Formulasi bahan pakan yang tepat dapat menurunkan biaya pakan
Oleh : M. Domi Sattyananda, S.Pt
Biaya pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya pokok produksi dari sebuah kegiatan budi daya ayam ras petelur. Namun akhir-akhir ini para peternak harus menerima kenyataan bahwa harga bahan pakan komponen utama penyusun ransum seperti jagung dan bungkil kedelai terus mengalami kenaikan.

Harga bahan pakan seperti jagung dan bungkil kedelai yang stabil tinggi pada saat ini membuat para peternak harus mencari berbagai cara untuk bisa menekan biaya produksi. Salah satunya dengan melakukan formulasi ulang tanpa mengurangi nilai nutrisi pakan.

Jagung merupakan komponen bahan pakan yang paling banyak digunakan untuk pakan ayam ras petelur. Ketersediannya yang cukup, mudah didapatkan, dan memiliki kandungan energi yang tinggi membuat jagung menjadi primadona dalam pemenuhan sumber energi pakan ayam ras petelur. Sedangkan untuk sumber energi lain memang sudah tersedia beberapa alternatifnya secara lokal seperti gaplek, gandum, maupun bungkil inti sawit. Akan tetapi sumber energi alternatif tersebut masih belum mampu menandingi jagung sebagai sumber energi utama bagi ayam ras petelur. Menjadi suatu keresahan sendiri bagi para formulator dan peternak apabila harga jagung naik drastis mengingat penggunaannya bisa mencapai 50-60% dalam formulasi pakan.
Sedangkan untuk komponen kedua yang paling banyak digunakan dalam pakan adalah bungkil kedelai sebagai sumber protein yang penggunaannya dalam pakan antara 20-30%. Namun untuk bahan pakan yang kedua ini juga terus menerus mengalami kenaikan harga karena sangat bergantung pada kondisi perdagangan dunia. Bungkil kedelai merupakan sumber protein yang paling umum digunakan untuk pakan sumber protein, baik untuk ayam ras maupun untuk babi. Turunnya produksi dari negara produsen dan ditambah lagi permintaan yang tinggi untuk bungkil kedelai membuat harga komoditas tersebut cenderung stabil tinggi.
Menimbang harga komoditas yang terus berada di level stabil tinggi, formulator mau tidak mau harus mencari formula alternatif tanpa mengurangi nilai nutrisi dari pakan yang digunakan. Menurut Budi Tangendjaja, Ph.D selaku pakar di bidang formulasi ransum, kadang kala peternak terpaku dengan kondisi yang ada dan terpaku dengan formula yang ada, sehingga tidak mau mengganti bahan pakan. Oleh karena itu penting bagi nutrisionis untuk bisa memberikan formula yang tetap berkualitas namun tanpa banyak mengurangi kandungan nutrisi dari pakan. 
“Formula alternatif itu tujuannya mengurangi harga dari pakan yang digunakan oleh peternak. Di dalam proses produksi telur, pakan merupakan biaya yang terbesar saat ini. Pakan jika diasumsikan harga per kilogram Rp6.500 dan FCR itu 2,3 maka kontribusi pakan dalam biaya pokok produksi saja sudah hampir Rp15.000 per kilogram,” ujar Budi dalam webinar bertemakan ”Mencari Bahan Baku Alternatif Ayam Ras Petelur”, Rabu (21/4).
Dalam suatu kegiatan budi daya ayam ras petelur, peternak harus menyisihkan sebagian dari keuntungannya untuk sapronak di periode depannya. Salah satu contoh yaitu untuk biaya pullet. Menurut Budi, jikalau dihitung kira-kira umur 16 minggu sudah langsung transfer untuk bertelur, maka kisaran harga pullet berada di Rp 70.000, maka kontribusinya itu dihitung dengan cara membagi dengan kontribusi telur per ekor di akhir periode. 
“Katakanlah asumsi per ekor itu bisa berproduksi sebanyak 23 kilogram sampai akhir periode di 85 minggu, maka biaya yang harus disisihkan per kilogram telur untuk seekor pullet adalah sekitar Rp3.000,” ujar Budi.
