Keamanan pangan asal unggas tentu menjadi hal yang mendasar bagi keberhasilan ekspor bahan pangan asal Selandia Baru
Oleh: drh. Istianah Maryam Jamilah*
Industri unggas komersial Selandia Baru memiliki status kesehatan tinggi yang unik di mana Avian Influenza (HPAI) dan penyakit Newcastle Disease (ND) yang sangat patogen belum pernah didiagnosis, dan program untuk memberantas penyakit bursal menular (IBD) hampir selesai (Brooks, 2003; Gerber, 2008; Lockhart dkk, 2010).

Selandia Baru telah lama dikenal sebagai penghasil produk asal hewan yang berkualitas tinggi. Keamanan pangan asal unggas tentu menjadi hal yang mendasar bagi keberhasilan ekspor bahan pangan asal negara tersebut. Selain bertujuan untuk memantau kesehatan unggas hidup, program ini bertujuan untuk melindungi unggas dari penyakit yang berpotensi menimbulkan kerugian material yang besar untuk peternak dan negara.

Surveilans terhadap penyakit pada unggas sangat penting dalam mendeteksi dan mencegah munculnya penyakit eksotik dan endemik yang akan membahayakan kesehatan hewan dan manusia. Kementerian Industri Primer atau Ministy of Primary Industries (MPI) memiliki program dan sistem untuk memastikan bahwa daging dan produk hewani asal unggas aman untuk dikonsumsi di dalam negeri serta untuk tujuan ekspor.
Usaha surveilans penyakit unggas di Selandia Baru
Surveilans yang dilakukan di Selanda Baru mencakup surveilans aktif dan pasif. Surveilans aktif dilakukan dengan cara pengambilan sampel dan pemeriksaan postmortem, sedangkan surveilans pasif dilakukan dengan mengumpulkan melalui umpan balik atau feedback dari karyawan industri seperti para supervisor dan peternak broiler, yang dilatih untuk melaporkan variasi dalam kesehatan hewan (Brooks, 2003),
Agen penyakit yang rutin dilakukan monitoring pada kawanan/flock adalah: Gumboro atau Infectious Bursal Disease (IBD), Newcastle Disease (ND), mikoplasma, coccidiosis, Salmonella, Escherichia coli dan Campylobacter. Pengujian berkelanjutan juga dilakukan untuk Avian leukosis sub grup J. Untuk monitoring Salmonella, pakan unggas dan lingkungan peternakan dimonitoring secara teratur. Khusus untuk surveilans IBD, program ini diinisiasi oleh industri perunggasan dan merupakan program eradikasi didanai yang menguji semua peternakan unggas komersial di Selandia Baru.
Baca Juga: Menelisik Kasus Gumboro di Selandia Baru
Pada tahun 2016 sampel pakan ayam, kotoran, debu, dan permukaan yang bersentuhan dengan telur diperoleh dari 28 peternakan unggas petelur telah diuji untuk mengetahui seberapa besar kadar Salmonella dalam sampel (Kingsbury, 2018). Peternakan yang disurvei mewakili berbagai peternakan telur komersial Selandia Baru dan termasuk unggas yang di pelihara secara bebas atau free-range, kandang konvensional, kandang koloni, dan didalam kandang peternakan.
Pemantauan, pengawasan, dan pengujian produk daging dan hewan
Semua pengujian ekspor berbasis laboratorium di Selandia Baru harus dilakukan di laboratorium-laboratorium yang terakreditasi ISO 17025 oleh badan akreditasi Selandia Baru yaitu Akreditasi Internasional Selandia Baru (International Accreditation New Zealand IANZ) (MPI, 2017). Laboratorium-laboratorium ini diakui oleh MPI di bawah Program Laboratorium yang diakui negara. Metodologi pengujian yang dilakukan juga telah sesuai dengan standar manual dari Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan atau Office International des Epizooties (OIE Manual) (OIE, 2018). Hasil uji yang dilakukan laboratorium-laboratorium standar ini memungkinkan Selandia Baru untuk mempertahankan pernyataan bebas dari suatu penyakit dan memberikan kepercayaan pada mitra dagang untuk menerima ekspor dari Selandia Baru.
Selain itu, untuk memastikan keamanan pangan produk asal unggas, semua perusahaan pengolah utama daging unggas dan unggas tangkapan atau buruan diharuskan untuk mengambil bagian dalam program National Microbiological Database (NMD). Hanya orang yang berkompeten yang dapat melakukan pengambilan sampel NMD dimana karkas unggas diambil sampelnya di pabrik penyembelihan unggas (operator) dan sampel dikultur sesuai dengan program yang dilaksanakan NMD. *Koresponden Poultry Indonesia dan mahasiswa Master of Veterinary Studies, Massey University, Selandia Baru.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2020 dengan judul “Usaha Surveilans dan Keamanan Pangan Asal Unggas di Selandia Baru”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153