Oleh: Teguh Ari Prabowo, S.Pt., M.Si*
Di Amerika Serikat konsumsi daging unggas mencapai 49,6 Kg per kapita per tahun. Maka tidak heran apabila Amerika Serikat menjadi negara adidaya saat ini. Perkembangan Peningkatan konsumsi protein hewani asal ternak dapat dimaknai juga sebagai upaya mengoptimalkan pangsa pasar domestik yang sekaligus juga merupakan simbol kebangkitan ekonomi kerakyatan. Maka sangat tepat apabila kemajuan peternakan unggas lokal dijadikan sebagai salah satu simbol kebangkitan ekonomi kerakyatan di tengah krisis pangan dunia.

Protein hewani sangat berperan penting dalam upaya menyehatkan dan mencerdaskan kehidupan bangsa, hal tersebut dikarenakan protein merupakan salah satu yang ikut turut membantu tumbuh kembangnya otak manusia. Oleh sebab itu di beberapa negara maju konsumsi proteinnya sangat tinggi sebut saja misalnya Amerika Serikat.

Kondisi peternakan unggas lokal di Indonesia
Jenis ternak unggas lokal di Indonesia yang mayoritas dipelihara oleh masyarakat adalah peternakan ayam lokal karena ayam lokal dapat hidup dan dipelihara dimana saja dan mempunyai pasar yang lebih besar. Populasi terbanyak kedua ialah itik yang pada umumnya yang merupakan ternakan dwiguna yaitu sebagai penghasil telur dan penghasil daging yang habitatnya berada di sekitar lingkungan berair, seperti persawahan. Adapun entok menempati populasi terkecil sebagai unggas lokal yang dipelihara masyarakat Indonesia pada umumnya, karena tidak banyak masyarakat memiliki entok, mungkin disebabkan oleh pasar entok ini juga terbatas.
Perlindungan dan pengembangan unggas lokal di Indonesia telah tertuang melalui Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Kemudian Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2011 tentang Sumber Daya Genetik. Kedua peraturan tersebut bertujuan untuk melindungi dan melestarikan sumber daya genetik lokal sehingga dapat bermanfaat untuk kehidupan masyarakat Indonesia.
Sektor peternakan unggas lokal sebagai kebangkitan ekonomi kerakyatan
Sektor usaha peternakan unggas lokal dapat dijadikan salah satu penggerak kebangkitan ekonomi nasional. Karena itu sejumlah hambatan di sektor ini harus segera diatasi agar peluang pertumbuhan ekonomi pada masa krisi pangan dan pasca pandemi Covid-19 ini bisa direalisasikan. Pertumbuhan sektor usaha peternakan unggas lokal merupakan bagian penting dalam upaya Indonesia untuk bangkit dari hantaman krisis pangan dunia dan pasca pandemi Covid-19 melalui pertumbuhan kinerja ekonomi.
Baca Juga: SDM Unggul Untuk Perunggasan yang Berdaya Saing
Hantaman perang Rusia-Ukraina dan pandemi Covid-19 menyebabkan para pekerja di sektor formal terdampak dan banyak yang beralih ke sektor UMKM. Salah satunya sektor peternakan unggas lokal agar mampu menyambung kehidupan. Fenomena tersebut, harus dimanfaatkan dengan berbagai upaya untuk memberi penguatan kepada peternak agar usahanya bisa berkelanjutan dan berkembang. Berdasarkan Pasal 33, UUD 1945, mengamanatkan agar Indonesia melalui Pemerintah dapat membangkitkan ekonomi rakyat yang merupakan sistem untuk mewujudkan kedaulatan masyarakat di bidang ekonomi. Melalui kebangkitan ekonomi kerakyatan di bidang peternakan unggas lokal, kondisi yang sulit saat ini mampu menjadi titik balik untuk mewujudkan kedaulatan ekonomi masyarakat Indonesia.
Hambatan mewujudkan ekonomi kerakyatan di sektor peternakan unggas lokal
Sejumlah pelaku usaha di bidang peternakan menilai Indonesia kurang memiliki kreativitas dalam menyikapi sejumlah hambatan di sektor usaha. Hal itu terlihat dari peringkat kemudahan berusaha Indonesia yang berada pada peringkat 110 dari 132 negara yang disurvei. Akibatnya, indeks entrepreneurship Indonesia berada pada posisi 94 dari 132 negara.
Melihat kondisi tersebut, perlu dilakukan sejumlah upaya untuk meningkatkan kreativitas dan semangat kewirausahaan masyarakat khususnya kepada generasi muda Indonesia. Demikian juga dengan perbaikan sejumlah kebijakan di sektor pertanian agar berpihak pada pengembangan sektor usaha peternakan rakyat, untuk mewujudkan kedaulatan ekonomi rakyat. Sehingga, potensi ekonomi di bidang peternakan yang dimiliki Indonesia tidak dimanfaatkan oleh bangsa lain.
Pemanfaatan teknologi digital
Pelaku usaha peternakan perlu memanfaat perkembangan teknologi digital, karena pada masa pandemi yang lalu teknologi digital mampu mengakselerasi pertumbuhan industri startup lewat pemanfaatan transformasi digital. sejumlah bisnis digital di sektor UMKM tumbuh dalam bentuk e-commerce, logistik dan transportasi, kesehatan, pariwisata dan fintech. Sektor peternakan unggas pun seharusnya memiliki potensi besar untuk dijadikan sebagai perusahaan ecommerce.
Namun, masing-masing bentuk usaha peternakan dalam bentuk pemanfaatan teknologi digital itu harus memiliki strategi pengembangan yang berbeda dengan usaha ecommerce lainnya. Sehingga, penting bagi para peternak startup untuk membangun dan meningkatkan literasi keuangan dan digital. Karena, hal ini menyangkut dengan persyaratan untuk mendapatkan permodalan.
Pembenahan sistem bantuan pemerintah
Banyak bantuan dana yang sudah diberikan oleh pemerintah ke sektor peternakan, tetapi mengapa efeknya belum terlihat jelas. Berbagai sebab dan alasan yang membuat bantuan tersebut tidak sesuai dengan harapan dan perencanaan salah satunya ialah karena dalam membangun bisnis yang dibutuhkan tidak hanya modal, tetapi juga perlu ide, tim, bisnis model, dan ketepatan waktu.
Faktor yang paling berpengaruh dalam keberhasilan sebuah bisnis adalah timing atau waktu yang tepat dalam melaksanakan bisnis tersebut. Selain itu, orang yang tepat melaksanakan bisnis tersebut dan ide bisnis harus divalidasi dengan kondisi pasar yang sesungguhnya. Agar bisnis yang direncanakan bisa berjalan dengan baik, masyarakat yang akan memasuki dunia bisnis dalam skala UMKM perlu mendapatkan pelatihan agar terjadi pertukaran pengalaman yang berharga sebagai bekal untuk menjalankan usaha. *Tim Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM yang sedang mengambil Gelar Doktor Ilmu Peternakan Di Fakultas Peternakan UGM