POULTRY INDONESIA, Surabaya – Ujian dan cobaan silih berganti dialami oleh para peternak layer nasional. Di mana jatuhnya harga telur hingga di bawah BEP membuat para peternak merugi. Pelan- pelan, ada perbaikan harga dan membuat harga telur terkerek naik hingga dalam kondisi wajar. Namun, pada titik tertentu harga telur menjadi meningkat tajam pada akhir Bulan Agustus hingga awal September.
“Harga telur pada tingkat peternak pada Agustus sampai awal September melambung sampai Rp27.000- 27.500 per kilogram, sedang di tingkat konsumen menjadi Rp32.000- 35.000 per kilogram. Namun, harga ini hanya bertahan satu sampai dua minggu saja, selanjutnya turun kembali. Kenaikan itu lebih disebabkan oleh serapan untuk bansos yang cukup besar,” tegas Sukarman seorang Peternak asal Blitar, kala berbincang dengan Poultry Indonesia via telepon, Rabu ( 5/10).
Di sisi lain, Pemerintah Daerah dianjurkan untuk menurunkan inflasi pangan di daerah yang cukup tinggi. Demi  menurunkan inflasi yang cukup tinggi tersebut, dinas terkait banyak melakukan operasi pasar. Tak terkecuali Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur  yang turut serta melakukan intervensi kepada pangan telur dan daging ayam serta daging sapi.
Menurut Sukarman Pemerintah Provinsi Jatim telah melakukan koordinasi dengan para peternak untuk membahas kesepakatan harga operasi pasar telur melalui zoom meeting. Namun, pada keesokan harinya Pemerintah Provinsi serta merta langsung melakukan operasi pasar dengan harga Rp20.000 per kilogram. Di mana harga tersebut di luar kesepakatan saat zoom meeting yang telah dilakukan.
Baca Juga: Mengenal Financial Technology dalam Pengembangan Usaha Peternakan
“Memang pada operasi pasar itu tidak banyak. Namun kondisi itu sudah mengubah kondisi pasar, sehingga banyak pedagang telur yang merugi. Akhirnya menunda pembelian telur ke peternak. Akibatnya, telur di peternak menumpuk dan harga telur pun terus menurun sampai Rp16.500 per kilogram,” terang Ketua Koperasi Putera Blitar ini.
 Di sisi lain, dirinya melihat bahwa dengan harga daging ayam yang anjlok drastis, maka ada kemungkinan telur breeding masuk ke pasar. Hal ini, dikuatkan dengan adanya sejumlah temuan di lapangan tentang adanya peredaan telur breeding ini.
Dengan kondisi yang ada, para peternak telah berulang kali mengajukan untuk audiensi dengan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Namun, tidak ada titik terang untuk beraudiensi, sehingga  para peternak memutuskan untuk melakukan demo di depan gedung Grahadi Surabaya,Selasa ( 4/10).
“Kami menuntut,agar pemerintah menghentikan operasi pasar. Kedua, pemerintah membuat surat edaran pada para breeding farm agar tidak menjual telur ke pasar. Ketiga, mendorong pemerintah untuk membuat Pergub, untuk melindungi peternak rakyat selaku UMKM dan keempat ada audiensi dengan Gubernur Jawa Timur,” pungkasnya.