POULTRYINDONESIA, Jakarta – Jagung merupakan salah satu tanaman palawija utama di Indonesia. Selain sebagai bahan pangan untuk manusia, jagung juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan pakan ternak. Hal ini berimplikasi pada peran petani dan peternak, sehingga diperlukan kebijakan-kebijakan yang mendukung kemajuan keduanya secara proposional.
Hal ini sangat diperlukan karena dengan adanya keseimbangan yang efektif dan efisien maka dapat menciptakan ekosistem yang harmonis serta terwujudnya ketahanan pangan dan meningkatkan ekonomi nasional. Merespon hal tersebut, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) mengadakan Forum Group Discussion Nasional dengan topik “Transformasi Industri Jagung Nasional untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan dan Peningkatan Ekonomi Nasional”, yang diselenggarakan secara daring melalui aplikasi Zoom, Kamis (6/10).
Dalam sambutannya, Arif P. Rahmat selaku Wakil Ketua Umum Bidang Pertanian Kadin mengatakan bahwa produksi jagung nasional dari tahun ke tahun mengalami pertumbuhan yang positif, hal ini mengindikasikan bahwa motivasi petani jagung juga tinggi. Meski demikian, masih banyak tantangan yang dialami oleh petani jagung, baik dari meningkatkan produktivitasnya dan menerapkan pola pertanian yang berkelanjutan.
“Mayoritas jagung yang diproduksi dalam negeri saat ini adalah sebagai bahan baku utama industri pakan ternak unggas. Di mana ayam adalah sebagai bahan pangan sumber protein utama bagi masyarakat kita. Melihat kendala yang ada, Kadin Indonesia mengembangkan skema inklusif close loop dalam pengelolaan rantai pasoknya. Skema ini menempatkan kelompok petani di pusat ekosistem bisnis. Di mana petani mendapatkan kemudahan berbagai akses, mulai dari akses finansial, kebutuhan sarana produksi, dukungan pemerintah, hingga akses pemasaran hasil produksi kepada para offtaker. Kami juga sungguh mendukung dan memuji keberhasilan program swasembada jagung, mengingat sudah 3 tahun belakangan ini tidak ada impor jagung untuk bahan pakan ternak,” kata Arif.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan turut bahagia kala Indonesia tidak lagi mengimpor jagung untuk kebutuhan pakan ternak unggas terhitung dari 3 tahun terakhir. Dari kebijakan tersebut ia berharap bahwa produktivitas jagung harus tetap dikembangkan untuk mempertahankan kuantitas dan kualitasnya sebagai bahan baku pakan.
“Bapak Presiden telah memberikan arahan untuk meningkatkan produksi dengan membuka lahan baru dan juga menggunakan bibit unggul. Menindaklanjuti hal tersebut, pemerintah akan fokus pada beberapa kunci sasaran yaitu pengamanan pasokan kebutuhan dalam negeri. Berdasarkan data USDA tahun 2022, produk jagung Indonesia sebesar 34,4 juta ton. Kita patut bangga karena 3 tahun terakhir kita sudah tidak ada mengimpor jagung untuk kebutuhan bahan baku ternak. Jagung yang diproduksi di dalam negeri diharapkan bisa berkurang kadar aflatoksinnya dari 20 ppm, karena apabila lebih tinggi dari 20 ppm akan ada keterbatasan dalam penggunaan pakan ternak,” ucap Airlangga.
Dalam materinya, Prof. Dr. Ir. Risfaheri, M.Si. selaku Kepala Biro Perencanaan, Kerjasama, dan Humas Badan Pangan Nasional atau National Food Agency (NFA) mengatakan bahwa produksi jagung nasional sepanjang tahun 2022 akan mengalami surplus. Walaupun terdapat beberapa bulan yang mengalami defisit akibat tidak berada pada puncak panen, dari bulan April sampai Agustus.
