Sebagian besar kedelai Amerika digunakan untuk memenuhi sumber protein industri peternakan
POULTRYINDONESIA, Jakarta – US Soybean Export Council Regional Office untuk kawasan ASEAN mengelar webinar yang bertajuk Animal Protein Technical Broadcast. Acara yang digelar pada Selasa, (8/2) ini, dilaksanakan dalam rangka memberikan informasi terbaru  terkait supply dan demand produksi kedelai di Amerika Serikat, update  kualitas, serta masalah logistik. Acara broadcast kali ini merupakan acara pertama dari serentetan acara yang akan dilakukan pada minggu-minggu berikutnya. Edisi yang akan datang, membahas berbagai topik menarik terkait perkembangan ilmu nutrisi.
Baca juga : Komunitas Ayam Pelung di Jember Gelar Kontes Rutin
Dalam acara tersebut menghadirkan Mr. Jay O Neil, seorang konsultan dan pakar yang menguasai info perkembangan logistik terutama pengapalan curah, kontainer dan masalah yang dihadapi oleh para supplier komoditi di berbagai belahan dunia. Menurut Jay O Neil China adalah konsumen terbesar pengguna jasa kapal curah dan kontainer, termasuk untuk mengangkut komoditi biji-bijian. Bahkan tahun lalu saja China tidak kurang mengimpor 100 juta ton kedelai baik dari Brazil, Amerika, dan Argentina.
“Meski dalam kondisi pandemi Covid-19, permintaan kontainer di pelabuhan Amerika justru mengalami peningkatan hingga 43 %. Sementara di sisi lain, justru sedang terjadi kekurangan buruh baik di pelabuhan maupun di gudang-gudang komoditi. Hal tersebut karena pekerja mereka lebih memilih tinggal di rumah akibat ketakutan terpapar Covid-19,” ungkap Jay.
Disisi lain Jay O Neil juga berharap agar di tahun 2022 ini, pertumbuhan ekonomi akan semakin membaik, dan mulai pertengahan tahun atau kuartal terakhir diharapkan masalah logistik berangsur pulih. Belajar dari pengalaman, ia juga berharap agar pelabuhan-pelabuhan ekspor akan menambah penggunaan teknologi yang bisa meningatkan produktivitas.
Masih dalam acara yang sama, Dr. Seth Naeve, seorang Profesor Agronomy dan Perbenihan dari Minnesota University, menjelaskan tentang kondisi terkini suplai kedelai dari Amerika baik jumlah panen, yields dan kualitas kedelai. Berdasarkan hasil survey  USDA-NASS per tanggal 12 Januari 2022, luas panen kedelai di Amerika tahun ini mengalami peningkatan sebesar 5 % menjadi seluas 35.0 juta hektar dengan yield 3.46 ton/hektar. Artinya, dari data tersebut menggambarkan peningkatan sebesar 27 kg/hektar, sehingga menghasilkan total produksi 120,9  juta ton atau ada peningkatan sebesar 5% dibanding tahun lalu.
Lebih lanjut Seth menjelaskan khusus di Amerika, prosessing plant yang mengolah kedelai untuk diambil minyaknya dan memperoleh hasil samping berupa bungkil kedelai sengaja dibangun di daerah-daerah yang dekat dengan sumber bahan bakunya yang bertujuan untuk kemudahan distribusi dalam memenuhi pasar domestik. Sebagian besar bungkil kedelai Amerika dikonsumsi di dalam negeri untuk memenuhi sumber protein bagi industri peternakan baik unggas, babi dan feedlot
“Untuk menguji kualitas bungkil kedelai yang dihasilkan, para pengolah kedelai itu umumnya menggunakan metode NIR agar memperoleh hasil yang seragam. Keunggulan dari bungkil kedelai Amerika dibanding origin lain adalah kandungan asam amino yang mudah dicerna dan kandungan sucrose yang lebih tinggi,” tutur Seth.
Secara terpisah berdasarkan keterangan dari pihak penyelenggara webinar, USDA secara rutin selalu melakukan survei yang dikirim kepada petani kedelai di berbagai negara bagian. Mengutip dari Dr Mateos Gonzales berdasarkan laporan kualitas dan hasil panen kedelai Pada tanggal 10 Desember 2021 lalu, sebanyak 1.486 lembaran survei telah dikirim balik untuk dianalisis. Hasilnya, tidak semua bungkil kedelai yang dihasilkan oleh negara produsen sama. Daerah yang mendekati garis khatulistiwa dengan paparan sinar matahari akan menghasilkan kedelai yang memiliki kandungan protein sedikit lebih tinggi dibanding kedelai yang ditanam di wilayah yang jauh dari garis khatulistiwa, sehingga lebih sedikit mendapat paparan sinar matahari.