Oleh : Arief Daryanto*
Dalam rangka menyiapkan lulusan menghadapi perubahan sosial, ekonomi, budaya dan dunia kerja yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19 dan kemajuan teknologi Industrial Revolution 4.0 (IR 4.0) yang pesat, Perguruan Tinggi dituntut untuk dapat merancang dan melaksanakan proses transformasi pembelajaran untuk dapat membekali dan menyiapkan lulusannya agar menjadi generasi pembelajar sejati yang unggul, terampil, lentur dan ulet (agile learner).

Pendidikan vokasi yang sering dikenal dengan TVET (Technical and Vocational Education and Training) memiliki peranan yang sangat strategis dalam menghasilkan SDM unggul suatu negara

Berdasarkan Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan tinggi di Indonesia diklasifikasikan dalam 3 jenis pendidikan, yaitu Pendidikan Akademik, Pendidikan Vokasi, dan Pendidikan Profesi/ Ahli. Pendidikan Akademik merupakan sistem pendidikan yang mengarah pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni tertentu. Pendidikan Vokasi adalah pendidikan mengacu kepada penguasaan keahlian terapan tertentu. Pendidikan terapan lebih banyak praktik dibandingkan teori.
Pendidikan Vokasi merupakan kebalikan dari Pendidikan Akademik, praktik dan teorinya berbanding 60:40. Pendidikan Profesi merupakan lanjutan dari pendidikan akademik setelah mendapatkan gelar Sarjana (S1). Pendidikan Profesi dipersiapkan untuk peserta didik agar memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus dan juga mendapatkan gelar profesi/keahlian tertentu.
Pendidikan vokasi yang sering dikenal dengan TVET (Technical and Vocational Education and Training) memiliki peranan yang sangat strategis dalam menghasilkan SDM unggul suatu negara. TVET berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan daya saing melalui peningkatkan produktivitas baik di tingkat individu, perusahaan maupun nasional. Peningkatan produktivitas mengarah kepada peningkatan daya saing global dan lapangan kerja, atau membantu dalam proses transformasi pergeseran pekerjaan dari sektor yang produktivitasnya rendah ke sektor yang produktivitasnya tinggi.
Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Asian Development Bank (ADB), menyatakan bahwa “All countries invest in technical and vocational education and training (TVET). In fact, correlations indicate that the higher the level of country income, generally the higher the proportion of students enrolled in TVET institutions,” (ADB, 2008).
Banyak studi-studi lain yang menyarankan hal yang sama bahwa negara-negara yang maju dan sukses, atau negara yang memiliki daya saing global yang tinggi adalah negara-negara yang banyak berinvestasi dalam pengembangan keterampilan (skills) sebagai instrumen kunci untuk pertumbuhan. Tidaklah salah kalau Pemerintah sekarang tengah mereformasi pendidikan vokasi untuk menghasilkan SDM unggul yang berdaya saing global dengan didukung kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan IDUKA (Industri dan Dunia Kerja).
Terkait pendidikan vokasi, dalam rangka menghadapi tantangan di era globalisasi dan Industrial Revolution 4.0, soft skills atau disebut sebagai keterampilan generik menjadi bagian tak terpisahkan dengan sistem pendidikan. Pengembangan dan peningkatan soft skills juga dapat terlihat dari kerangka pemikiran yang disampaikan dalam World Economic Forum (WEF) yang mengembangkan sebuah framework yang disebut Framework 21st Century Skills.
Keterampilan abad ke-21 terutama didasarkan pada keterampilan pembelajaran lebih dalam seperti berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kerja tim. Keterampilan tersebut juga terdiri dari kombinasi soft skills (seperti interaksi, kolaborasi, pemrosesan informasi, dan manajemen SDM), dan hard skills (dengan fokus utama IT. literasi digital, literasi media, dll.). Ada juga yang mendefinisikan keterampilan “abad ke-21” ini meliputi berpikir kritis sekaligus pemecahan masalah, kreativitas dan inovasi, komunikasi, juga kolaborasi.
Hard skills merupakan kompetensi teknis. Hard skills memiliki karakter unik, yaitu merupakan keterampilan berbasis mental atau kognitif, lebih mudah diukur kinerjanya daripada soft skills. Hard skills dipengaruhi oleh IQ/Intelligence Quotient. Pada sisi lain, soft skills memiliki karakter, yaitu: mengeksploitasi perasaan (affective) dan perilaku, dipengaruhi oleh EQ/Emotional Quotient, identik dengan keterampilan interpersonal dan manajerial dan dapat ditransfer penggunaannya pada konteks atau pekerjaan yang lain.
Soft Skills Menjadi Lebih Penting
Hasil survei terbaru yang diterbitkan oleh California State University, Fresno, pada bulan Juli 2021, menyatakan bahwa hard skills penting bagi para pencari kerja yang melamar ke perusahaan agribisnis (termasuk industri peternakan). Tetapi perusahaan agribisnis mengatakan bahwa mereka semakin mencari kandidat yang memiliki apa yang disebut dengan soft skills yang berhubungan dengan pengembangan pribadi, karakter dan kemampuan nonteknis lainnya.
Dalam survei terbaru yang dilakukan oleh California State University, Fresno, perusahaan agribisnis mencantumkan etos kerja paling sering sebagai keterampilan penting yang ingin mereka lihat pada karyawan. Atribut lain yang masuk 10 besar adalah komunikasi, dependability (keteguhan), berorientasi pada tugas, pembelajar seumur hidup, agricultural industry knowledge (pengetahuan industri pertanian), manajemen waktu, kerja tim, komunikasi tertulis, dan ambisi. Dari 10 keterampilan teratas pengusaha pertanian yang terdaftar sebagai yang paling penting, sembilan di antaranya dianggap sebagai keterampilan lunak (soft skills), pengetahuan industri pertanian mewakili satu-satunya keterampilan teknis (hard skills) yang masuk dalam daftar 10 besar.
Hasil survei California State Univetsity tersebut sesuai dengan penelitian Thomas J. Stanley, Ph.D yang diterbitkan dalam bukunya yang berjudul “The Millionaire Mind”. Ia menemukan bukti bahwa kejujuran ternyata menempati tempat teratas dalam menunjang kesuksesan seseorang. Kejujuran, yang merupakan salah satu aspek dari moralitas yang baik, terbukti menjadi faktor penentu sukses tidaknya seseorang. Karena orang yang jujur akan mampu masuk atau diterima dengan mulus ke berbagai lini kehidupan.
Apa faktor pertama yang berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang? Ke 10 faktor itu semuanya adalah soft skills. (1) Kejujuran (integritas), (2) Kedisiplinan, (3) Pergaulan (good interpersonal skill), (4) Dukungan dari pasangan hidup, (5) Bekerja lebih keras dan cerdas dari yang lain (work smart and work hard), (6) Mencintai apa yang dikerjakan (work heart), (7) Kepemimpian yang baik dan kuat (good and strong leadership), (8) Memiliki semangat dan berkepribadian kompetitif (9) Pengelolaan kehidupan yang baik (good life management), (10) Kemampuan menjual gagasan dan produk (ability to sell idea and product). *Pengamat Ekonomi Industri Peternakan, Adjunct Professor Business School University of New England Australia dan Dekan Sekolah Vokasi IPB University
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2021 ini dilanjutkan pada judul “Pengalaman SV-IPB”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153