POULTRYINDONESIA, Purwokerto – Peternakan unggas bukan hanya untuk keperluan penyediaan daging dan telur ayam saja. Namun, lebih pada bagaimana mempersiapkan pangan untuk negeri sendiri dan mendukung tumbuh kembangnya UMKM di Indonesia.
Hal ini seperti disampaikan oleh Pardjuni, Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar), Wilayah Jawa Tengah dalam diskusi dialektika yang berlangsung secara daring dengan tema ” Polemik Fluktuasi Harga Produk Hasil Peternakan Unggas” yang diadakan oleh Ismapeti wilayah III, melalui aplikasi Zoom, Sabtu ( 24/9).
Menurut Pardjuni kalau hanya persoalan pengadaan stok maka harga daging maupun telur ayam impor akan lebih murah. Namun, bagaimana memikirkan tentang keberlangsungan hidup para pelaku usaha di bidang peternakan. Sebab, para pelaku usaha UMKM ini juga memiliki keluarga yang harus dinafkahi.
“Oleh karena itu, saya juga kurang setuju dengan adanya sejumlah strategi yang diterapkan oleh sejumlah perusahaan inti yang memutus sepihak peternak mitranya. Sebab, para peternak mitra masih mempunyai beban keluarga di belakangnya, dan menurut saya usaha kemitraan bukan hanya persoalan pengadaan pangan. Namun harus juga berkontribusi positif bagi pelakunya, kalau diserahkan oleh kapital besar maka akan kalah,” tegasnya.
Baca Juga: Menyongsong HATN 2022, Pinsar Indonesia dan Faterna Unand Gelar Seminar Nasional Ayam dan Telur
Pardjuni juga berpendapat bahwa untuk mengatasi gejolak harga yang seringkali muncul, sebaiknya ada peran pemerintah secara konsisten di dalamnya. Sebab, saat ini kebijakan pemerintah seringkali hanya sebatas seperti pemadam kebakaran. Artinya kalau ada gejolak barulah sibuk menerapkan kebijakan.
Ia juga menyoroti tentang pentingnya berpihak pada UMKM daripada berpihak pada pemilik modal besar. Sebab, jika satu UMKM jatuh, maka masih banyak UMKM yang lainnya.
“Lebih baik menghidupi satu juta UMKM, satu jatuh yang lain tetap hidup, daripada 12 konglomerat,” pungkasnya.