“Berdasarkan data Kementan dan BPS, produksi jagung nasional kita sampai akhir tahun ini masih mengalami surplus sebesar 2,5 juta ton. Kalau dilihat dari produksi perbulannya, memang ada beberapa bulan yang mengalami defisit, dengan begitu kita harus menutupi kekurangan tersebut dari pasokan yang surplus pada bulan-bulan sebelumnya,” ujarnya.
Baca Juga: Terdampak Operasi Pasar, Peternak Ayam Jatim Melakukan Demo
Lebih lanjut, Risfaheri mengatakan, secara perkembangan harga, di tahun 2022 ini memang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Harga di tingkat petani, terdapat beberapa daerah yang memiliki dibawah harga acuan. Hal yang sama dirasakan oleh peternak sebagai konsumen, yang mana terdapat beberapa daerah yang memiliki harga jagung diatas harga acuan.
“Kalau kita lihat dari sebaran produksi jagung nasional kita, memang produksi itu terkonsentrasi di beberapa daerah. Produksi jagung itu terkonsentrasi di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Barat. Kalau dilihat juga, sebaran industri pakan ternak sebagian besar ada di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah, inilah yang menjadi problem kita,” lanjut Risfaheri.
Masih dengan Risfaheri, dalam upaya menstabilkan harga jagung, baik dari tingkat produsen maupun peternak, ia mengungkapkan bahwa NFA telah melakukan mobilisasi antar wilayah melalui fasilitasi biaya distribusi maupun skema business to business selama bulan Maret sampai September 2022. Upaya ini dilakukan untuk memastikan stabilisasi pasokan dan harga jagung antar wilayah dan antar waktu.
“Kita telah melakukan mobilisasi jagung antar wilayah, seperti mobilisasi pasokan jagung dari NTB ke lokasi sentra produksi ternak unggas, terutara peternak mandiri yang berada di Pulau Jawa. Upaya ini sangat membantu untuk menstabilkan harga jagung yang berada diluar acuan. Dengan begitu, peternak diharapkan dapat menjual ternaknya berdasarkan harga acuan yang telah ditetapkan,” ungkap Risfaheri.
Sementara itu, Bustanul Arifin selaku Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) menyampaikan bahwa jagung sangat memberikan dampak kepada kegiatan usaha peternakan unggas. Pasalnya, jagung sebagai bahan baku pakan ternak unggas memenuhi sekitar 50-60% dari total formulasi ransum.
“Pemanfaatan jagung di Indonesia kebanyakan diserap oleh industri pakan ternak unggas yakni sebesar 66,37%. Sedangkan untuk pangan, hanya terserap sebesar 33,63%. Masalah yang dihadapi oleh peternak ialah terkait fluktuasi harga jagung yang disebabkan oleh kebutuhan yang tidak sesuai dengan produksi jagung di suatu tempat, sehingga betergantungan pasokan jagung dari luar daerah,” tuturnya.
Ia pun mengusulkan tranformasi bisnis, di mana petani jagung perlu didekatkan dengan industri pakan dan pelaku peternakan untuk membangun suatu korporatisasi atau sistem agribisnis yang komprehensif. Kemudian, peternak mandiri dapat membentuk atau bergabung koperasi peternak dan bahu-membahu meningkatkan kinerja koperasi. Dengan ini, integrasi horizontal peternak mandiri perlu berposisi untuk hidup berdampingan dengan integrator vertikal dalam membangun industri perunggasan yang tangguh, berintegritas, menembus pasar global dan berkompetisi sehat.
“Saya mengusulkan untuk industri peternakan, kalau bisa terdapat integrasi horizontal, dimana para pelaku usaha saling bersinergi. Kalau peternak bisa membentuk koperasi yang kuat, mungkin pemerintah hanya tinggal memfasilitasi suatu konsolidasi perusahaan pakan mandiri, sehingga nanti menjadi elemen dari Kadin. Setelah itu kita dapat fokus ke teknologi inovasi pakan,” pungkas Bustanul.