pernah kunjung usai.
Bertempat di kawasan Sentul, Bogor, Selasa (15/9), Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) bersama dengan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) kembali menggelar rembuk perunggasan nasional untuk yang kesekian kalinya.
Harga ayam hidup yang kembali jatuh tampaknya mendorong para stakeholders perunggasan ini harus duduk bersama mencari upaya perbaikan agar stabilisasi harga ayam hidup bisa terjaga.
Dihadiri oleh Direktur Jenderal Peternakan & Kesehatan Hewan, Nasrullah, beserta beberapa direktur di lingkup Ditjen PKH, serta turut hadir pula para pimpinan perusahan dan para peternak mandiri dari berbagai wilayah untuk berdiskusi mengenai langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya.
Dalam rembuk tersebut, Nasrullah mengatakan bahwa dengan adanya asosiasi-asosiasi yang ada di perunggasan ini, harapannya bisa menjadi forum yang efektif untuk berkoordinasi dan mengupayakan jalan keluar mengenai permasalahan yang terjadi di perunggasan seperti saat ini.
Baca Juga: Harga Ayam Hidup Anjlok, Peternak Gelar Demo di Kemenko Perekonomian dan DPR RI
“Untuk permasalahan produksi sendiri, di perunggasan ini yang saya lihat yang lebih genting adalah masalah di hilirnya, sehingga kalau permasalah hilir ini terkendali, industri perunggasan akan bisa berjalan dengan baik ke depan,” ucap Nasrullah.
Dari hadir rembuk tersebut menghasilkan beberapa keputusan jangka panjang dan jangka pendek. Untuk jangka pendeknya sendiri para stakeholders sepakat bahwa akan ada kenaikan harga ayam hidup terutama di area Jabodetabek, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan ini akan terus dikawal dan akan terus dievaluasi bersama.
Sementara itu untuk beberapa perusahaan yang melakukan on-off penjualan pun diharapkan bisa diperbanyak jumlah perusahaannya, agar permasalahan kelebihan suplai ini bisa lebih terjaga. Untuk langkah jangka panjangnya sendiri semua sepakat bahwa dalam menindaklanjuti permasalahan ini perlu dibentuk gugus tugas untuk perunggasan nasional yang melibatkan stakeholders perunggasan.
Johni Martha selaku Sekretaris Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri yang juga hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa suasana ayam ini tidak pernah mereda selama 8 tahun belakangan.
Johni mengibaratkannya sebagai sebuah benang. Industri ayam seolah seperti benang yang kusut dan basah pula, sehingga perlu sesegera mungkin dicari titik temunya.
“Saya ingin memastikan bahwa dua tahun ke depan kita semua bisa mencari solusi yang tepat dari permasalahan produksi ayam ini,” ujarnya.