Oleh: Fatiha Az’zikrie Hartan*
Java Sentrisme membawa banyak persoalan sejak dulu. Selain persoalan urbanisasi yang dampaknya masih tersisa hingga sekarang, java sentrisme juga berpengaruh terhadap sektor peternakan. Dengan dalih banyaknya populasi di Pulau Jawa, kaum spekulan melihat ini sebagai peluang sehingga mereka melakukan penambahan stok komoditas yang potensial seperti ayam pedaging. Usaha untuk meningkatkan populasi ayam pedaging di Pulau Jawa cenderung melampaui batas.

Mengatasi masalah oversupply bukan tentang mengurangi stok tanpa memikirkan keberlanjutan, tetapi adalah tentang implementasi keadilan untuk kesejahteraan Bersama.

Dampak tidak hanya dialami oleh peternak di Pulau Jawa, tetapi juga peternak di luar Pulau Jawa. Dampak yang dialami oleh peternak di Pulau Jawa berupa anjloknya harga karena ketersediaan ayam pedaging yang terlalu tinggi daan tidak diimbangi dengan permintaan pasar. Sebaliknya, permintaan ayam pedaging yang tinggi di luar Pulau Jawa tidak dapat diimbangi oleh ketersediaan yang ada sehingga harga ayam pedaging di luar Pulau Jawa cenderung tinggi.
Permasalahan ini bisa diselesaikan dengan tiga langkah utama dengan tingkatan, aktor, dan kesulitan yang berbeda, yaitu pemerintah, akademisi, dan peternak secara bertingkat. Cara yang dapat diterapkan pemerintah sebagai langkah pertama adalah melakukan “transmigrasi” komoditas karkas beku ayam pedaging. Transmigrasi komoditas ini dapat dilakukan dengan menyerap komoditas karkas beku ayam pedaging yang ada di Pulau Jawa, lalu menciptakan sentra-sentra distribusi di luar Pulau Jawa sesuai kebutuhan dan radius yang dapat dijangkau daerah terdekatnya. Jika penyebaran komoditas sudah dilakukan, yang penting untuk diperhatikan berikutnya adalah menjaga setiap sentra distribusi dari spekulan dengan cara mendata secara akurat jumlah karkas beku ayam pedaging yang masuk dan keluar; membuat lisensi khusus bagi distributor tingkat 2 untuk menyalurkan karkas beku ayam pedaging ke daerahnya masing-masing; dan melakukan pelacakan terhadap distributor tingkat 2 untuk memastikan tidak ada penimbunan karkas beku ayam di daerah-daerah tujuan.
Baca Juga: INDEF: Industri Perunggasan Perlu Ditata Ulang
Langkah kedua dari penyelesaian oversupply ini adalah dengan membuka pengolahan ayam pedaging di daerah yang mengalami kondisi tersebut. Selain meningkatkan nilai jual, pengolahan ayam pedaging menjadi produk olahan hasil ternak juga mampu menyerap tenaga kerja tambahan. Tantangan yang dihadapi dari pengolahan komoditas ayam pedaging ini adalah masalah kualitas produk olahan dan keberlanjutan produksi.
Hal lain yang dapat dilakukan peternak sebagai langkah ketiga adalah bersatu dalam wadah kelompok/koperasi. Bersatu dalam hal ini berarti memiliki satu pemahaman, satu visi, dan satu tujuan yaitu kesejahteraan bersama. Selama ini, banyak sekali tantangan yang ada karena peternak-peternak rakyat yang masih soliter, seperti sulitnya menembus pasar, kekuatan sosial yang lemah, bahkan timbulnya oversupply yang disebabkan oleh  persaingan setiap peternak di daerah yang sama sehingga berakhir dengan stok ayam pedaging yang tidak terkendali. *Mahasiswa Fakultas Peternakan IPB University, Koordinator Wilayah II Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia (ISMAPETI)
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Januari 2021 dengan judul “Tiga Langkah Penuntasan “Oversupply” Ayam Pedaging”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153