Sekam padi sering digunakan sebagai alas pemeliharaan broiler (sumber Dok. Pribadi)
Sektor perunggasan merupakan salah satu sektor terpenting dalam memenuhi kebutuhan manusia akan pangan. Hasil produknya seperti daging ayam merupakan salah satu komoditi yang paling dibutuhkan, mengingat daging ayam memiliki segudang nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh manusia. Namun, dewasa ini usaha di sektor perunggasan kerap kali dituding oleh masyarakat karena menyebabkan pencemaran udara yang kian meresahkan, khususnya masalah bau kandang, terlebih lagi apabila lokasi kandang berdekatan dengan pemukiman warga.

Dibalik sebuah tempat penangkaran ternak, terdapat isu pencemaran udara yang tidak pernah lepas dari keresahan masyarakat, yakni bau kandang. Upaya demi upaya dilakukan untuk mencegah isu penyebab penyakit saluran pernafasan pada ayam dan manusia ini

Tingginya kandungan nitrogen pada kotoran ayam mengindikasikan bahwa adanya ketidaksempurnaan pencernaan pada ayam. Hal tersebut dikarenakan kadar protein pada pakan ayam tidak mampu diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh ayam. Kelebihan protein atau unsur nitrogen akan dikeluarkan dalam bentuk asam urat, amonia dan urea. Feses yang dieksresikan kemudian mengalami dekomposisi oleh mikroorganisme bersama enzim uricase dan urease yang kemudian menyebabkan bau kandang.
Semakin menyengatnya aroma tidak sedap yang ditimbulkan, sama dengan semakin tingginya kadar amonia yang terdapat dalam kandang. Kadar amonia yang tinggi dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi kesehatan ayam maupun manusia. Hal demikian disampaikan oleh Rohmad Susilowarno, S.Pt yang merupakan Pimpinan Produksi, CV Berkah Putra Chicken, ketika dijumpai di Tajurhalang, Kabupaten Bogor, Rabu (9/3). Susilo mengatakan peternakan ayam tidak akan lepas dari isu bau kandang. Apabila tidak ditangani dengan serius, maka akan menyebabkan efek negatif terhadap kesehatan yang berimplikasi kepada performa ayam.
“Bau kandang yang disebabkan oleh tingginya kadar amonia merupakan isu lingkungan yang dapat merugikan semua mahluk hidup. Tidak hanya performa ayam yang menurun, namun bau kandang juga memberikan efek yang membahayakan bagi kesehatan ayam dan manusia,” kata Susilo.

Baca juga : Optimalisasi Produksi dengan Kandang Closed House

Kadar amonia yang masih dapat ditolerir oleh broiler adalah 5 ppm (Part per Million). Apabila kadar amonia melebihi 5 ppm, maka kesehatan ayam baik saluran pernafasan dan penglihatannya pun akan terganggu. Gangguan pada penglihatan diawali dengan terjadinya infeksi pada mukosa mata yang kemudian gas amonia larut dalam cairan mata. Iritasi pada mata ini menyebabkan konjungtivitis, yaitu mata seperti bengkak dan berwarna kemerahan. Kejadian terparahnya apabila kadar amonia ini semakin tinggi akan menyebabkan kebutaan pada mata ayam.
Selain mengganggu penglihatan, amonia juga menyebabkan kerusakan pada saluran pernafasan. Kadar amonia yang terlalu tinggi dapat menyebabkan ayam terkena siloastasis, yakni terhentinya gerakan silia atau bulu getar, sehingga kemungkinan terparahnya ialah desiliosis atau kerusakan bulu getar. Kerusakan pada bulu getar yang disebabkan oleh kadar amonia yang terlalu tinggi seperti sebuah domino effect karena bulu getar merupakan garda terdepan pertahanan ayam.
Dalam kata lain, apabila bulu getar sudah mengalami kerusakan, maka ayam menjadi lebih rentan terkena penyakit pernasan seperti ND (Newcastle Disease) dan CRD (Chronic Respiratory Disease). Dengan rusaknya bulu getar tersebut, maka bukan tidak mungkin jika penyakit seperti ND dan CRD berkolaborasi dengan penyakit pernafasan lainnya.
Tak hanya kesehatan, kadar amonia yang berlebih juga dapat menghambat pertumbuhan kerangka tubuh ayam. Kadar amonia yang telalu tinggi menyebabkan ayam berada di kondisi alkalosis, yaitu pH cairan tubuh ayam termasuk plasma darah menjadi basa. Dalam kondisi ini, protein plasma akan mengikat ion kalsium darah yang semestinya disimpan dalam jaringan tulang. Oleh sebab itu, pengontrolan amonia pada kandang unggas sangat penting dilakukan untuk menjamin pengurangan emisi amonia dan menciptakan lingkungan kandang yang lebih sehat.
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi April 2022 ini dilanjutkan pada judul “Penanganan bau kandang”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153