Lebih lanjut menurut Budi, asumsi biaya untuk vaksin dan obat dari pullet sampai layer bisa mencapai Rp3.500 karena akhir-akhir ini peternak dihadapkan dengan semakin tingginya tantangan penyakit di lapangan. Maka jika asumsi yang sama seperti pullet di atas digunakan untuk obat-obatan (produksi 23 kg per ekor, umur produksi hingga 85 minggu) hasilnya sekitar Rp150 per kilogram telur. a
Baca Juga: Maksimalkan Potensi Bahan Pakan dengan Formulasi yang Tepat
“Untuk biaya komponen yang lain seperti penyusutan kandang, listrik, upah pekerja itu kira-kira Rp30.000 per ekor. Maka kalau dikonversi ke hitungan per kilogram telur ada di sekitar Rp1.300. Jadi total produksi telur kalau pakan Rp6.500 dengan konversi FCR 2,3 mungkin ada di harga Rp19.400 per kilogam, kalau mau menyertakan harga ayam apkir dengan asumsi 2 kilogram itu Rp40.000 dibagi 23 kilogram maka hasil dari penjualan ayam apkir tersebut bisa mengurangi harga telur sebesar Rp1.740 per kilogramnya,” papar Budi.
Maka dari itu jika peternak bisa menghemat biaya produksi dari formulasi ulang ransum pakan, akan ada margin yang bisa didapat dari penghematan biaya pakan. Perlu diingat bahwa yang dikonsumsi oleh ayam adalah nilai nutrisi yang terkandung dalam bahan pakan, tidak harus terpaku dengan bahan pakan utama seperti jagung dan bungkil kedelai. Masih menurut Budi, agar biaya bisa ditekan, berarti harus mencari alternatif bahan pakan yang bisa digunakan dan tersedia. 
“Yang dihitung itu bukan bahan pakannya, tetapi kandungan gizinya. Kalau berbicara masalah kandungan nutrisi, bisa diperoleh dari berbagai jenis bahan pakan tidak hanya jagung dan bungkil kedelai. Maka dari itu pekerjaan rumah bagi peternak adalah perbaikan FCR, juga hasil produksi telurnya yang perlu perbaikan secara terus menerus. Kalau peternak bisa mengusahakan agar FCR itu mencapai 2,15 dan pakannya bisa ditekan hingga Rp6.000 saja, maka biaya produksi itu bisa turun hingga Rp15.150 yang tadinya di kisaran Rp 17.000-an per kilogram.” 
Bahan pakan alternatif yang bisa digunakan dari sumber energi dan protein alternatif tanpa mengurangi nilai nutrisi bisa bermacam-macam. Untuk sumber energi utama yang biasanya jagung, bisa diganti alternatifnya dengan gaplek atau singkong, sorghum, juga bungkil inti sawit hasil dari pengolahan minyak sawit. Untuk sumber protein dibagi dua berdasarkan sumbernya yaitu nabati dan hewani. Untuk sumber protein nabati bisa dari bungkil kedelai, corn gluten meal, rapeseed meal (canola dari kanada), Dried Distilled Grain with Solubles (DDGS), full fat soya bean, hingga bungkil biji bunga matahari. 
Sementara itu untuk protein hewani bisa berasal dari tepung ikan, tepung daging (MBM) atau poultry byproduct meal, tepung bulu, hingga blood meal. “Kalau dilihat suplai protein dunia itu kedelai paling utama. Setelahnya yakni saat ini untuk sumber protein ada pula DDGS sebagai sumber protein yang mulai dominan digunakan untuk substitusi. Penggunaannya menjadi nomor dua setelah bungkil kedelai dengan produksi 45 juta ton. Untuk biji-bijian sumber energi memang jagung yang paling tinggi. Jika jagung tidak ada, bisa gunakan gandum, setelahnya beras dalam bentuk menir,” Kata Budi.
Untuk mendapatkan formula ransum yang efisien dengan nilai nutrisi yang sesuai, Budi menggunakan aplikasi excel dengan parameter bahan pakan yang sudah diinput seperti nilai nutrisi, maksimal dan minimal penggunaan, serta harga. Setelahnya diformulasikan menggunakan metode least cost formulation. 
Menurut Budi Tangendjaja, ketika ransum complete feed dengan harga awal sebesar Rp6.153 ternyata bisa turun menjadi Rp5.997 per kilogram dengan mengikutsertakan DDGS ke dalam formulasi ransum. Namun hal itu dengan catatan asumsi harga per kilogram DDGS sebesar Rp5.500 dan penggunaan maksimal dalam formulasi ransum pakan sebesar 10%.
Usaha budi daya yang efisien merupakan hal yang mutlak saat ini. Apalagi persaingan yang semakin ketat antarpelaku usaha mewajibkan kegiatan budi daya harus dilaksanakan dengan seefisien mungkin. Dengan melakukan penghematan melalui substitusi bahan pakan bisa menjadi sebuah solusi alternatif untuk meningkatkan margin yang bisa dimaksimalkan oleh peternak. *Wartawan Poultry Indonesia