Mochammad Fahmi Habibi
Oleh : Mochammad Fahmi Habibi*
Belanda merupakan salah satu negara di Eropa bagian barat dengan luas wilayah sekitar 40.000 Km2 yang mampu menjadi negara pengekspor hasil pertanian dan sub sektornya menjadi nomor dua di dunia setelah Amerika Serikat. Negara ini juga dikenal karena keunggulan dalam efisiensi sektor industri peternakannya, salah satunya adalah sektor perunggasan. Dengan luas daratan yang cukup terbatas, negara yang dijuluki sebagai negara tulip ini mampu memproduksi daging ayam sebesar 1 juta ton dan telur sebesar 11 miliar butir setiap tahunnya.

Pengelolaan sumber daya manusia melalui pendidikan yang inklusif dan terbuka merupakan suatu kunci dalam terwujudnya suatu sistem produksi perunggasan yang memadai, unggul dan maju

Karena surplusnya produk unggas ini, selain bisa memenuhi kebutuhan dalam negerinya untuk 17 juta penduduk, Belanda juga mampu mengekspor 60% dari total produksi daging dan telur ayamnya ke luar negeri. Jerman adalah pangsa pasar paling besar, disusul dengan suplai Belanda ke negara-negara di Asia dan Afrika. Bahkan pada tahun 2012, kontribusi telur ayam dari Belanda mencapai 12% dari total ekspor telur di dunia. Surplus produksi unggas ini menyumbang pemasukan yang cukup fantastis bagi Belanda yaitu sebesar 2.6 miliar Euro untuk daging unggas dan 900 juta Euro untuk telur.
Nilai ini tentunya tidak dicapai dengan mudah, mengingat pada tahun 2000 terjadi pandemi flu burung yang menyebabkan pengurangan populasi unggas besar-besaran di Belanda. Wabah tersebut menyebabkan kematian 30 juta ekor ayam yang membuat banyak bisnis unggas memilih untuk gulung tikar. Akibatnya, produksi unggas nasional di Belanda menurun sebesar 25%. Namun, setelah 13 tahun, negeri ini berhasil bangkit dan bisa memenuhi kebutuhan daging ayam (200%) dan telur (330%) di dalam negeri. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana negara yang memiliki 4 musim dan keterbatasan lahan ini bisa menjadi salah satu raksasa industri perunggasan di daratan Eropa.
Profil industri perunggasan di Belanda
Salah satu hal yang diunggulkan oleh Belanda dalam realisasi industri perunggasan adalah letak geografisnya yang memudahkan untuk ekspor produk-produknya ke negara-negara tetangga seperti Jerman, Belgia, Swiss, Prancis, dan Inggris. Strategi yang diimplementasikan Belanda adalah melokalisasi persebaran farm ayam pedaging dan petelur dengan cukup merata, sehingga memudahkan dalam distribusinya menuju negara-negara tetangga.
Baca juga : Kebijakan Pemerintah Taiwan Mengenai Impor Unggas Tahun 2020
Secara umum, hampir setiap rantai sektor industri ayam pedaging dari hulu ke hilir di Belanda mirip dengan Indonesia, yang terdiri atas farm produsen parent stock dan final stock, penetasan telur, farm pemeliharaan dan pemeliharaan final stock, rumah potong ayam, dan pengolahan produk daging ayam. Namun, yang membedakan adalah Belanda memiliki farm spesifik yang memproduksi pure breeding lines di awal rantai yang berkonsentrasi pada aspek kekuatan tulang dan konversi pakan untuk menghasilkan bibit ayam yang kuat dan efisien. Selain itu, di akhir rantai sektor terdapat sistem tracing dan tracking yang memfasilitasi konsumen untuk melacak dan mengetahui asal daging dan telur ayam yang mereka beli. Dengan demikian, konsumen dapat dengan mudah mendapatkan transparansi kualitas produk yang mereka konsumsi. *Mahasiswa Doktoral Jurusan Animal Nutrition, di Universitas Wageningen Belanda, dan Dosen di Fakultas Peternakan UGM
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2021 dengan judul “Urgensi Pendidikan dalam Kemajuan Industri Perunggasan di Negeri Kincir Angin”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153