Oleh: Mirna Ice Ramandhani*
Berkaca dari awal tahun 2022, Indonesia memiliki intensitas curah hujan yang tinggi yaitu berkisar antara 2.000-3.000 mm per tahun. Dilansir dari informasi dan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) curah hujan cukup tinggi akan terjadi pada tahun 2022, yaitu sebesar 2.500 mm per tahun. Curah hujan yang tinggi tentunya akan menjadi tantangan besar bagi peternak broiler.

Penyakit malaria merupakah salah satu penyakit di kala musim hujan yang kehadirannya ditakuti oleh peternak broiler, dilihat dari tingkat mortalitasnya yang berkisar antara 3-8%

Intensitas curah hujan yang tinggi akan menyebabkan kelembaban semakin tinggi, sehingga meningkatkan perkembangbiakan nyamuk dan lalat menjadi semakin cepat. Nyamuk dan lalat merupakan vektor penular penyakit malaria pada unggas, khususnya broiler. Nyamuk akan mencari tempat perkembangbiakan berupa genangan air dan semak belukar di sekitar kandang.
Dengan kata lain, kandang yang memiliki lingkungan kurang bersih akan menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk dan lalat penyebab penyakit malaria. Hal yang perlu diketahui bahwa seringkali di lapangan peternak mengira bahwa penyakit malaria berasal dari infeksi virus, padahal parasit dengan virus merupakan organisme yang berbeda.
Tingkat mortalitas penyakit malaria pada broiler cukup bervariasi, yaitu berkisar antara 3-8%, dan ini tentu membuat peternak cukup was-was ketika musim penghujan telah tiba. Malaria yang menyerang ternak broiler umumnya ditularkan oleh serangga vektor yakni nyamuk dan lalat melalui gigitan yang menyebabkan infeksi pada saluran pernafasan.
Infeksi penyakit satu ini sering kali ditandai dengan turunnya nafsu makan (feed intake) yang signifikan, lalu ditemui bintik-bintik merah di bagian dada, kulit dan paha. Apabila dilakukan nekropsi atau bedah bangkai, maka pankreas tampak muncul bintik-bintik merah. Hasil infeksi sekunder juga dapat diketahui dari usus yang tampak tidak elastis seperti semula.
Berdasarkan penyebabnya, malaria terbagi menjadi dua, yaitu penyakit malaria unggas yang disebabkan oleh Plasmodium gallinaceum dan malaria like disease disebabkan oleh Leucocytozoon sp. Avian malaria atau biasa disebut juga malaria unggas ditularkan melalui vektor berupa Nyamuk Culex sp., Aedes sp., serta Anopheles sp. Nyamuk tersebut akan menghisap darah unggas yang terinfeksi, lalu nyamuk tersebut berperan sebagai vektor dalam penularan penyakit ke ayam yang berada dalam satu kandang.
Baca juga : Menilik Penyakit Salmonelosis pada Peternakan Ayam
Ayam yang terinfeksi biasanya bersifat non-symptomatis atau tidak memunculkan gejala klinis yang berarti. Infeksi yang ditimbulkan oleh plasmodium dalam sel darah merah ayam pedaging akan menyebabkan pH darah mengalami penurunan drastis, sehingga menyebabkan suplai oksigen menjadi berkurang.
Leucocytozoonosis atau biasa disebut malaria like disease merupakan penyakit yang ditularkan oleh vektor berupa lalat hitam atau Simulium sp. dan Culicoides arakawae. Ketika ternak broiler terinfeksi maka akan menyebabkan anemia berat, sehingga dapat menyebabkan hilangnya nafsu makan, bulu kusut dan pucat, dyspnoea, kaki pincang hingga yang lebih parah adalah mati mendadak. Gejala-gejala tersebut tentu dapat membuat peternak khawatir, pasalnya ternak yang terjangkit penyakit akan dengan mudah untuk menularkan kepada ternak yang lain.
Tak ayal bagi peternak untuk turut selalu memperhatikan penyakit yang satu ini, sehingga diperlukan pencegahan, pengendalian serta pemberantasan plasmodiosis ekstra untuk mengendalikan perkembangbiakan nyamuk dan lalat yang terdapat di sekitar kandang. Hal yang sangat mungkin dilakukan oleh peternak broiler adalah penerapan biosekuriti ketat pada setiap peternakan, dengan cara menerapkan sistem lalu lintas yang baik serta sanitasi dan desinfeksi di sekitar kandang.
Bisa juga dengan menyemprotkan minyak sereh ke sekitar kandang secara rutin, hal ini dapat meminimalisir adanya genangan air dan semak di sekitar kandang saat musim penghujan tiba. Dapat dilakukan juga pengendalian secara kimiawi dengan membasmi jentik nyamuk dengan bahan kimia tertentu, melakukan fogging dan penggunaan repelan. *Mahasiswa Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang