Proyeksi masyarakat dunia terhadap konsumsi sumber pangan animal-based
Oleh : Elinda Luxitawati*
Penyediaan pangan menjadi tantangan penting yang pasti dihadapi oleh masyarakat global seiring dengan pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan juga perubahan pola konsumsi. Perluasan produksi pangan seperti yang telah berjalan hingga hari ini, dititikkan kepada sektor produktif pertanian dan peternakan.

Demi keberlangsungan pemenuhan pangan global yang terbentur oleh isu lingkungan, dibutuhkan kesadaran semua pelaku industri (termasuk sub-sektor perunggasan) untuk mempertimbangkan opsi perbaikan pengelolaan kotoran dan nutrien dengan serius

Estimasi produksi pangan dari kedua sektor tersebut setidaknya harus meningkat sebesar 50% di tahun 2030 atau dua kali lipat pada tahun 2050 untuk menyediakan pangan bagi sekitar 9 miliar penduduk dunia di masa depan (Bellet dan Rushton, 2019), lantaran proyeksi populasi dunia akan mencapai 8,5 miliar pada tahun 2030 dan 9,7 miliar pada tahun 2050 (United Nation, 2019). Oleh karenanya, industrialisasi sektor peternakan dunia baik dari produksi hingga pengolahan produknya, terus berekspansi untuk memenuhi pangan yang dapat di akses oleh masyarakat secara cukup dan merata di masa depan.
Selanjutnya, pembangunan ekonomi suatu negara biasanya disertai dengan perbaikan persediaan pangan dan status gizi dari keseluruhan penduduk. Kondisi ini secara tidak langsung membentuk transisi pola makan masyarakat dari vegetable-based menuju animal-based yaitu pola konsumsi yang bersumber dari daging, ikan, telur, dan produk olahan susu.
Berdasarkan analisis pola konsumsi global yang dipublikasikan oleh peneliti Irlandia, Kearney (2010), menjelaskan bahwa pola konsumsi produk peternakan hingga tahun 2050 menunjukkan tren konsumsi yang meningkat khususnya telur dan daging unggas. Shahbandeh (2022) menyebutkan bahwa produksi telur dan daging unggas dunia mencapai 86,67 juta ton dan 100,58 juta ton pada tahun 2020 lalu, dengan gambaran tren produksi yang terus bertumbuh.
Baca juga : Proyeksi Industri Daging Ayam Dunia 2022
Pertumbuhan tersebut disertai dengan perubahan struktural di dalam sektor, yang ditandai oleh adanya intensifikasi industri dengan fasilitas serta jangkauan operasional industri yang lebih besar dan terintegrasi. Perubahan struktural industri unggas dipengaruhi oleh permintaan pasar, inovasi, dan skala ekonomi (Gerber dkk., 2007). Oleh sebab itu, maka tidak asing lagi bila sektor perunggasan yang terdiri atas berbagai unit operasional industri seperti praktik pemuliaan (breeding), penetasan (hatching), serta produksi telur dan daging (layer/ broiler farming) berkembang di berbagai negara sebagai unit produksi yang mencukupi kebutuhan dan tren konsumsi masyarakat.
Ancaman lingkungan menghadang
Dibalik perluasan industri pertanian dan peternakan, ancaman berbahaya bagi kelangsungan hidup ke depan muncul dari lingkungan. Pemanasan global (global warming), polusi udara, pencemaran air dan tanah, potensi bencana banjir, dan hilangnya keanekaragaman hayati, merupakan deretan kemungkinan bahaya yang pasti muncul seiring dengan berjalannya waktu. Terlebih masalah deforestasi dan alih fungsi lahan yang tetap berlangsung sebagai inisiasi pembukaan unit produksi pangan.
Food and Agriculture Organization (2021) mencatat bahwa intensifikasi agrikultur mendorong deforestasi global. Lebih dari separuh hilangnya hutan di seluruh dunia, disebabkan oleh alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian dan infrastruktur. Sebesar 75% hutan yang hilang di Afrika dan Asia dikonversi menjadi lahan pertanian, sedangkan hampir tiga per empat hutan di Amerika Selatan dialihfungsikan menjadi lahan penggembalaan ternak. Saat ini, lahan pertanian dan penggembalaan menempati 40% dari permukaan tanah global yang tersedia.  
Pembukaan lahan tersebut menghasilkan masalah baru, sejak unit produksi skala besar berfokus pada produksi ternak dan pemenuhan pakan. Pabrik pupuk, pabrik pakan, industri obat-obatan ternak, dan unit produksi lain tercipta mendampingi aktivitas produksi peternakan yang tentunya membutuhkan beberapa input dari industri yang lain. *Mahasiswa Lulusan Pascasarjana, Animal Life Science, Kangwong National University, Korea Selatan

Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2022 dengan judul “Sub-Sektor Perunggasan di Balik Perluasan Peternakan Global dan Isu Lingkungan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153