Lesi pada sekum akibat Eimeria tenella (Sumber: Cui et al., 2017)
Oleh: drh. Esti Dhamayanti*
Koksidiosis merupakan masalah yang sudah sering terjadi di peternakan sehingga insan perunggasan telah akrab dengan penyakit ini. Parasit merupakan makhluk hidup yang dapat berperan sebagai agen patogen yang cukup unik dalam menginvasi inang. Parasit bekerja seperti seorang mata-mata/spy kelas atas yang mengendap masuk ke dalam tubuh inang dan berusaha untuk bersembunyi atau mengelabui sistem imun tubuh sehingga dapat terus menggasak nutrisi dari inang untuk tetap bertahan hidup dan bereproduksi.

Penanganan koksidiosis masih menjadi tantangan terbesar pada dunia perunggasan. Hal ini dapat dipengaruhi oleh siklus hidup dan onset terjadinya infeksi spesies Eimeria yang berbeda. Ketepatan dalam pengetahuan siklus hidup protozoa ini dapat meningkatkan daya kerja obat sehingga tindakan pengendalian koksidia dapat berjalan dengan baik dan dapat menekan biaya produksi

Turunnya kemampuan ayam untuk menyerap nutrisi akibat kerusakan usus dan didelegasikannya nutrisi yang didapat untuk sistem imun, dapat melawan koksidiosis maupun penyakit lainnya yang mungkin mengikuti. Melihat hal tersebut, tentu pencegahan maupun pengendalian koksidiosis perlu dilakukan. Artikel ini akan membahas mengenai jenis Eimeria yang ditemukan pada ayam di Indonesia, perbedaanya, serta faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan kontrol koksidia.
Identifikasi Eimeria
Koksidiosis pada ayam yang umum ditemukan yaitu oleh protozoa gastrointestinal dari filum Apicomplexa dengan genus Eimeria. Spesies Eimeria yang banyak dilaporkan di Indonesia dan memiliki kepentingan secara ekonomi pada ayam ras yaitu E. tenella, E. maxima, E. necatrix, E. acervulina, dan E. brunetti.
Perbedaan dari berbagai jenis Eimeria tersebut dapat dibedakan dari morfologi dan ukuran ookista, bagian usus yang terinfeksi, invasi pada jaringan usus, dan lamanya siklus hidup. Perbedaan tersebut akan membantu dalam identifikasi jenis Eimeria, berpengaruh terhadap tanda klinis yang ditimbulkan, dan jenis ayam ras yang terserang.
Sekilas jika dilihat secara lokasi, E. necatrix dan E. maxima menyerang pada bagian usus yang sama, namun jika dilihat secara ukuran, ookista dan schizont terlihat berbeda. E. maxima memiliki ookista yang berukuran lebih besar dibandingkan E. necatrix. Sebaliknya, ukuran schizont E. necatrix cenderung lebih besar dibandingkan E. maxima. Lokasi terjadinya lesi akibat Eimeria tidak hanya terjadi pada usus halus saja, namun juga dapat ditemukan pada sekum (E. tenella) dan rektum (E. brunetti).
Baca juga : Cegah Tetelo Masuk Kandang
Lesi yang ditimbulkan setiap Eimeria dapat dikatakan memiliki perbedaan. Infeksi E. tenella akan menunjukkan adanya diare berdarah peluruhan sel yang membentuk cecal core. Infeksi E. necatrix menunjukan adanya white spots pada usus halus. Lesi white spots merupakan koloni schizont yang memang berkembang pada usus halus, sementara fase gametogony E. necatrix terletak pada sekum. Infeksi E. acervulina menyebabkan adanya penebalan mukosa usus.
Efek patologis secara umum akibat koksidiosis yaitu anemia akibat perdarahan pada usus dan terganggunya struktur mukosa saluran pencernaan, sehingga nutrisi pakan tidak dapat terserap dengan baik. Koksidiosis termasuk dalam self-limiting disease. Koksidiosis dengan kata lain, dapat sembuh sendiri, dengan catatan tergantung oleh jumlah ookista infektif yang tertelan maupun status imunitas ayam.
Tantangan mengatasi koksidiosis
Penanganan koksidiosis masih menjadi tantangan terbesar pada dunia perunggasan. Hal ini juga dapat dipengaruhi oleh siklus hidup dan onset terjadinya infeksi setiap spesies Eimeria yang berbeda. Infeksi maupun timbulnya gejala klinis akibat E. tenella terjadi setelah ayam menelan setidaknya 1.000-3.000 ookista infektif. Berbeda dengan E. necatrix yang memerlukan setidaknya 75.000-100.000 ookista infektif, sementara E. maxima sekitar 200.000 ookista infektif untuk menyebabkan infeksi.
Informasi jumlah ookista yang dibutuhkan Eimeria pada ayam untuk menyebabkan infeksi dan kecepatan reproduksi Eimeria dapat membantu untuk mengetahui bahwa Eimeria yang membutuhkan ookista dalam jumlah besar dan memiliki reproduksi lambat atau rendah cenderung ditemukan pada ayam yang berumur panjang, seperti pada layer dan breeder.
Berbicara mengenai siklus hidup, parasit melewati berbagai macam fase dan pada fase tertentu, akan memiliki reaksi yang berbeda pada tubuh inang maupun terhadap obat. Jika pengobatan dilakukan pada fase ookista, maka obat tersebut tidak dapat bekerja dengan baik. Ketepatan dalam pengetahuan siklus hidup inilah yang dimaksud untuk meningkatkan daya kerja obat sehingga tindakan pengendalian koksidia dapat berjalan dengan baik dan dapat menekan biaya produksi.*Mahasiswi Program Magister Sains Veteriner Minat Penyakit dan Manajemen Kesehatan Unggas, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2022 ini dilanjutkan pada judul “Pengendalian koksidia”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153