Peternakan layer memiliki disparitas harga yang lebih stabil dibandingkan ayam pedaging dalam beberapa waktu terakhir. (Sumber: National Geographic)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pandemi Covid 19 terbukti berdampak signifikan terhadap operasional peternakan ayam layer di Indonesia. Meskipun industri peternakan ayam layer memiliki disparitas harga yang lebih stabil, akan tetapi adanya inflasi maupun pembatasan sosial, terbukti beberapa kali membuat respon pasar terjadi fluktuasi secara signifikan. Merespon persoalan tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Peternakan UGM menyelenggarakan kegiatan webinar yang bertajuk “Dinamika Peternakan Layer Pasca Pandemi Covid-19” pada hari Sabtu (14/05) melalui platform ZOOM.
Iqbal Ali, mewakili Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak membahas mengenai regulasi perunggasan di Indonesia. Ia menyampaikan bahwa umumnya peternakan layer memiliki disparitas harga yang lebih stabil dibandingkan ayam pedaging.
“Peternakan layer memiliki disparitas harga yang lebih stabil dibandingkan ayam pedaging dalam beberapa waktu terakhir,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa regulasi yang dibuat oleh pemerintah adalah untuk mengedepankan kesuksesan peternak dalam mengelola farm-nya. Ia menjelaskan bahwa pemerintah berupaya selalu memudahkan dari aspek hulu maupun kehilirnya, seperti halnya pembuatan arahan berupa good farming system yang dapat dipraktekkan oleh peternak secara langsung.  
Baca Juga: Optimalisasi Pakan untuk Tingkatkan Produksi Broiler
“Peternak perlu dalam mengedepankan Good Farming System, oleh karena itu pemerintah memberikan arahan kepada peternak agar sukses dalam mengelola farm-nya,” tambahnya.
Ali Agus, selaku Dosen Fakultas Peternakan UGM menjelaskan mengenai keilmuan dan teknis berbudidaya ayam layer. Menurutnya, pokok persoalan pangan di Indonesia akan selalu memiliki demand (permintaan) yang tinggi. Dengan adanya hal itu, ia percaya bahwa farming/kegiatan budidaya atau berwirausaha peternakan masih potensial.
“Persoalan pangan di Indonesia tidak akan berhenti, sehingga dengan adanya hal itu sektor peternakan dan pangan memiliki potensi yang tinggi,” jelasnya.
Ia menyampaikan bahwa kondisi aktual pasca pandemi seperti saat ini adalah sebuah tantangan yang harus segera diatasi. Menurutnya, adanya kompetisi di dunia ayam layer/layer membuat peternak harus dengan cepat beradaptasi.
“Proses pemulihan peternakan ayam layer di Indonesia pasca pandemi dilakukan oleh industri peternakan skala besar dan kecil. Hal ini memungkinkan akan terjadi kompetisi dalam tataniaga-nya. Apabila peternak tidak dapat dengan cepat beradaptasi, maka bisa dipastikan akan kalah dalam persaingan,” imbuhnya.
Yudianto Yosgiarso, Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional, Ia menyampaikan mengenai revitalisasi peternakan rakyat ayam petelur untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Ia menjelaskan bahwa adanya pandemi Covid-19 memberikan pukulan tersendiri bagi peternak rakyat di Indonesia.
Ia menambahkan bahwa adanya persaingan di dalam tata niaga membuat peternak rakyat mengalami kesulitan dalam menjangkau pasar. Dalam hal ini, ia bersama dengan asosiasi mengadakan sebuah rembuk nasional meminta bahwa peternak rakyat petelur agar mendapatkan jaminan dan perlindungan daripemerintah baik dari sisi budidaya maupun penjualan.