POULTRYINDONESIA, Yogyakarta – Pengembangan riset yang dilakukan oleh Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk (CPI) yang diberi nama BroilerX menggelar Forum Group Discussion secara daring melalui aplikasi Zoom Selasa, (22/2). Kerjasama antara UGM dengan CPI ini telah berjalan dari Bulan Oktober 2021 yang lalu dan acara kali ini merupakan laporan pengembangan riset yang dilakukan oleh tim BroilerX.
Baca juga : Terobosan Smart Farming CPI dan UGM untuk Efisiensi Lebih Tinggi
Menurut Jati Pikukuh selaku CEO Broiler X, mengungkapkan bahwa BroilerX merupakan aplikasi manajemen dan perangkat monitoring budi daya broiler. Jati menambahkan, bahwa riset pengembangan BroilerX ini yang telah diimplementasi ke kandang berada di tahap monitoring lingkungan.
“BroilerX merupakan produk monitoring, kemudian kami juga membuat smart farming dengan alat semacam temptron. Setelah itu, kami juga melakukan riset di timbangan untuk memudahkan sampling dengan tools yang telah disediakan. Kemudian, riset kali ini baru sampai tahap level di monitoring lingkungan, jadi dari mulai suhu dan kelembaban yang mana kedua parameter itu kita bawa ke lapangan. Jadi, ada 6 kandang yang kami pasang, setiap kandang ada 2 lantai dan setiap lantai kami pasang 6 sensor,” jelasnya.
Selanjutnya, berdasarkan penuturan dari Galuh Adi Insani, S.Pt., M.Sc.  sebagai Ketua Tim Research and Developments untuk produk ini mengungkapkan bahwa kondisi iklim tropis yang ada di Indonesia menjadikan buah pikirnya untuk melakukan pengembangan riset BroilerX ini.
Line yang ada di Indonesia saat ini hanya ada GPS (Grand Parent Stock), PS (Parent Stock) dan FS (Final Stock), sedangkan GGPS dan pure breed masih disediakan dari luar negeri. Dari sini ada beberapa hal yang kita sadari bahwa pengembangan ada di wilayah sub-tropis. Jadi, di iklim tropis itu terdapat culture shock yang menyebabkan ternak itu stres dan pada akhirnya  mengakibatkan munculnya perubahan genetik. Jadi kita semua harus melakukan penyesuaian bahwa perkembangan genetik yang cepat itu perlu didukung oleh lingkungan yang sesuai karena ini faktor penambah,” ungkap Galuh.
Oleh karena itu, Galuh mengembangkan BroilerX yang menjadi Decision Support System (DSS) dengan menggabungkan antara Internet of Things (IoT) dan SaaS (Software as a Service) sebagai Precision Livestock Farming (PLF). Dalam kata lain, BroilerX ini merupakan platform digital untuk mengukur kondisi lingkungan yang memberikan sistem analisis berbasis data.
“Mengapa PLF? ini alasan kenapa dalam 1 kandang kami berikan sensor nya lebih dari 2, jadi dalam 1 lantai itu ada 6 sensor karena ada titik-titik yang harus kami lihat secara lingkungan. Ini berbeda sekali dengan sensor yang ada di kandang pada saat ini. Nah tujuan kita melakukan ini karena kita ingin melihat jauh lebih presisi dalam kandang,” kata Galuh.
Selanjutnya, Muchamad Aldi Rohmawan sebagai Product Owner dari BroilerX menjelaskan teknis cara monitoring lingkungan dan mengaktifkan notifikasi early warning.
“Untuk aplikasinya bisa diakses melalui dekstop apps, browser dan bisa diunduh juga di playstore.  Untuk monitoring lingkungan, bisa dicek di bagian dashboard pada menu utama. Kemudian, dari sini kita dapat membuat standar untuk pemberitahuan dini ketika terjadi perubahan lingkungan, sehingga nanti akan muncul notifikasinya. Ambil contoh jika dalam suatu kandang kita mengatur suhu maksimal 34 derajat dan minimal 30 derajat celcius, dan ketika suhu dalam kandang berada di bawah suhu maksimal atau melebihi suhu maksimal, maka akan muncul notifikasi di perangkatnya,” tutur Aldi.