Ir. Syahrul Bosang
Oleh : Ir. Syahrul Bosang*
Dalam menjawab isu isu yang berkembang di lapangan, penulis yang juga Ketua dari Tim Analisa Supply Demand melihat bahwa saat ini bukan lagi masalah keseimbangan supply demand, tetapi masalah ketidakseimbangan model bisnis. Sehingga kebijakan cutting yang selama ini dilakukan sebetulnya adalah langkah yang keliru. Karena timbul tim baru yang bernama tim kajian penataan perunggasan nasional. Logika sederhananya, jika kebijakan cutting itu merupakan solusi, maka seharusnya tidak perlu ada tim lagi untuk mengatur kestabilan komoditas perunggasan. Apapun yang terjadi, dalam perspektif penulis permasalahan perunggasan saat ini baik untuk layer dan broiler akarnya berada di on farm, yaitu Biaya Pokok Produksi yang tinggi sehingga para peternak tidak mampu bersaing dalam bisnis yang sifatnya seasonal market.

Permasalahan yang terjadi saat ini memang bukan permasalahan yang baru, namun sudah terjadi sejak 30 hingga 35 tahun yang lalu. Kejadian yang dialami oleh para pelaku budi daya saat ini terasa semakin berat untuk dijalani karena pemain di bidang perunggasan semakin banyak dan semakin ketat

Sementara itu, hingga saat ini di Indonesia belum terdapat industrial safety net. Dengan adanya hal tersebut, maka peternak nantinya tidak akan remuk di arena persaingan. Bukan berarti persaingan itu harus dihilangkan, karena persaingan usaha itu diperlukan supaya konsumen terjamin dari segi ketersediaan dan mendapatkan barang dengan harga yang terjangkau.
Bisnis di bidang perunggasan itu murni untuk mencetak keuntungan dan tidak terlepas dari fakta dan matematika. Faktanya, ketika memelihara barang yang jelas, maka tahap selanjutnya adalah bagaimana caranya memastikan agar produk tersebut bisa diproduksi secara efisien dan berkualitas, dengan harga yang terjangkau. Sekali lagi, kunci dari berbisnis adalah barangnya efisien, berkualitas, dan harga yang terjangkau. Sedangkan matematikanya adalah bagaimana caranya untuk mendapatkan keuntungan. Bisnis itu tujuannya untuk mencetak keuntungan, bisnis itu bukan penelitian, juga bukan trial and error, tapi bisnis itu murni untuk komersil. Sehingga pasar tidak akan bisa dipaksakan untuk membeli produk yang tidak memenuhi selera konsumen.
Tantangan dalam pengembangan bibit lokal
Beberapa dekade silam di era Presiden Soeharto, Indonesia juga pernah mencoba untuk membuat galur asli Indonesia dengan nama Bromo oleh Sugiharto dari PT Anputraco, namun karena satu dan lain hal, akhirnya galur tersebut juga hilang dari muka bumi akibat tidak mampu bersaing. Pada rentang waktu tahun 1995 hingga 2000 banyak sekali strain di dunia yang musnah akibat banyaknya penyakit yang ‘lolos’ dan diturunkan secara vertikal dari induk ke keturunannya yang disebut Vertical Diseases Transmission.
Baca juga : Pakan Lokal Dorong Daya Saing Unggas
Dalam kacamata penulis, potensi untuk mengembangkan bibit lokal asli Indonesia perlu mempertimbangkan beberapa hal. Aspek performan dapat diupayakan oleh para geneticist, namun yang perlu disoroti terutama terkait dengan aspek Vertical Diseases Transmission. Sejarah sudah membuktikan bahwa penyakit yang ditularkan secara vertikal dan mampu memusnahkan strain di dunia yaitu lymphoid leukocytes serotype J (ALV-J).
Serangan penyakit tersebut menyebabkan ayam menjadi kerdil, tidak bisa tumbuh dengan sempurna, dengan organ hati yang membesar (Big liver). Jika ayam di GGPS, GPS, dan Parent stock terserang penyakit tersebut, dipastikan angka mortalitas tinggi, produksi ayam galur tersebut akan rendah, dan di final stock tidak akan tumbuh. Lebih jauh jika membahas penyakit yang diturunkan secara vertikal, masih banyak lagi penyakit lainnya seperti Viral Arthritis (VA), Marek’s Diseases (MD), AE, AI, IB, IBD, ND, Mycoplasma, Rheovirus, Chicken Anemia Virus, Salmonella (pullorum), dan lainnya.
Khusus untuk Penyakit ALV-J dapat dideteksi lebih dini dengan jaminan kualitas dari prinsipal, namun jika dilakukan uji lebih lanjut terhadap sampel darah ayam, maka akan terlihat ancaman yang nyata dari penyakit tersebut. Dalam istilah para perusahaan genetik, untuk beberapa penyakit memang masih bisa ditolerir. Maka ambang batas penyakit yang diturunkan secara vertikal diistilahkan dengan free atau clean.
Mengambil contoh untuk penyakit J virus, bisa disebut free atau clean. Ketika strain tersebut sudah diklaim free dari penyakit ALV-J, maka penyakit tersebut sudah tidak akan diturunkan kepada keturunannya. Berbeda halnya clean, penyakit tersebut masih berpotensi untuk mencuat sewaktu waktu, hal itulah yang saat ini sangat ditakuti dan selalu menjadi perhatian dari para pembibit. Maka dari itu, jika Indonesia memiliki perusahaan genetik sendiri yang akan mengembangkan galur murni, sebaiknya tidak hanya melihat AI dan ND saja untuk parameter kesehatannya, karena kedua penyakit tersebut sudah bisa dikendalikan.
Terkait dengan pengembangan galur murni yang dikembangkan oleh pihak lokal di Indonesia, penulis berpendapat jika melakukan pengembangan dengan melibatkan galur murni dari material genetik yang dimiliki oleh perusahaan genetik dunia sebaiknya melakukan komunikasi terlebih dahulu. Tujuannya sudah barang tentu agar tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari terkait dengan hak paten yang dimiliki oleh perusahaan genetik di bidang perunggasan.
Selain itu, penulis juga berpendapat bahwa ketika para pembibit lokal mengeluarkan galur murni tersendiri, tidak serta merta mengurangi kuota impor para perusahaan terintegrasi yang sudah eksisting saat ini. Para pembibit lokal sebaiknya bertarung secara sehat dengan para pembibit yang sudah lama berkecimpung di bidang pembibitan. Karena dikhawatirkan akan menimbulkan ketidakadilan bagi para perusahaan pembibit yang sudah hadir puluhan tahun lamanya di Indonesia. *Anggota Bidang Kajian Ilmiah dan Pembinaan Profesi PB ISPI
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi April 2022 ini dilanjutkan pada judul Pekerjaan rumah pemerintah untuk perunggasan. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153