POULTRYINDONESIA – Jakarta, Saat ini, industri pakan nasional masih mempunyai ketergantungan besar terhadap bahan pakan sumber protein impor. Hal ini tak lepas dari fakta bahwa untuk saat ini bahan pakan lokal yang sudah bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh industri pakan nasional sebatas bahan pakan sumber energi. Fenomena ini membuat para pemangku kepentingan berlomba-lomba mencari alternatif solusi untuk menjawab tantangan ini.
Baca juga : Potensi Industrialisasi Insekta untuk Pakan Unggas
Salah satu alternatif untuk mengatasi kesulitan ini adalah dengan pengembangan sumber protein non-konvensional, seperti maggot. Hal ini menjadi pokok bahasan dalam webinar bertajuk Poultry Techni Class dengan tema “Teknik Budi Daya Maggot dan Aplikasinya dalam Pakan Unggas”. Pada acara yang digelar secara daring melalui aplikasi Zoom, Sabtu (26/3) dihadiri oleh para pemangku kepentingan dari berbagai latar belakang, baik birokrasi, akademisi, praktisi, industri hingga masyarakat umum.
Dalam kesempatan ini, Direktur PT Green Prosa Adikara Nusa , Mujibburrahman banyak menjelaskan terkait teknik budidaya maggot BSF dan potensinya untuk pakan unggas. Menurutnya, banyak ditemui dilapangan dimana para praktisi maggot yang melakukan proses budi daya nya dengan memberikan pakan yang pengadaannya dengan membeli. Tentu hal ini membuat proses produksi maggot menjadi tidak bersaing. Untuk itu, dirinya menyarankan sebaiknya pakan yang digunakan dalam budi daya maggot benar-benar dari limbah organik, seperti yang telah dilakukannya selama ini.
“Kita benar-benar banyak menggunakan sampah dari rumah tangga yang sangat melimpah. Dimana terdapat mesin pemilah sampah otomatis, sehingga didapatkan sampah organik dan anorganik. Nah sampah organik inilah yang kita manfaatkan, sehingga benar-benar zero cost,” tegasnya.
Melalui video dirinya menjelaskan terkait teknik budi daya maggot yang dilakukan olehnya, mulai dari proses pengadaan sampah organik sebagai pakan maggot, proses pemanenan telur maggot, proses penetasan maggot, proses pembesaran hingga proses panen. Mujib melanjutkan bahwa terdapat beberapa titik kritis yang harus diperhatikan oleh praktisi maggot yaitu sumber pakan, time management dan pasca panen.
“Terkait sumber pakan yang memanfaatkan sampah rumah tangga dengan kandungan yang tidak beraturan, maka kita menambahnya dengan limbah dari pangan nutrisi, seperti susu bubuk yang didaerah sini saja keberadaannya melimpah mencapai 5 ton per minggu. Kemudian time management sangat berpengaruh pada cost production dan kualitas kandungan gizi maggot. Untuk itu, kami menargetkan maggot bisa dipanen pada umur 14 hari dengan keseragaman yang sama. Hal ini dikarenakan maggot pada umur 12-14 hari mempunyai kandungan protein terbaik. Kemudian terhir permasalahan pasca panen harus didorong. Pasalnya saat ini banyak praktisi maggot yang hanya berhenti sampai maggot segar. Semua hal ini akan mempengaruhi cost production yang secara nyata akan mempengaruhi daya saing,” jelasnya.
Sementara itu, Ferdiansyah Juhari, selaku Direktur PT Tiga Singa Semesta sangat setuju akan pengembangan bahan pakan alternatif berbasis lokal. Pasalnya dirinya menyadari benar bahwa saat ini industri pakan nasional sangat bergantung pada bahan pakan impor. Hal ini menyebabkan ketika terjadi masalah impor seperti saat ini,maka kondisi gejolak tidak bisa dihindarkan. Hal ini membuat biaya pakan ternak naik, ketidakpastian supply serta HPP peternak tinggi.
Dirinya melihat bahwa tantangan dalam pemanfaat maggot untuk bahan pakan unggas skala produksi adalah terkait keberlanjutan pasokan dan konsistensi kualitas maggot serta tingkat daya saingnya apabila dibandingkan dengan bahan pakan lain yang telah dipakai.Namun demikian, pengembangan maggot ini peru terus dikembangkan. Pasalnya penggunaan bahan pakan alternatif berbasis lokal ini sangat dapat membantu industri pakan nasional.
“Saya berharap kedepan maggot ini pasokannya bisa berkelanjutan serta masuk dari segi bisnis. Untuk itu harus ada pihak yang dapat merangkai praktisi budi daya magot,supplier, industri pakan hingga peternak, sehingga bisa menjadi rantai bisnis yang bagus. Rangkaian ini harus benar-benar dipikirkan dan tidak hanya berhenti pada praktisi pembudi daya maggot saja,” ujar Ferdi.